
Rana belum pernah menerima sinyal apa pun berupa kemungkinan Bara juga akan merasakan hal yang sama. Ia murni mencintai sepihak. Dan ajaibnya, ia cukup bahagia dengan status sahabat yang menaungi mereka selama ini.
---
Pukul tujuh, Bian sudah bersiap untuk pulang. Ditemani Sakka dan Rana, ia sedang menikmati secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng. Bian tampak gelisah, ia mengetuk-ngetuk pinggiran meja dengan jari telunjuk. Sejak tadi malam ia kesulitan tidur karena memikirkan hal ini. Ia sudah merancang beberapa kalimat dengan cukup baik, sampai-sampai rasanya sudah menggantung di ujung lidah. Bila tidak dikatakan, sepanjang perjalanan pulang ia tidak akan tenang, atau malah menyesal selama berminggu-minggu ke depan.
Bian berdeham, lalu kembali melegakan tenggorokannya dengan isi cangkir di depannya yang tersisa setengah. Bian menegakkan punggung, lalu meremas jemari tangannya sambil mengisi paru-parunya dengan oksigen secukupnya.
"Bu, sekali lagi saya turut berduka. Semoga Ibu, Rana, dan segenap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan." Sebagai pembuka, kalimat barusan penuh kehati-hatian.
"Makasih, Nak Bian. Makasih juga karena sudah mengantar Rana pulang." Sakka tersenyum hangat. Matanya masih sembab.
"Bu, saya tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi ... saya tidak akan tenang jika tidak mengatakannya sebelum pulang."
Sakka mengernyit, terlebih Rana. Mereka menebak-nebak arah omongan lelaki jangkung berkulit putih di depan mereka.
"Saya mencintai Rana, Bu." Bian nyaris tercekat. Ia buru-buru menelan ludah dan berusaha kembali menguasai diri.
Deg!
Rana melongo dan merasakan udara di sekitarnya tiba-tiba memanas.
Sementara Sakka, pengakuan Bian serupa angin sejuk, serta-merta mengaliri hatinya yang masih berkabung. Sejak Bian mengenalkan diri kemarin, Sakka langsung menyukai pembawaan lelaki itu. Tidak buruk, bahkan dianggapnya sangat pantas untuk mendampingi Rana.
"Saya menginginkan Rana menjadi pendamping hidup saya."
Rana menunduk kian dalam.
"Jika Ibu tidak keberatan, saya akan membawa kedua orangtua saya ke sini untuk melamar Rana sesuai adat yang berlaku."
Secepat itu? Perasaan Rana semakin tidak keruan.
"Ibu bahagia sekali mendengarnya. Tapi, segala keputusannya Ibu serahkan ke Rana." Sakka menoleh ke arah putrinya sambil tersenyum.
Rana masih belum bisa mengangkat pandangannya.
"Gimana, Ran?" tanya Bian hati-hati.
Rana tidak bersuara.
"Nak ...." Sakka menyentuh pundah Rana.
Rana mendesah pelan, lalu menegakkan kepala dan melabuhkan tatapannya di manik mata lelaki yang sedang menunggu jawaban.
"Saya nggak harus jawab sekarang, kan, Pak? Saya butuh waktu."
Meski agak kecewa, pada akhirnya Bian tersenyum tidak mempermasalahkan.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit, Bu, Ran." Bian bangkit dari duduknya. Ia meraih tangan Sakka dan menyentuhkan ke keningnya.
"Hati-hati!" pesan Sakka.
__ADS_1
Kepada Rana, Bian hanya tersenyum sekali lagi. "Sampai jumpa di Makassar," katanya.
Rana membalas dengan senyum kaku.
***
Sepeninggal Bian, Rana mencoba menyibukkan diri dengan membantu ibunya membereskan seisi rumah, juga menyambut kerabat jauh yang baru sempat datang hari ini. Sorenya, Rana sibuk di dapur menyiapkan kudapan untuk pengajian nanti malam.
Semakin sore, kesibukan perlahan-lahan mulai surut. Pikiran Rana kembali dipenuhi oleh pernyataan Bian tadi pagi. Rana baru yakin, Bian benar-benar mencintainya. Sampai detik ini ia masih belum tahu harus memutuskan apa. Rana tahu persis, ibunya sangat menyukai Bian. Meski tidak diucapkan, perempuan berumur 54 tahun itu tentu sangat berharap Rana membalas perasaan Bian.
Tiba-tiba Rana teringat Bara. Lelaki itu janji akan menyusulnya sepulang kuliah. Jam segini biasanya kuliah Bara sudah selesai. Apakah ia sedang bersiap untuk berangkat? Atau malah sudah berangkat? Rana ke kamar ibunya untuk mengambil ponsel. Ia ingin menghubungi Bara. Bahkan setelah ada lelaki yang jelas-jelas serius mencintainya, perasaan Rana terhadap Bara belum bergeser sedikit pun. Tapi sampai kapan Rana harus berharap pada sesuatu yang tidak pasti? Ia bahkan belum pernah menerima sinyal apa pun berupa kemungkinan Bara juga akan merasakan hal yang sama. Ia murni mencintai sepihak. Dan ajaibnya, ia cukup bahagia dengan status sahabat yang menaungi mereka selama ini.
Rana duduk di tepi ranjang sambil mengecek ponselnya. Diabaikan setengah hari, banyak sekali panggilan tidak terjawab. Tapi anehnya, ada beberapa nomor tidak dikenal. Rana beralih ke WA, lagi-lagi menemukan belasan panggilan tidak terjawab dari Bian sekitar sejam yang lalu, serta sebaris pesan yang seketika membuat tangannya gemetar.
