
Malam merayap. Menyisakan rintik hujan di minggu terakhir bulan September, menandakan musim hujan akan segera tiba. Aji yang seharian mengikuti gladi bersih untuk wisudanya lusa merasa sangat letih. Diraihnya ponsel di atas kasur kamar kosnya. Apa kabar nostalgi kecil ku? Sudah lama sekali tak ada kabar dari Inas. Setelah pertemuannya di auditorium kampus Inas beberapa waktu yang lalu, Aji memang sengaja tidak mengirim pesan singkat maupun meneleponnya. Selain ingin tahu bagaimana reaksi Inas jika dia tidak mengirim pesan singkat duluan, dia juga ingin lebih fokus dengan skripsi yang sudah diujung penyelesaian. Dan akhirnya, skripsi rampung, kisah cinta remajanya tak beruntung.
Aji membuka akun sosmed Inas. Terkejut. Sebuah postingan foto bersama cowok yang dia tahu bukan cowoknya. Terlihat akrab. Keduanya saling memasang wajah konyol sambil berselfie dengan latar belakang rak-rak penuh buku yang sepertinya ada di dalam toko buku. Ini cowoknya gak cemburu apa? Masih terheran-heran, Aji membaca caption dari postingan Inas, Thanks udah nemenin seharian. Gak ada lu gak seruuuuu @KusumAndrio. Penasaran dengan cowok yang disebutkan oleh Inas dalam postingannya, Aji pun mengklik nama akun itu. Gue jadi stalker gini. Kemudian mengembalikan menu ponselnya. Tidak ingin tahu lebih jauh, Aji kembali membuang ponselnya ke kasur.
Pikirannya melayang. Kenapa dia bebas memposting foto berdua dengan cowok lain? Masa' cowoknya gak cemburu? Apa jangan-jangan udah putus? Aarrrghh...Kelamaan! Diraihnya kembali ponselnya. Menelepon. Lama tak ada jawaban. Dicobanya lagi.
"Halo, kak?"
"Hei de'. Lagi apa?"
"Abis mandi ini kak. Santai-santai aja."
"Baru pulang?" sambil melirik jam dinding kamar kosnya. 19.45.
"Dari tadi sih. Gimana kak? Tumben telepon."
"Kok tumben sih?"
"Kirain udah lupa lagi gitu. Lama gak berkabar. Hehe"
"Lagi sibuk skripsi de'. Ngurus wisuda juga. Lusa udah wisuda."
"Wah! Cepet ya. Selamat ya kak!"
"Iya de'. Makasih. Eh, ngomong-ngomong kamu tumben udah di rumah, gak pacaran dulu tadi?" tanya Aji mencoba memancing untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.
"Hahaha. Kayak tahu aja aku sampe rumah biasanya jam berapa kak."
"Abis yang dulu itu sampe malem baru sempet bales chat ku."
"Hehe. Ya gak selalu kalau pacaran pulang malem, bisa-bisa aku diusir dari rumah kak. Haha."
"Emang ga boleh sampe malem?"
"Paling malem sampe rumah jam sembilan malem kak. Lebih dari itu jangan tanya. Hahaha. Kadang jam enam sore udah disuruh buru-buru pulang, padahal baru asyik kumpul sama temen-temen."
__ADS_1
"Temen-temen apa temeeen?"
"Temen-temen kak. Hehehe."
"Mmm... Kamu udah..." Aji diam sesaat, ingin bertanya tentang hubungan Inas dan pacarnya tapi ragu-ragu.
"Halo? Udah apa kak?" tanya Inas yang penasaran kenapa Aji tiba-tiba diam.
"Eh, iya... udah makan?"
"Belum kak. Jarang makan kalau malem. Gak laper soalnya."
Diam sesaat.
"Eh de', boleh nanya?"
"Nanya aja kak."
"Tapi jangan marah."
"Kamu udah putus sama cowok mu?" tanya Aji pada akhirnya, tak sanggup menahan rasa penasarannya tentang sosok cowok dalam postingan Inas tadi sore.
"Belum. Emang kenapa kak?"
"Eh, gak apa-apa. Tanya aja."
"Berharap aku putus?" tanya Inas dengan nada sedikit menggoda.
"Yaa bolehkan berharap. Hehehe."
"Jangan."
"Kenapa de'?"
"Takut gak bisa memenuhi harapan mu kak. Hehe."
__ADS_1
"Serius?"
"Becanda. Hahaha."
"Aku serius."
"Eh?"
Diam lagi. Aji sendiri tak tahu dengan apa yang dikatakannya. Satu postingan foto di akun sosmed bisa membuatnya kacau. Sadar, Ji!, umpat Aji dalam hati.
