
"Tolak ukur sebuah kesuksesan tidak melulu soal hasil, tapi lebih kepada rasa bahagia yang menghuni hati secara permanen."
---
Sepanjang sisa perjalanan, Rana disibukkan oleh monolog dalam kepalanya. Tentang pengakuan Bara yang tidak masuk akal, tentang ekspresi bahagianya kini. Sesekali Bara masih menyanyikan lagu Menyimpan Rasa yang dipopulerkan oleh Devano Narendra, dengan nada yang semakin kacau. Kali ini Rana sama sekali tidak berminat menegurnya.
Setibanya di kos, Rana langsung turun dari motor dan berjalan ke arah pintu unitnya. Sama sekali tidak ada basa-basi atau sekadar ucapan terima kasih seperti biasanya.
"Kamu kebelet, ya?" Pertanyaan Bara sukses menghentikan langkah Rana. "Buru-buru amat."
Rana menoleh sambil tersenyum lemah. Ia menyandarkan punggungnya di daun pintu yang belum sempat dibukanya. Entah, kenapa juga ia harus terkesan menghindar seperti ini? Kenapa baru sekarang? Padahal selama ini nama Luna memang selalu ada hampir di semua ucapan Bara. Mungkin karena Rana merasa Bara sudah keterlaluan. Antara cemburu dan khawatir sahabatnya itu mengalami gangguan kejiwaan bercampur jadi satu.
"Kamu nggak penasaran aku ketemu Luna di mana?"
Nah, itu yang membuat Rana mendadak pendiam sore ini. Mendengar nama itu lagi, Rana hanya bisa mendesah pasrah. Tapi kali ini ia tidak tahan untuk tidak berkomentar.
"Maksudnya, kamu ketiduran di kampus, terus mimpiin Luna lagi, kan?"
Merasa perlu lebih serius menjabarkan maksudnya, Bara menurunkan standar samping motornya, lalu merapat ke sisi Rana.
"Nggak akan ada sejarah seorang Bara ketiduran di kampus. Aku ini mahasiswa teladan, meskipun nilainya selalu pas-pasan."
"Terserah, deh!" Rana mengibaskan tangan. "Terus?" lanjutnya dengan kedua alis terangkat.
"Tadi pagi aku kehabisan bensin, terus--"
"Astaga!" Rana langsung memotong ucapan Bara. "Kok, bisa seceroboh itu? Kan--"
"Sssttt ..." Bara menempelkan telunjuk di depan bibir. "Ini bukan waktunya ceramah," katanya. Dan Rana mau-mau saja menurut dengan langsung menelan kembali sisa kalimatnya, mempersilakan lelaki di depannya melanjutkan ceritanya.
"Intinya, cewek yang nolongin aku mirip banget sama Luna."
Rana mengernyit. "Emang kamu masih ingat persis wajah Luna?"
Bara mengangguk mantap. Tapi detik selanjutnya ia malah mengangkat tangan dengan posisi telapak menghadap ke Rana, isyarat akan mengklarifikasi sesuatu.
"Maksudku bukan ke fisik, sih. Tapi lebih kepada ..." Bara tampak berpikir. Bola matanya berputar sejenak. "... sikap melindungi yang juga saya rasakan saat bersama Luna dulu."
"Luna juga sering ngasih kamu bensin?" Selain pura-pura bego, Rana tidak tahu harus merespons seperti apa.
Bara menghela napas sambil memegang kedua pundak Rana, memastikan tatapan mereka bertemu.
"Banyak orang di jalan itu, mereka lihat aku, tapi tidak ada yang peduli. Hanya cewek itu yang tergerak untuk menegur, lalu mau repot-repot mencarikan bensin sampai nekat lawan arah segala."
Rana bingung, kenapa rasanya harus setidakmenyenangkan ini? Kesungguhan yang diperdengarkan Bara menghantarkan ketidakrelaan yang memantul secara brutal dalam hatinya. Kenapa harus cewek itu? Apakah yang dilakukan Rana selama ini sama sekali tidak ada artinya dibanding sebotol bensin?