Bian_: Kosmu kebakaran dini hari tadi.
Rana langsung teringat Bara. Ia sangat mengkhawatirkannya. Tanpa menunda-nunda, Rana langsung menelepon Bara. Sambungan pertama tidak diangkat. Sambungan kedua sama saja. Rana bangkit dari duduknya, mondar-mandir di depan ranjang sambil memegangi kepalanya. Rana mulai frustrasi. Air matanya merembes begitu saja.
Tak ingin menyerah, Rana mencoba sekali lagi.
"Halo ...." Kali ini langsung diangkat di detik ketiga. Tapi suara perempuan, membuat Rana mengernyit.
"Siapa ini?"
"Saya Dira. Ini Rana, kan?"
Rana tidak menjawab. Kenapa ponsel Bara malah sama Dira?
"Iya, aku ingat, kok. Kamu lagi di mana? Kok, bisa sama Bara?"
"Ini lagi di rumah sakit."
"Rumah sakit?" pekik Rana. "Bara mana?"
"Bara lagi tidur, habis dikasih obat penenang. Maaf, terpaksa aku yang angkat telepon kamu. Kamu pasti khawatir banget, kan?"
"Lalu ...?" Rana tercekat. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang seolah berdesakan hendak keluar menuntut penjelasan. Bagaimana Bara sekarang? Apakah ia terkena api? Apakah ia terluka?
"Tim kami tiba di lokasi setelah beberapa unit sudah berada dalam lingkaran api. Api yang bersumber dari ledakan gas elpiji bergerak sangat cepat. Untungnya tidak ada korban jiwa. Hanya penghuni unit tempat api berasal yang menderita luka bakar ringan. Unitmu bahkan tidak tersentuh api. Sementara unit Bara, api baru menjalar di plafon teras dan pintu. Anehnya, bukannya lari, dia malah beringsut di pojokan."
"Bara pyrophobia," timpal Rana. "Ia bahkan tidak berani menyalakan korek," tambahnya dengan suara bergetar.
Di seberang sana, Dira manggut-manggut seakan mulai paham.
Rana sungguh kalut membayangkan perasaan Bara dalam kesendirian sementara api menjilati pintu unitnya. Tanpa sadar air mata Rana menderas. Sungguh, ia ingin segera balik ke Makassar untuk memastikan kondisi Bara.
"Jadi karena itu, dia jadi bertingkah aneh tadi? Bahkan sesekali tampak ingin berontak."
Ya, Tuhan. Rana sangat ingin berada di sisi Bara saat ini.
"Tapi kamu tenang aja. Kata dokter, dia cuma shock. Semoga saat bangun nanti dia udah nggak ketakutan lagi."
__ADS_1
"Kalau dia bangun, tolong bilangin, aku segara datang."
"Baik."
"Makasih, Dir. Assalamualaikum." Rana menutup sambungan telepon setelah Dira membalas salamnya.
***
Bara terjaga menjelang isya. Ia menemukan Bian di sisi ranjang saat berusaha mengenali tempatnya berada.
"Bagaimana keadanmu, Bro?"
Bara tersenyum lemah.
"Rana sedang di jalan. Dia langsung pesan mobil begitu tahu kabar ini. Tadi dia minta tolong sama aku untuk bawain kamu ini." Bian meraih kotak berisi mi goreng di atas nakas. "Katanya kamu suka banget sama mi goreng Mas Paijo di seberang kosan kalian." Bian membuka tutupnya. Aromanya langsung menguar. "Bangun, yuk, makan dulu."
Bara bangun pelan-pelan, hingga duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki menjuntai. Ia menerima kotak mi goreng yang disodorkan Bian.
"Atau mau aku suapin?" Bian sengaja memancing tawa Bara. Mukanya terlalu kusut soalnya.
"Ada-ada aja." Bara terkekeh ringan.
Sambil mengunyah suapan pertama, Bara teringat kosannya.
"Jadi kosannya hancur, gitu?"
"Aku belum sempat ke sana. Tapi katanya beberapa unit memang ludes. Beruntung, unitmu baru disambar bagian depan. Sementara unit Rana bahkan tidak tersentuh api sama sekali."
Bara sangat lega mendengarnya. Padahal tadinya ia sudah ikhlas kehilangan laptop dan semua proyek tulisan di dalamnya.
"Sebaiknya kalian pindah saja dari sana. Pengelolanya juga pasti butuh waktu untuk membangunnya kembali."
Bara memang berpikiran demikian. Tapi mencari kosan yang nyaman, murah, dan aman gampang-gampang susah.
"Nanti aku bantu cariin. Aku gabung di komunitas Pengusaha Muda Makassar, beberapa membernya pengelola kos-kosan. Kebetulan kami lumayan akrab."
Bara menanggapinya dengan senyum, lalu kembali menyantap mi gorengnya.
"Ya udah, aku balik dulu, ya. Masih ada urusan di toko. Pekerjaan Rana terpaksa aku yang handle dulu."
"Makasih, Bro."
"Habiskan makananmu, lalu istirahat lagi. Kamu harus pulih selincah dulu. Kamu jelek kalau duduk di ranjang rumah sakit seperti ini."
"Dasar!" Bara tertawa.
Bian menepuk pelan pundak Bara sebelum keluar dari bangsal itu.
***
[Bersambung]
__ADS_1