
Sinar mentari pagi menghangatkan seluruh penduduk kota Y. Selasa cerah yang bagi Aji biasa saja meskipun dia akan menghabiskan waktu dengan seseorang. Namun, sepertinya bukan hal yang istimewa. Malas menggelayuti seluruh tubuhnya untuk bangun. Seandainya dia tidak berjanji, dia tidak akan pergi.
Seminggu yang lalu dia bertemu dengan Ayu, teman kuliahnya yang juga menyukainya. Mereka bertemu ketika sedang wawancara kerja di sebuah perusahaan di kota Y.
"Aji!" sapa Ayu sedikit terkejut.
"Eh, kamu Yu? Nglamar sini juga?" tanya Aji basa-basi.
"Iya nih. Iseng-iseng aja sih. Semua dilamar kecuali kamu. hehe." ucap Ayu terang-terangan.
Aji hanya tersenyum canggung. Ayu memang tidak pernah menutupi kalau dirinya menyukai Aji dan selalu melancarkan pendekatan-pendekatan. Aji bukan membencinya, dia hanya risih dengan cewek yang agresif, meski Ayu tidak terlalu agresif tapi sikapnya cukup membuat Aji tidak nyaman.
"Eh, kalau salah satu dari kita diterima di sini hang out yuk." ajak Ayu tanpa malu-malu.
"Eh?"
"Tapi kalau kita sama-sama diterima ya gak usah hang out bareng sih, kan tiap hari bakal ketemu." tambah Ayu tanpa mempedulikan ekspresi Aji yang sebenarnya enggan menanggapi kemauan Ayu.
"Kalau kita sama-sama gak diterima gimana?" tanya Aji.
"Ya tetep hang out bareng laaah. Oke?" ucap Ayu sambil mengedipkan matanya. Aji berpikir sejenak. Gak ada pilihan. Ditolak pun Ayu pasti akan mencari cara agar tetap bisa hang out berdua dengan Aji. Tak ada gunanya menolak.
"Okelah." jawab Aji akhirnya.
Dan begitu waktu berlalu hingga tiba pengumuman wawancara kerja kemarin via telepon. Aji diterima bekerja di perusahaan XX dan mulai bekerja hari Senin depan. Tak lama setelah telepon dari pihak perusahaan XX ditutup, Ayu menelepon Aji.
"Hai, Ji! Gimana? Diterima gak?" tanya Ayu to the point.
"Alhamdulillah Yu diterima. Kamu?"
"Aku engga. haha. Berarti besok kita hang out yak?" ajak Ayu bersemangat.
__ADS_1
"Mau kemana sih? Ngebet banget. Kudu besok banget gitu?" tanya Aji, berharap Ayu berubah pikiran. Namun, sepertinya itu hal yang mustahil.
"Udaaah besok aja. Mau kapan lagi? Keburu kamu sibuk kerja malah gak bisa mulu ntar."
"Iya iya. Mau kemana sih?"
"Rahasia. Besok jemput di kos ya. Jam sembilan pagi. Jangan telat!"
"Iyaaaa."
"Oke. Selamat yak! See you!" Aji menghela nafas panjang seiring Ayu menutup teleponnya. Percuma juga nolak.
Begitulah. Dengan malas Aji menuju kamar mandi dan bersiap. Memikirkan akan menghabiskan seharian bersama Ayu membuatnya sedikit malas. Sedikit. Sebenarnya Ayu bukan cewek seburuk itu. Dari penampilan sesuai dengan namanya, ayu. Dia juga pintar dan supel. Aji hanya tidak terlalu suka cewek yang agak agresif dan suka main kontak fisik dengan sembarang cowok, seperti tiba-tiba menggandeng tangan, melingkarkan tangan di bahu dan semacamnya.
Sudah jam setengah sembilan ketika Aji selesai bersiap. Tanpa berlama-lama lagi, dia segera menuju kos Ayu yang tidak begitu jauh dari kosnya. Ketika sampai di depan kos Ayu, cewek itu sudah menunggu di teras kosnya dan segera bangkit ketika menyadari kedatangan Aji.
"Yuk." ajak Ayu sembari naik di boncengan motor Aji.
"Pantai Z." jawab Ayu sambil nyengir.
"Serius? Yang deket aja kenapa?" tawar Aji.
"Bosen yang deket. Yang jauh aja. Lagian perjalanan juga cuma setengah jam an kan?"
Tahu kalau akan sia-sia saja tawar menawar dengan Ayu, Aji langsung melajukan motornya ke Pantai Z. Sepanjang perjalanan Ayu tak henti-hentinya bercerita tentang apa saja yang dapat dia ceritakan sedang Aji hanya merespon sekadarnya sambil berkonsentrasi mengendarai motornya. Setengah jam perjalanan yang panjang bagi Aji. Akhirnya mereka berdua telah tiba di pantai tempat tujuan mereka.
Pantai pasir putih yang indah. Sepi karena bukan akhir pekan. Bahkan hanya terlihat dua manusia itu saja yang mengunjungi pantai itu. Setelah menuju tepi pantai, Ayu meregangkan tangannya menghirup udara pantai yang khas. Aji tersenyum kecut memandangnya. Dirogohnya ponsel dalam kantong celana jeansnya. Satu pesan singkat masuk. Mata Aji membulat membuka pesan singkat itu. Dari Inas.