"Lalu kalian kenalan? Atau jangan-jangan sudah tukaran nomor WA?" tebak Rana, alih-alih menginginkan obrolan itu cepat berakhir. Ia ingin segera masuk ke unitnya, lalu menikmati rasa sakit yang kembali menyepuh hatinya perlahan-lahan.
Bara melepas pundak Rana saat menyadari satu hal. "Astaga!" Ia tepuk jidat. "Aku lupa tanya namanya. Lebih tepatnya tidak sempat. Ia tampak buru-buru."
__ADS_1
Rana hanya geleng-geleng sambil memaksakan tersenyum. "Nggak usah terlalu dipikirin. Kalau memang menurut Tuhan cewek itu yang paling pantas menggantikan posisi Luna, kalian pasti akan dipertemukan kembali." Rana menepuk pelan pundak Bara. "Aku masuk, ya," pamitnya kemudian.
Bara mengangguk.
***
Bian mendapati mamanya tampak serius mengerjakan sesuatu di ruang tengah.
"Lagi apa, Ma?" tanyanya sambil ikut mengenyakkan diri di sofa panjang yang diduduki Darma, mamanya.
"Ini, lagi ngecek ulang daftar panti asuhan yang akan Mama undang di acara syukuran ulang tahun pernikahan kami minggu depan. Kalau sampai makanannya kurang, kan, malu."
Bian hanya ber-o tanpa suara.
"Tokomu gimana?" Darma menyudahi kesibukannya, memutar badan sedikit meghadap putranya.
"Alhamdulillah, lancar. Sejauh ini nggak ada masalah yang terlalu menghambat."
"Syukurlah. Mama lega sekaligus bangga. Kamu bisa membuktikan, bahwa pilihanmu tidak salah."
Bukan tanpa alasan Darma berkata seperti itu. Pasalnya, sebagai pewaris tunggal perusahaan keluarga, Bian tinggal pilih mau mengisi posisi apa untuk terlibat mengembangkan bisnis dealer sekaligus bengkel resmi yang berada di bawah naungan salah satu produsen otomotif ternama dari Jepang milik papanya. Tapi setelah kuliahnya selesai, Bian malah memilih jalur lain. Ia tidak ingin disebut numpang kaya sama orangtua. Ia ingin mandiri, merintis kesuksesannya sendiri benar-benar dari bawah.
Saat Bian menyampaikan keinginannya untuk membuka toko bunga, kedua orangtuanya sempat sangsi. Siapa yang menyangka putra tunggal mereka memiliki ketertarikan pada sesuatu yang sangat identik dengan kaum hawa? Hal ini pula yang mendasari mereka tidak langsung menyetujui. Mereka khawatir Bian akan menuai cibiran terkait pilihannya. Selaku orangtua, mereka hanya ingin yang terbaik.
Tekad Bian bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, terlebih latah karena sedang musimnya. Idenya muncul sejak ia masih kuliah. Berawal dari ketidakpuasaan saat ia belanja buket bunga untuk dosennya yang sedang sakit waktu itu di sebuah toko bunga. Dari situ ia kepikiran, suatu saat akan membuka toko bunga yang tidak hanya mengutamakan kualitas produk, tapi juga pelayanan. Zaman sekarang acara yang butuh bunga semakin beragam, sementara toko bunga di Makassar masih sangat terbatas. Belum lagi beberapa tampak lesu dan sama sekali tidak berniat melakukan terobosan agar dilirik calon pelanggan. Dari sini Bian melihat peluang.
"Selama direstui, saya akan berjuang keras untuk membuktikan ke Papa-Mama."
"Pembuktianmu sudah lebih dari cukup. Bagi Mama, tolak ukur kesuksesan bukan dari hasil, tapi dari sini." Darma meletakkan telunjuk di dada putranya. "Jika hatimu tenang, bahagia, merasa cukup, berarti kamu sedang memeluk kesuksesan itu."
