
Di tengah kerumunan wisudawan yang bejubel keluar, sepasang mata Alex terbelalak menatap pemandangan yang ada di depan pintu keluar. Gila! Dia kemudian menoleh ke arah Inas yang tanpa menoleh ke belakang, terus berjalan menembus sesaknya arus manusia yang memenuhi sekitar pintu keluar gedung auditorium.
Alex kembali menatap dua insan yang masih berpelukan itu dengan tak percaya. Nathan terlihat mencari-cari seseorang yang dia tahu adalah Inas. Alex bisa menebak apa yang terjadi. Dia sudah sering memperingatkan sahabatnya itu tentang apa yang dilakukannya. Dia sudah menyerah dengan kelakuan sahabatnya, tak memahami apa yang dimauinya.
Pelukan dari samping membuatnya kembali dari mengembara ke alam pikirannya.
"Selamat ya beib." ucap Liana girang sambil memberikan sebuket bunga segar dan boneka teddy bear kecil yang mengenakan toga bertuliskan nama Alex.
"Hei! makasih ya beib. Ketemu mama papa ku gak?" tanya Alex sambil memutar tubuhnya menghadap Liana, menutupi Nathan dan selingkuhannya.
"Udah pada nunggu di deket mobil. Kamu gak ke fakultas dulu? Foto-foto sama temen-temen kamu?" tanya Liana.
"Kayaknya udah pada bubar sendiri-sendiri deh. Langsung cabut sama papa mama aja yuk." ajak Alex sambil menggandeng Liana menjauhi pintu keluar auditorium.
Mereka meninggalkan pelataran gedung auditorium yang masih riuh menuju tempat parkir mobil. Alex kembali larut dalam pikirannya, sambil mencoba mendengarkan Liana yang asyik bercerita tentang teman-temannya yang ikut wisuda. Tak bisa Alex bayangkan betapa hancurnya hati Inas. Selama ini dia tahu bagaimana Inas mencintai sahabatnya itu. Kekhawatiran Alex selama ini akhirnya terjadi. Dia sudah menduga cepat atau lambat akan seperti ini. Mungkinkah kisah cinta mereka akan berakhir? Semoga tidak.
***
__ADS_1
Air muka Inas yang mendung tertangkap oleh Rio beberapa kali. Sejak keluar dari gedung auditorium Rio selalu berada di samping Inas. Dia tahu apa yang cewek itu rasakan. Dia tahu apa yang membuat cewek itu berusaha tersenyum dan tertawa meski sebenarnya sulit untuk itu. Masih diingatnya pemandangan yang membuatnya tak percaya di depan pintu keluar gedung auditorium tadi.
Nathan langsung disambut pelukan oleh seorang cewek ketika keluar dari auditorium. Membuat Inas seketika berlalu meninggalkannya tanpa lagi-lagi menoleh ke belakang. Rio yang berjalan di belakangnya segera menyamai laju langkah kaki Inas, menggandeng tangannya. Sempat terlihat raut terkejut dari wajah Inas ketika Rio menggandengnya. Mungkin dia kira itu Nathan yang mengejarnya. Namun, ketika Inas melihat bahwa yang menggandeng tangannya adalah Rio, seketika senyum terkembang di wajahnya. Senyum kelegaan menurut Rio.
Rio tak melepaskan gandengan tangannya hingga tiba di fakultas. Inas pun terlihat hanya diam di sepanjang perjalanan dari auditorium menuju fakultas. Rio tak bisa berbuat banyak. Dia tak ingin menanyakan perihal apa yang dia lihat di depan pintu keluar auditorium tadi.
Kedatangan Lia, Kiki dan Tyas cukup membantu mengguratkan senyum dan tawa di wajah Inas. Namun, sesekali Rio melihat kemurungan di wajah Inas ketika dia tengah sibuk dengan ponselnya. Terkadang terlihat sibuk mengetik, terkadang sibuk mencoba menelepon seseorang. Rio sudah bisa menebak siapa yang coba dihubunginya. Perlahan Rio mendekati Inas yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa, Nas?" tanya Rio.
