
Aku ingin menantang api yang telah merenggut nyawa kedua orangtuaku. Aku tidak ingin korban kebakaran merasakan kehilangan seperti yang kurasakan. Aku ingin menjadi pahlawan bagi mereka.
---
Hampir pukul sepuluh. Riko dan beberapa teman kampus yang lain baru saja pulang. Bara kembali rebahan, tapi sama sekali tidak berniat untuk tidur. Ia menunggu Rana. Berkali-kali ia mengecek ponselnya, mana tahu ada pesan dari Rana. Nyatanya tidak ada. Pasti masih di jalan. Bara juga sengaja tidak menghubunginya. Ia tahu, Rana kalau naik mobil paling anti main hape, katanya gampang mabuk.
“Tadinya aku pikir kamu sudah tidur.” Seseorang datang. Bara berharap itu Rana, tapi bukan.
Dira meletakkan kantong plastik berisi buah di atas nakas, lalu mengisi kursi kosong yang tersedia di samping ranjang Bara.
“Pake bawa buah segala. Kayak aku lagi sakit aja,” sambut Bara sambil tertawa ringan. Ia bangun dan duduk bertelekan di tepi ranjang.
“Lah, emang lagi sakit, kan?”
“Aku udah nggak apa-apa. Malah tadi udah mau pulang. Tapi kata dokter besok pagi aja.”
Sejenak hening.
“Aku baru tahu kamu pyrophobia.” Dira memulai topik yang memang cukup menyita rasa penasarannya sejak Rana mengatakannya di telepon tadi.
“Daripada phobia, aku lebih suka menyebutnya trauma. Emang sama aja, sih, tapi phobia terdengar lebih mengerikan. Aku berharap suatu saat bisa sembuh, dan menganggap api bukan lagi sesuatu yang menakutkan.” Bulu-bulu Bara berdiri saat menyebut kata “api”. Ya, separah itu.
“Trauma? Ada pengalaman buruk?”
Bara mengangguk. Ingatannya kembali ke masa kecilnya bersama Luna, di suatu sore yang tragis.
***
Sore itu Luna tampak sangat manis dalam balutan mini dress bermotif polkadot. Seperti biasa, setelah tidur siang sepulang sekolah, waktunya bermain. Luna menyeret Bara ke belakang rumah. Di sana ada rumah pohon yang kemarin baru selesai dibuatkan ayahnya. Ia minta tolong kepada Bara untuk menaikkan beberapa peralatan masak-memasak yang selama ini memang sering dimainkannya. Juga sebotol minyak tanah yang diselundupkannya dari dapur. Katanya, untuk meresmikan rumah pohon itu, ia akan memasak sesuatu untuk Bara. Tentu saja Bara tahu itu hanya lelucon. Mana bisa Luna masak? Selama ini yang disebutnya masakan hanya kumpulan daun-daun yang dipetik sembarangan, kemudian direbus hingga mendidih. Sama sekali tidak bisa dimakan. Kendati demikian, Bara tampak antusias. Sebab apa-apa yang dikerjakan bersama teman sedari lahirnya itu, memang selalu menyenangkan.
Berkat kerjasama yang baik, seluruh peralatan berhasil mereka naikkan ke rumah pohon berdinding tripleks yang tingginya tak lebih dari dua meter itu. Luna mengatur perabotannya. Bara menurut ketika disuruh ambil ini-itu. Setelah dianggap rapi, Luna bersiap untuk memasak. Berbekal setumpuk kertas, ia membuat api dalam tungku yang terbuat dari kaleng bekas. Setelah api berkobar, ia meletakkan panci yang sudah diisi air di atasnya. Sambil menunggu mendidih, ia menyiapkan bahan-bahan berupa aneka macam daun. Bara ikut mengiris daun-daun itu hingga berubah bentuk menjadi bagian-bagian kecil menyerupai mi. Setelah selesai, Luna cekatan memindahkannya ke dalam air yang mulai mendidih. Saat itulah bencana terjadi. Tangan Luna tidak sengaja menyenggol botol minyak tanah yang berada tepat di samping tungku. Isinya tumpah dan menyebar di permukaan lantai. Dalam sekejap api di dalam tungku langsung berpindah ke lantai, menjilat apa saja yang ada di sekitarnya.