Bian meraih tangan yang tadi menunjuk dadanya, lalu menggenggamnya lembut. "Makasih, Ma ...," lirihnya.
Senyum keibuan Darma mengudara, menghangatkan, menenangkan.
"Tapi ... boleh, dong, Mama minta hal lain dari kamu?"
Bian mengernyit. Rasa-rasanya ia tahu akan mengarah ke mana maksud terselubung mamanya.
"Kapan kamu bawa calon menantu untuk Mama?"
Bian menghela napas panjang. Dugaannya benar. "Untuk urusan yang satu ini tentu saja tak semudah buka toko, Ma. Karena segala persiapannya dari sini." Giliran Bian yang meletakkan telunjuk di dadanya.
"Padahal anak teman-teman Mama banyak yang cantik, terpelajar, karier bagus, kurang apa lagi coba? Kamu tinggal pilih mau yang mana, nanti Mama kenalin."
Bian kembali meraih tangan mamanya, menggenggamnya seperti tadi. "Ma, perempuan yang akan menjadi menantu Mama, adalah perempuan yang akan mendampingi hidup saya di saat suka maupun duka. Jadi tidak cukup kalau baru Mama aja yang suka."
"Ya terus, kapan ada perempuan yang kamu suka terus dikenalin ke Mama?"
"Ada, kok."
__ADS_1
"Sungguh?" Senyum antusias seketika merekah di wajah Darma. "Siapa?" desaknya. "Pegawaimu itu?"
Bian mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu.
"Pas Mama mampir ke toko dan kebetulan kamu sedang keluar waktu itu, dia nemenin Mama ngobrol. Anaknya sopan. Mama juga suka, kok."
"Berarti Mama nggak keberatan, kan?"
"Kenapa kamu berpikir Mama akan keberatan? Karena dia cuma pegawaimu?"
Bian tampak ragu menjawab.
"Justru Mama suka perempuan pekerja keras seperti dia."
Seketika kelegaan terpancar dari sorot mata Bian.
"Mama tidak akan mempermasalahkan siapa pun perempuan yang kamu pilih. Yang penting seagama dan siap menerima kamu apa adanya, serta mendampingimu berjuang di jalan Allah."
Keharuan menyeruak di hati Bian. Selaput bening melapisi bola matanya. Ia sangat bersyukur memiliki ibu seperti Darma, yang selalu memberikan dukungan penuh dalam bentuk apa pun.
"Kalau kamu sudah yakin, ayo bergerak cepat. Temui keluarganya. Jangan sampai kamu keduluan sama orang lain."
Raut wajah Bian berubah drastis.
"Kenapa? Dia sudah punya calon?" tebak Darma seolah mampu membaca pikiran putranya.
Bian bingung menjawab pertanyaan mamanya. Bara dan Rana memang hanya bersahabat, tapi siapa pun yang melihat interaksi mereka, pasti akan mengira mereka pacaran. Hal ini yang membuat Bian ragu hingga belum berani mengambil langkah lebih jauh dari sebatas mengagumi diam-diam dan melafalkan nama Rana dalam doa.
"Menurut Mama, saya ganteng, nggak?"
Pertanyaan itu sukses membuat Darma terkekeh. "Kenapa, kamu nggak pede?"
"Jawab aja, Ma," desak Bian.
"Ibu mana yang tega bilang anaknya jelek?"
"Kalau gitu Mama jawab sebagai perempuan, jangan sebagai ibu."
Darma menangkup wajah putranya. "Ganteng banget. Jauh lebih ganteng dibanding papamu waktu muda dulu."
Dipuji seperti itu, Bian tersenyum lebar. Ia lantas memeluk mamanya.
"Secepatnya kamu harus bawa dia ke rumah ini, kenalin sama Mama sebagai calonmu, bukan sebagai pegawaimu." Darma menepuk pelan punggung putranya.
"Siap."
***
[Bersambung]
__ADS_1