"Bener gak apa-apa? Kak Nathan mana?" tanya Rio mencoba memancing Inas.
"Bener gak apa-apa. Dia lagi sama temen gak tahu kemana." jawab Inas.
Terlihat oleh Rio sekuat apa Inas coba menutupi sakit di hatinya. Rio hanya mampu diam. Kedua tangannya terkepal sambil mengutuki Nathan dalam hati. ********!
"Foto yuk." ajak Inas kemudian, membuyarkan amarah Rio. Rio yang tahu dirinya tak mampu berbuat apa-apa kecuali tetap berada di samping Inas hanya mampu mengikuti ajakan Inas berfoto bersama, memasang senyum yang sama-sama palsu, menutupi amarah hati masing-masing. What in the world!
__ADS_1
***
Kata-kata apa yang dapat menggambarkan Nathan saat ini? Sudah sangat kusut wajahnya. Raganya sudah lunglai menahan lelah setelah wisuda dan lelah karena kejutan yang mengerikan di ambang pintu keluar auditorium.
Masih dirasakannya tangan Inas yang meronta mencoba melepaskan genggamannya. Nathan yang tak mampu lagi menahan Inas begitu saja melepaskannya, membiarkannya pergi bersama luka yang lebih dalam dari sebelumnya.
Hati Nathan semakin teriris membaca pesan-pesan singkat yang Inas kirim untuknya. Dia tak pernah membayangkan Inas mampu mengutukinya dengan kata-kata kasar seperti itu. Dan pesan terakhir yang dikirimkan Inas begitu menohok ulu hatinya.
Kamu gak akan pernah mendapatkan cewek yang lebih baik dari aku!
Dan itu benar. Nathan belum pernah memiliki pacar sebaik Inas. Mungkin tak akan pernah menemukan yang lebih baik darinya. Dia merasa tak pantas mendapatkan Inas di sampingnya. Namun, dia tak bisa jika harus membayangkan melewati hari-harinya tanpa Inas. Sudah terbiasa ada Inas dan akan sulit baginya melepaskan bayangan Inas dari hatinya.
Masih terduduk di tepi tempat tidur kamarnya, ditatapnya toga yang terbaring begitu saja di atas tempat tidurnya. Wisuda bersama yang pernah dibayangkannya tak menjadi nyata. Kejutan yang sukses membuat sakit hati kekasihnya membuatnya tak dapat memikirkan hal lain selain kekasihnya itu. Apakah masih kekasihnya? Ataukah sudah bukan lagi kekasihnya? Masih pantaskah dia menjadi kekasihnya? Entah.
Nathan tak sanggup membalas semua pesan singkat yang dikirim Inas kepadanya. Bagaimana harus membalasnya? Meminta maaf pun menjadi hal yang sulit dilakukan. Maaf? Tak akan mungkin cukup untuk memperbaiki hatinya yang sudah hancur. Bagaimana mungkin bisa sembuh dengan luka yang seperti itu?
Tak tahu lagi harus berkata apa. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Seandainya dia tidak egois. Seandainya dia mengikuti saran Alex untuk segera melepaskan salah satu diantara mereka. Mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Tak akan ada hati yang tersakiti. Sudah tak mungkin lagi ada kesempatan untuknya. Sudah tak mungkin lagi ada maaf untuknya. Bahkan untuk melihat Inas pun sudah tak mungkin. Masihkah mungkin? Masih adakah sedikit maaf untuknya? Masih adakah sedikit keberuntungan yang memberikannya kesempatan? Masih adakah cinta di sana? Masih bisakah dia berharap? Nathan mengacak rambutnya kasar. Melemparkan punggungnya ke tempat tidur. Mengumpati dirinya sendiri. Bodoh!
__ADS_1