Kedua bocah itu panik. Mereka merapat ke sisi kanan yang belum dijangkau api. Kepulan asap mulai memenuhi ruangan sempit itu. Mereka terbatuk-batuk. Luna bahkan sudah menangis sejak tadi. Bara menarik tangan Luna, mengajaknya untuk melompat ketika api semakin membesar dan panasnya mulai menjalar ke kulit mereka. Tapi Luna mengentakkan tangannya. Ia tidak berani lompat dari tempat setinggi itu. Maka, tanpa sempat membujuk lagi, Bara segera melompat menyelamatkan diri. Pendaratannya kurang mulus. Setelah membentur tanah cukup keras, tubuhnya berguling beberapa kali. Seketika ia merasakan punggungnya sakit. lututnya malah sudah berdarah. Pipinya juga tergores. Tapi Bara tidak memedulikan semua itu. Ia lekas berdiri dan mencoba meneriaki Luna untuk memintanya segera melompat.
Bentuk rumah pohon itu mulai tidak terlihat, nyaris ditelan api seutuhnya. Suara Bara mulai habis, tapi Luna belum juga melompat turun. Semakin panik, Bara akhirnya berlari pulang sambil teriak memanggil mama-papanya, juga mama-papa Luna. Atau siapa pun yang bisa menolong Luna keluar dari sana.
***
“Sayang sekali, kami terlambat.” Bara tertunduk pilu mengakhiri ceritanya. Matanya berkaca-kaca.
Dira ikut terenyuh, tidak menyangka kejadiannya setragis itu. Wajar jika sampai saat ini Bara masih trauma. Lelaki ini pasti menyimpan rasa bersalah yang teramat dalam karena merasa telah gagal menyelamatkan sahabatnya. Atau kalau saja ia tidak nekat melompat, setidaknya Luna tidak sendirian menemui ajal.
Sesaat hening. Dira seolah sengaja memberi waktu kepada Bara untuk menenangkan diri.
“Semua sudah ada yang mengatur. Setidaknya kamu tidak langsung meninggalkannya begitu saja. Kamu sudah berusaha menarik tangannya, kan?”
__ADS_1
Bara tidak merespons.
Dira mendesah pelan. “Saat menemukanmu beringsut di pojokan, kamu persis anak kecil yang takut disuntik.”
Tatapan Bara langsung bergeser ke wajah Dira.
“Kamu mendekap kedua lututmu erat-erat, lalu membenamkan wajah sedalam-dalamnya. Kamu sama sekali tidak peduli dengan teriakan petugas pemadam yang menanyakan di dalam ada orang atau tidak.”
“Jadi … kamu?”
“Bukan aku yang mendobrak pintunya. Aku nggak mungkin sekuat itu. Tapi aku yang langsung menyelinap ke dalam untuk mengeluarkanmu dari sana.”
Mau tidak mau saat-saat mengerikan itu kembali terputar di benak Bara. Bara ingat, seseorang memaksanya berdiri, lalu memapahnya untuk kemudian diseret keluar dari ruangan yang mulai dipenuhi asap yang muncul dari sela-sela plafon. Sebelum sempat tiba di luar, Bara pingsan, terkulai dalam rangkulan orang itu. Ia tidak ingat apa-apa lagi.
Bara cukup takjub setelah tahu, sang penyelamatnya adalah Dira.
“Pake acara pingsan segala lagi. Kamu kerempeng-kerempeng gitu tapi ternyata berat juga, ya?” Dira tertawa.
Sejenak mengabaikan rasa takjubnya, Bara ikut tertawa. “Thanks, ya!” ucapnya kemudian.
“Santai aja, itu memang tugasku.” Dira tersenyum. “Ternyata cara orang menghadapi kejadian buruk, beda-beda, ya?” lanjutnya.
“Maksudnya?”
Bara menggeser sedikit posisinya menghadap sepenuhnya ke Dira, seolah menyamankan diri untuk menyimak apa-apa yang akan dikatakan perempuan berjaket kulit itu selanjutnya.
“Tiga tahun yang lalu kedua orangtuaku meninggal dalam peristiwa kebakaran.”
Bara tersentak.
“Menurutku mereka masih bisa diselamatkan, kalau saja cara kerja para petugas pemadam yang terjun waktu itu lebih cekatan. Kelihatan sekali mereka tidak kompak, akhirnya berujung pada keputusan-keputusan yang tidak efisien.” Meski intonasi suaranya masih tegas, sepasang mata Dira sudah berkaca-kaca. “Mereka gagal menyelamatkan orangtuaku. Papa sempat meloloskan diri dari lingkaran api dan berhasil membawa Kevin keluar. Kemudian ia kembali ke dalam untuk menyelamatkan Mama. Nahas, Papa tidak keluar lagi.” Alih-alih meneteskan air mata, Dira malah tersenyum. Meski Bara tidak bisa menebak makna senyuman itu.
