Rindu Senin

Rindu Senin
Pelarian


__ADS_3

"Tok...tok...tok..." Inas terbangun mendengar pintu kamar kosnya diketuk. Dia menangis sampai ketiduran. Warna senja di langit sudah berubah menjadi gelap. Jam berapa? Masih terdengar ketukan di pintu, kali ini diiringi dengan suara yang memanggil namanya.


"Nas...Inas..." panggil suara di balik pintu kamarnya. Gontai Inas melangkah menuju pintu kamarnya tanpa menjawab panggilan itu.


"Kamu gak apa-apa, Nas?" tanya Indah, teman satu kos Inas yang kebetulan juga teman satu kelasnya. Melihat penampilan Inas yang semrawut, Indah sedikit khawatir.


"Oh, gak apa-apa. Ada apa, Ndah?" tanya Inas tanpa mempedulikan penampilannya yang entah seperti apa.


"Eh, itu... ada kak Nathan di depan nyari kamu."


Rasa malas seketika menggelayuti Inas mendengar nama Nathan disebut. Masih belum ingin menemuinya. Namun, sepertinya dia memang harus bicara dengannya.


"Suruh tunggu sebentar, Ndah. Aku cuci muka dulu." pinta Inas kepada Indah. Indah hanya mengangguk dan berlalu menuju ke teras. Inas kembali masuk kamar, mencuci mukanya dan menata penampilannya. Berantakan!


Setelah cukup lama merapikan dirinya yang kusut sekusut bantal yang dipakainya menangis, Inas keluar menemui Nathan di teras kosnya. Inas menatap Nathan dengan mata sembabnya yang serasa susah untuk dibuka. Wajah Nathan terlihat sama kusutnya dengan Inas. Ataukah efek matanya yang sembab? Entah.


"Maafin Nathan, Nas." ucap Nathan lirih sambil meraih tangan Inas yang duduk di sebelahnya. Inas hanya terdiam tak menatap Nathan.


"Nas..."


Seperti kehabisan kata, Nathan pun ikut terdiam. Bibir Inas seperti terkunci rapat. Namun, dalam hatinya meronta, memaki. Diam yang menyiksa. Angin malam pun dingin mendera. Sampai kapan diam?


"Selama ini aku ngasih kamu kebebasan karena aku gak mau kamu merasa terikat. Aku gak mau jadi cewek nyebelin yang posesif, curigaan. Selain bikin kamu risih, itu juga bikin aku sendiri capek. Tapi kamu malah kayak gini. Rasanya kepercayaan ku gak dihargai." akhirnya Inas bicara diiringi air mata yang tak mau lagi bergeming di pelupuk matanya.

__ADS_1


Nathan hanya terdiam melihat Inas bicara tanpa melihat ke arahnya. Menatap Inas yang lagi-lagi menangis. Sakit.


"Maaf..." hanya itu yang terucap di bibir Nathan.


"Aku capek. Kamu pulang aja." ucap Inas sambil berdiri, melepaskan genggaman Nathan. Berlalu masuk ke dalam kos tanpa melihat Nathan yang membatu. Bodoh!


***


Nathan masih duduk membatu di teras kos Inas. Sudah beberapa menit yang lalu Inas masuk ke dalam kos. Nathan masih enggan beranjak. Gurat penyesalan terpahat di wajahnya. Dia tidak menyangka Inas akan seberantakan itu. Dia selalu mengira Inas cewek yang kuat karena sama sekali tidak pernah terlihat cemburu. Baru dilihatnya saat itu Inas yang marah, kecewa dan sedih. Benar-benar mengerikan.


Diingatnya kembali perbincangannya dengan Alex sore tadi. Alex banyak memberinya saran, tapi Nathan masih tetap pada egonya. Belum bisa melepaskan Trisna. Di saat yang bersamaan, Nathan merasa sakit melihat Inas menangis.


"Lu beneran sayang Inas kan bro?" tanya Alex ketika Nathan mampir ke kosnya sore tadi untuk menceritakan tentang Inas yang mengetahui hubungannya dengan Trisna. Nathan hanya mengangguk.


"Iya bro. Tapi kenapa rasanya berat buat nglepasin salah satu?"


"Sebenernya gak berat sih bro. Tanya hati lu aja. Gue yakin sebenernya lu tahu yang mana yang mesti lu lepasin. Bukan area gue kalau soal pilihan lu. Gue tahu banget gimana lu ke Inas, pun sebaliknya. Dan menurut gue, Inas itu cewek paling tulus yang pernah ada di samping lu." Nathan masih terdiam mendengarkan saran dari Alex.