Otw kak. Ketemu di depan benteng yak. hihi.
Ah sial! Kenapa baru buka hp sekarang sih? Bodoh! umpat Aji dalam hati. Rasa-rasanya hatinya menjadi berat seketika membaca pesan singkat dari Inas. Tak mungkin sekarang memberi alasan kepada Ayu untuk pergi. Mau ngeles gimana coba? Bingung antara akan membalas pesan singkat Inas atau meneleponnya. Di tengah-tengah dilemanya, Aji mendengar Ayu memanggilnya.
__ADS_1
"Jiiiii!!" panggil Ayu setengah berteriak. Masih dalam dilemanya, Aji hanya terdiam. Ayu berlari menghampiri Aji.
"Ngapain? Ayok jalan-jalan." ajak Ayu sambil menarik tangan Aji.
"Eh Yu, balik yuk aku ada urusan men..."
"Kamu kalau mau balik, balik aja Ji. Aku mau di sini dulu." potong Ayu, sambil berlalu menyusuri pantai pasir putih yang sepi. Aji menatap punggung Ayu. Lagian dia udah punya cowok, pikir Aji. Sudahlah! Kali ini aja, putus Aji kemudian. Mengekor Ayu yang berjalan di depannya.
"Sebenernya aku gak nglamar di perusahaan XX, Ji." ungkap Ayu akhirnya, masih tetap berjalan di depan Aji.
"Eh? Engga?" tanya Aji sedikit terkejut.
"Aku tahu dari Fandi kamu nglamar kerja di sana. Pengen ketemu kamu aja sih, udah lama gak ketemu setelah wisuda. Jadi ya gitu deh. Kalau gak gitu, aku gak bisa ngajakin kamu keluar. Pasti kamu bakalan cari alasan buat nolak ajakan ku. Hari ini aja udah berhasil keluar berdua kamu malah mau balik." Ayu menghentikan langkahnya, duduk menatap ombak yang memburu menuju tepi pantai.
"Aku gak tahu kamu ada urusan apa tapi misalkan memang penting aku juga gak bisa nahan kamu lebih lama. Toh kamu juga udah tahu gimana perasaan ku ke kamu dan aku tahu balasannya. Aku tidak pernah memaksa kamu menjawab dengan perasaan yang sama. Hanya seperti ini saja sudah cukup buat aku." ucap Ayu, membuat Aji ikut terduduk di sampingnya menatap ombak.
"Hhh... Aku ini cowok bodoh. Aku pernah menyia-nyiakan seorang cewek dan sekarang aku menyesalinya. Aku ingin memperbaiki itu, tapi aku rasa terlambat karena dia udah punya cowok. Terkadang waktu memang kejam. Mengapa kita harus bertemu lagi di waktu yang salah? Dan sekarang pun ketika aku sedang memenuhi janji ku ke kamu, dia datang. Benar-benar waktu yang salah." ungkap Aji, menumpahkan unek-unek di hatinya. Ayu tak begitu mengerti, tapi dia tahu Aji menceritakan wanita lain.
"Bukan waktu yang salah, Ji. Memang sudah harus seperti itu. Mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa-apa yang bisa dilakukan saat ini. Jangan menyesal. Memang harus begitu." ucap Ayu berusaha menenangkan.
Entah mengapa mendengar perkataan Ayu, Aji merasa sedikit ringan. Memendam perasaan yang kacau selama ini memang bukan pekerjaan yang mudah.
Dua insan itu terduduk cukup lama di tepi pantai. Tanpa ada sepatah kata yang mengalir. Hanya menikmati deburan ombak yang tak lelah berlarian menuju tepi pantai. Merasai tiap angin yang menyapu wajah mereka. Melambungkan angan mereka masing-masing. Maaf de'.
***
Langit sore menyapu kota Y, menaunginya dengan gurat senja yang manis. Aji sudah tiba di kosnya dan merebahkan tubuh di kasur. Sejenak merenungi kejadian hari ini di pantai bersama Ayu. Entah apa yang membuatnya tetap tak bisa membalas perasaan Ayu. Hatinya tetap memikirkan Inas. Seperti tersadarkan dari lamunannya, Aji mengambil ponsel dan melihat ada satu pesan singkat lagi dari Inas.
Benteng V sepi.
Sudah beberapa jam yang lalu pesan singkat itu bersarang di ponselnya. Sudah pulang pastinya. Aji meletakkan kembali ponselnya. Menatap langit-langit kamar kosnya dan sedetik kemudian bangkit melajukan motornya. Ada dorongan kuat di hatinya untuk memastikan sesuatu. Dipacunya motor ke Benteng V berharap dugaannya salah. Dan ketika dia akan tiba di benteng, dilihatnya sosok wanita yang dikenalnya, berdiri di halte depan benteng bersiap naik bus yang menuju ke arahnya. Wanita yang biasanya terlihat cerah ceria itu entah mengapa berwajah mendung. Terlihat sisa-sisa kesedihan menaungi paras eloknya. Ada apa?
__ADS_1