“Sejak saat itu aku bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran. Aku ingin menantang api yang telah merenggut kedua orangtuaku. Aku tidak ingin korban kebakaran merasakan kehilangan seperti yang kurasakan. Aku ingin menjadi pahlawan bagi mereka.”
“Dan kamu benar-benar berhasil menjadi pahlawanku,” sela Bara.
Dira tersenyum datar.
“Kamu benar-benar mirip Luna. Dia juga sering menolongku, meski pada akhirnya aku tidak bisa menolongnya.” Rasa bersalah itu kembali mencak-mencak dalam diri Bara. Entah kapan ia bisa meredakan sepenuhnya.
“Kamu jangan terus-terusan merasa bersalah, ya, Bar. Itu tidak akan mengubah apa-apa, selain membuat kondisimu semakin buruk.”
Bara mengangguk samar. “Terus, ayah Kevin, ke mana saat kejadian itu?” Sebenarnya Bara segan menanyakan hal ini, takut dianggap terlalu ingin tahu. Tapi mumpung Dira sendiri yang memulai berbagi, semoga tidak apa-apa.
“Maksudnya?” Dira sungguh tidak paham. “Ayah Kevin, ya, Papa jugalah.”
__ADS_1
Mata Bara membola. “Lah, kok?”
“Tunggu!” Dira mengangkat tangan dan menghadapkan telapaknya ke Bara. “Sepertinya selama ini kamu salah paham.”
Ekspresi Bara masih aneh, sempurna menginginkan penjelasan.
“Wajar kalau kamu menganggap Kevin adalah anakku, karena dia memang memanggilku mama. Semua yang baru kenal aku anggapannya juga sama, kok.” Tawa kecil Dira mengudara sesaat. Ini memang lucu, dan ia sudah sering mengalaminya. “Serius, Kevin itu adikku,” tegasnya kemudian.
Ajaib. Hanya dengan mendengar pengakuan itu, Rasa pegal dan perasaan tidak enak lainnya yang masih tertinggal di tubuh Bara, menguap entah ke mana. Ia seolah menemukan alasan baru untuk lebih giat dalam mengejar cita-cita. Seketika ia melihat pantulan masa depan di bening mata Dira.
“Kasihan Kevin, ia hanya punya aku, sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua yang sesungguhnya. Karena itu, aku tidak mempermasalahkan saat ia malah menganggapku mamanya. Toh, memang aku yang mengambil peran ibu untuknya selama ini. Semakin besar, ia mulai menanyakan kehadiran seorang papa. Ia sering melihat anak-anak lain digendong papanya, dan ia juga ingin merasakannya. Maka, atas inisiatif sendiri, ia memanggil papa ke siapa saja. Termasuk ke kamu, kan?” Dira kembali tertawa ringan.
Bara tersenyum lebar, kembali mengingat tingkah lucu Kevin waktu itu.
“Makanya, dia senang banget, tuh, kalau berhasil dapat perhatian seperti saat kamu ngajakin makan waktu itu.”
“Aku kaget, tau. Tiba-tiba ada anak kecil yang manggil papa.”
Kali ini tawa keduanya berbarengan.
“Dia memang tidak boleh seperti itu terus. Tunggu sampai ia bisa diajak bicara, aku harus menegaskan, bahwa aku ini kakaknya.
“Makanya, buruan cariin papa yang paten, biar nggak semua orang dipanggil papa,” seloroh Bara.
“Kamu pikir cari pasangan hidup semudah ngisi kuota?” Dira terkekeh lagi.
“Kalau kamu tidak keberatan, aku siap jadi papanya.” Bara tidak bermaksud melucu kali ini, terbukti dari ekspresi yang ditunjukkannya.
Seketika Dira meredam tawanya. “Apa, sih, Bar?” ujarnya sambil mengibaskan tangan dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Rana berdiri di depan jendela. Gadis itu sudah mendengar banyak hal, juga melihat interaksi mereka yang sedemikian akrab. Rana berbalik untuk pergi. Ia merasa tidak perlu lagi menampakkan diri. Toh, Bara sudah baik-baik saja berkat Dira.
Rana menyeka air mata yang tiba-tiba menghiasi kedua pipinya. Ia merogoh tas untuk mengambil ponsel. Ia ingin meghubungi Bian untuk minta tolong dijemput.
***
[Bersambung]
Assalamualaikum, pembaca yang budiman.
Aku mau tahu dong pendapat kalian setelah membaca sejauh ini. Komen, ya.
Makasih.
Salam santun 😊🙏
__ADS_1