Rindu Senin

Rindu Senin
Kejutan (part 2)


__ADS_3

Terik siang itu seakan menambah rasa panas di hati Inas. Dia ingin sekali berteriak. Marah. Mengumpat. Dan menangis. Sesak sekali rasanya melihat wajah yang selama ini dibencinya, yang tak pernah terpikir olehnya akan bertemu di waktu yang sangat tepat sekali. Mengapa harus hari ini? Rasanya sesuatu dalam dirinya akan meledak.


Harus menahan emosinya di saat seperti ini, semakin membuatnya merasa sesak. Di hari yang seharusnya membahagiakannya, Inas malah mendapat kejutan yang membuat hatinya hancur seketika. Di kala dia sudah berusaha berdiri dan mulai perlahan berjalan tertatih, di saat itu pula dia harus jatuh lebih dalam lagi dengan luka yang sama yang lebih menyakitkan.


Senyum dan tawanya memang di sana saat itu. Tapi hatinya meratap, menangisi nasibnya yang dikhianati dua kali oleh orang yang sama yang dia percaya. Tak ada yang menyadarinya. Menyadari senyumnya yang palsu, tawanya yang palsu. Tak seorang pun tahu luka di hatinya saat itu. Tak ada yang peduli. Yang mereka tahu Inas pun ikut dalam haru bahagia suasana wisuda siang itu di fakultas sastra. Menyedihkan!


Inas berusaha memasang senyum dan tawa selebar mungkin ketika teman-temannya mengajaknya berfoto bersama merayakan kelulusan mereka. Rasa sakitnya begitu dalam menghujam, tapi dia berusaha ceria. Sakitnya membuat linu seluruh hatinya. Sampai kapan dia akan bertahan memasang wajah bahagia itu?


Nampaknya hanya satu orang yang menyadari awan mendung di hati Inas. Rio. Dia terus memperhatikan garis wajah cewek yang disayanginya itu. Terlihat sekali keterpaksaan saat Inas tersenyum ataupun tertawa sambil sesekali mengecek ponselnya, sesekali menelepon seseorang. Rio mendekat, menyentuh bahu Inas yang sedang fokus pada ponselnya.


"Ada apa, Nas?" tanya Rio.


"Eh? Gak apa-apa. Kenapa emang?" tanya Inas salah tingkah.


"Bener gak apa-apa? Kak Nathan mana?" tanya Rio mencoba memancing Inas.


"Bener gak apa-apa. Dia lagi sama temen gak tahu kemana." jawab Inas mencoba bersikap biasa menutupi kehancuran di hatinya.


"Foto yuk." ajak Inas kemudian, mengalihkan pembicaraan. Rio menuruti permintaan Inas, meski dia masih belum yakin bahwa tidak terjadi apa-apa dengan Inas.


Benar-benar bukan wisuda seperti yang dibayangkan Inas. Rasa sakit di hatinya lebih mendominasi daripada rasa bahagianya karena wisuda. Dia benar-benar hancur. Such a big liar!


***


Getar ponsel di kantong celana Nathan seakan tak ingin berhenti. Nathan tahu siapa yang berusaha keras menghubunginya. Namun, dia berusaha tidak ikut terpancing emosi. Masih di pelataran gedung auditorium Nathan berdiri di tengah kerumunan, mencoba menangkap sosok ayahnya di tengah lautan manusia.


Lagi-lagi ponselnya bergetar. Nathan merogoh ponsel di kantong celananya. Matanya membulat menatap layar ponselnya. Banyak pesan singkat masuk dari Inas. Nathan berusaha menguasai emosinya saat membuka beberapa pesan singkat dari Inas.


Dasar pembohong!


Cowok kurang ajar!


Nathan sayang Inas, bullshit!!


Pergi jauh dari hidup ku!


Dan pesan singkat yang lain hanya berisi umpatan. Nathan yakin kali ini Inas benar-benar marah dan tak mungkin lagi memberikan kesempatan kepada dirinya. Kesempatan?! Mendapatkan maaf saja sudah susah apalagi kesempatan.


Sebuah sentuhan di bahunya menyadarkan Nathan dari pikirannya tentang Inas.


"Kenapa sayang? Jadi telepon ayah kamu gak?" tanya Trisna yang merasa sedikit curiga dengan air muka Nathan.


"Oh iya. Bentar." jawab Nathan sambil menggeser layar ponselnya dan mencari kontak ayahnya. Sejak keluar dari gedung auditorium Nathan sulit menemukan ayahnya. Telepon tersambung.


"Halo. Ayah di sebelah mana?"