"Nglepasin cewek itu gampang. Tinggal bilang aja 'Kita putus, aku udah punya cewek' dijamin dia bakal ilang sendiri." tambah Alex.


Ya, mungkin Trisna akan pergi jika tahu Nathan sudah memiliki kekasih jauh sebelum mereka jadian. Selama ini Trisna memang tidak mengetahui tentang Nathan dan Inas. Nathan masih bersama lamunannya antara Inas dan Trisna ketika Alex kembali mengeluarkan pendapatnya.


"Kalau lu masih mau jalanin keduanya bahkan setelah Inas tahu, gue jamin gak bakalan mudah bro. Ntar lu sendiri yang sakit. Tapi ya terserah lu sih." tutup Alex menyudahi sarannya. Nathan yang masih ragu dengan apa yang akan dia lakukan beranjak dari kos Alex.

__ADS_1


"Gue balik dulu bro." pamitnya. Alex hanya mengangguk.


Dan di sinilah Nathan, masih terdiam di teras kos Inas memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan kisah kasihnya. Biarkan saja dulu! Pusing!


***


Setelah masuk ke dalam kos semalam, Inas langsung mengunci diri lagi di kamarnya. Tak ingin menimbulkan tanya bagi penghuni kos yang lain jika mereka melihat tampilan Inas saat ini yang sudah tak bisa dibilang kusut. Mengerikan! Rasa panas di dalam dadanya tak ingin menghilang. Meringkuk di atas kasurnya. Memejamkan mata yang berat untuk terus terbuka. Lelah.


Dan kini, mentari pagi menggoreskan cahaya baru di langit Selasa, membuatnya semakin cerah. Namun Inas masih malas bangkit dari tempatnya merebahkan diri. Dia sudah membuka mata sedari subuh, tapi raganya masih enggan beranjak. Diraihnya ponsel di samping bantalnya. Dilihatnya banyak pesan masuk dari Nathan. Inas hanya membacanya, tanpa membalasnya. Malas.


Hari ini tak ada yang dikerjakan Inas. Dia mendapat jatah libur dari magangnya hari ini. Pas! Namun, dia berpikir lagi akan sangat membosankan hanya berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun. Dan pasti Nathan akan terus berusaha menghubunginya. Menggeliat perlahan di atas kasurnya. Tiba-tiba muncul ide di otaknya. Mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian bergegas mandi dan bersiap. Let's have fun!


***


Selama perjalanan di dalam bus, Inas terus mengecek ponselnya secara berkala. Tak ada pesan masuk. Dia sedang menantikan balasan dari pesan singkat yang dikirimnya kepada seseorang. Aji. Dia sudah mengirim pesan singkat kepada Aji, memberitahunya bahwa dia akan ke kota Y. Sudah hampir tiba di kota Y dan belum ada balasan sama sekali, tapi Inas masih berpikir positif. Mungkin nanti dia bakal telepon.


Bus berhenti di halte depan Benteng V. Inas memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri Jalan M, mencari kesegaran, menghilangkan kecewa di hatinya. Dari satu toko ke toko yang lain, menyibak-nyibak pajangan baju-baju di tiap toko. Mampir makan di salah satu warung bakso dan mie ayam, memesan semangkok mie ayam dan segelas es teh. Sambil menunggu pesanannya datang, Inas mengecek kembali ponselnya. Tak ada balasan. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian menikmati pesanan makanannya yang sudah tiba di hadapannya. Menyantap mie ayam plus sambal yang membuatnya mengeluarkan air mata. Puas!


Inas kembali mengecek ponselnya. Masih tak ada balasan. Inas mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Benteng V sepi.


Dia mengirim pesan singkat tersebut kepada Aji dan berjalan menuju Benteng V. Benar-benar sepi. Lebih sepi daripada terakhir kali Inas ke sana. Inas berjalan masuk ke dalam benteng, menyusuri tiap lorong-lorong. Sepi. Inas mengecek ponselnya lagi. Masih tak ada balasan. Kesedihan tergurat di wajahnya. Kekecewaan bertumpuk, berlipat-lipat. Tampaknya Inas terlalu banyak berharap kota Y akan menghilangkan kekecewaan yang dirasakannya. Sudah satu jam lebih Inas menyusuri benteng, mengecek ponselnya berkala dan tetap tak ada balasan dari Aji.

__ADS_1


Gontai, Inas berjalan menuju halte di depan benteng. Menunggu bus sambil menggenggam ponselnya, berharap di menit-menit terakhirnya di kota Y Aji akan menghubunginya. Nihil. Bus yang akan membawa Inas kembali ke kota S telah nampak di kejauhan. Berdiri menata hati yang semakin remuk. Sudahlah!


__ADS_2