"Udahan dulu ya de'." mengakhiri perbincangan dengan canggung.
"Eh? Iya kak. Makasih udah telepon."
"Sama-sama."
Aji mengacak-acak rambutnya setelah melempar ponselnya ke kasur lagi. Kacau! Biasanya dia bisa mengontrol diri, tapi dengan Inas sudah dua kali dia kehilangan kontrol. Ayolah, Ji! Dia masih punya cowok. Tapi, dia foto berdua sama cowok lain. Iya, tapi cowoknya gak cemburu trus kenapa lu jadi kacau? Aji mengacak-acak rambutnya lagi. Mencoba membuang kekacauan di otaknya. Cemburu? Yang benar saja!
***
Mentari sudah nampak ceria di ufuk timur, memberi kehangatan bagi manusia di bumi yang masih malas beradu dengan hari. Seperti Aji yang masih menempel erat di kasur kamar kosnya. Tak ingin beranjak. Semalam dia tak bisa tidur. Hati dan pikirannya ruwet. Matanya baru terpejam setelah hampir menjelang dini hari.
Segala yang berkaitan dengan Inas membuatnya kehilangan kontrol. Ketika menjaga jarak, dia akan sangat menguasai emosinya. Namun, ketika dia memutuskan untuk mendekat, dia tak mampu lagi menahan gejolak yang membuncah di hatinya. Masih terus menyangkal bahwa dia jatuh hati dengan kenangan masa remajanya itu. Menghindari rasa sesal karena mengabaikannya di masa lalu.
Setelah menutup teleponnya semalam, Aji tak henti-hentinya bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia bisa merasa sedikit sebal melihat postingan foto Inas bersama seorang cowok dan terlihat sangat akrab. Bahkan captionnya 'Gak ada lu gak seruuu'. Cemburu? pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya yang sedetik kemudian selalu disangkalnya.
Bertanya-tanya lagi tentang bagaimana hubungan Inas dengan cowoknya, mengingat respon dirinya ketika melihat postingan foto itu dirinya menjadi kacau apalagi cowoknya. Mungkin lebih parah daripada responnya. Lagi ribut sama cowoknya kali. Berbagai spekulasi tentang Inas dan cowoknya bermunculan, dari yang masuk akal hingga yang konyol, karena otaknya sudah entah bagaimana menggambarkannya. Abnormal!
Tak ingin lebih lama bergulat dengan pikirannya yang berantakan, Aji memungut bungkus rokoknya, berjalan menuju teras depan kosnya, menyalakan puntung pertama. Dihisapnya dalam-dalam, dihembuskannya perlahan. Sembari menerawang menatap langit malam yang masih mendung sisa hujan tadi sore. Mengembara menuju masa lalu, dimana dia mendapati Inas malu-malu ketika sahabatnya kala itu, Randi, mengungkapkan perasaannya kepada Inas. Masih diingatnya dengan jelas ekspresi malu-malu itu. Sambil melirik ke arah Aji yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berbicara, Inas menolak Randi yang sudah sangat gugup akan mendengar jawaban Inas.
"Maaf kak." ucap Inas lirih pada saat itu sambil sesekali melirik ke arah Aji yang sebenarnya sudah tahu apa jawaban Inas. Diingatnya wajah polos gadis remaja yang malu-malu. Dibadingkannya dengan postingan di akun sosmednya. Beda. Namun, tak dipungkiri Aji, dia lebih menyukai Inas yang sekarang. Bukan hanya karena parasnya. Lebih dalam dari itu. Ada hal dalam diri Inas yang tak mampu Aji ungkapkan, yang membuat hatinya selalu kehilangan kendali emosi.
Malam semakin larut, namun tak juga membawa kantuk. Aji memasuki kamar kosnya. Membuang jauh ponselnya. Merebahkan tubuhnya yang lelah, mencoba memejamkan matanya. Aarrghh! Wajah Inas bersama cowok lain terus melintas di pikirannya. Berguling ke kanan. Ke kiri. Sampai entah berapa kali berguling akhirnya Aji pun tertidur.
Dering ponsel pun tak membangunkan Aji dari lelap tidurnya. Sebuah pesan singkat yang bersarang di ponselnya yang akan membuatnya semakin tak sanggup menahan perasaannya. Sampai beberapa jam kemudian, Aji baru terbangun. Sudah siang! Tak ada apapun yang dikerjakannya hari ini. Dia merasa malas beranjak dari tempat berbaringnya yang sudah sangat kusut. Meraih ponselnya dengan malas. Terbelalak mendapati sebuah pesan singkat yang dikiranya hanya mimpi. Sial!
__ADS_1