"Ini di depan pintu masuk utama auditorium."


"Ya udah Nathan ke situ."


Susah payah melewati lautan manusia mengantarkan Nathan ke depan pintu gedung auditorium, menemui ayahnya.


"Makasih yah, bu, udah dateng." ucap Nathan kepada ayah dan ibu tirinya sambil mencium tangan mereka. Ayahnya terlihat heran melihat cewek yang mengekor mengikuti Nathan mencium tangan ayah dan ibu tiri Nathan.


"Ya. Inas mana?" tanya ayah Nathan. Nathan memang sudah mengenalkan Inas kepada ayah dan ibu tirinya.


"Sama temen-temennya, yah." jawab Nathan mencoba bersikap biasa.


"Oh, mau ayah ajak makan bareng kita. Kamu telepon gak bisa?"

__ADS_1


"Susah yah. Paling lagi asyik sama temen-temennya." Nathan coba memberi alasan.


"Ya sudah kalau gitu kita aja yang makan." ajak ayahnya.


"Gak usah yah. Nathan masih ada janji sama temen. Nathan cuma mau ngucapin makasih ayah udah sempetin dateng ke sini."


"Janji sama temennya gak bisa nanti abis makan aja?" ibu tiri Nathan yang kini membujuk.


"Keburu pada pulang nanti bu. Nanti sore aja Nathan ke rumah ayah ibu." tawar Nathan akhirnya.


"Ya sudah kalau gitu. Ayah pulang dulu ya. Kamu hati-hati pulangnya. Salam buat Inas nanti kalau ketemu."


"Iya, yah."


Nathan menghela nafas panjang, lega kedua orang tuanya sudah pulang. Dia tidak ingin menghabiskan waktu bersama orang tuanya ketika ada Trina di sana. Trisna yang sedari tadi hanya diam tanpa diperkenalkan dengan ayah dan ibu Nathan terlihat kecewa.


"Yuk kita makan." ajak Nathan pada Trisna. Trisna tidak menjawab. Dia hanya berjalan mengikuti Nathan menuju kantin di dekat gedung auditorium yang ramai luar biasa.


"Mau makan apa?" tanya Nathan.


"Terserah." jawab Trisna datar.


Setelah memesan dua porsi gado-gado dan dua gelas es teh manis, Nathan dan Trisna duduk di satu-satunya meja yang kosong. Diam merasuki kedua manusia itu. Nathan sibuk dengan ponselnya, sedang Trisna sibuk dengan rasa kecewanya.


"Inas siapa?" tanya Trisna tiba-tiba.


"Oh, adik tingkat." jawab Nathan, sebisa mungkin terlihat cuek.


"Kok ayah kamu kenal?"


"Pernah aku ajak mampir ke tempat ayah." menjawab sambil masih sibuk dengan ponselnya.


"Sering?"


"Pacar kamu?"


"Sekarang?"


Diam sesaat. Bahkan Nathan tak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan asmaranya dengan Inas.


"Makan dulu keburu gak enak ntar." ajak Nathan, merasa bersyukur menu pesanannya datang tepat waktu. Trisna terlihat hanya diam, menatap Nathan tajam.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Nathan.


"Kamu gak jawab pertanyaan ku."


"Apa?"


"Sekarang Inas itu siapa kamu?"


Mulai sedikit jengah dengan obrolan mereka, Nathan menjawab sambil terus menyuapkan gado-gado ke mulutnya. "Hhh...Adik tingkat."


"Kenapa kamu gak kenalin aku ke ayah?"


"Nanti sore aja di rumahnya."


"Aku ntar balik kos."


"Ya udah besok-besok aja kalau kamu balik ke rumah." jawab Nathan cuek.

__ADS_1


"Buruan dimakan."


"Gak nafsu." jawab Trisna ketus sambil menyedot es tehnya. Nathan hanya melihatnya sesaat dengan wajah dingin, kemudian melanjutkan makannya. Merepotkan!


***


Trisna sudah berada di dalam bus yang akan membawanya kembali ke kota H. Setelah menemani Nathan makan dia memutuskan kembali ke kosnya. Semua yang terjadi hari ini tidak sesuai rencananya, kecuali kejutan kemunculannya yang tiba-tiba di depan pintu keluar gedung auditorium.


Trisna pikir kejutannya akan membuat Nathan berseri-seri sepanjang hari. Tidak! Malah sebaliknya. Nathan terlihat dingin dan bahkan hampir tidak mempedulikannya. Dari sejak melihat wajahnya di depan pintu, Nathan sudah mulai celingukan seperti mencari-cari seseorang. Ketika akan menemui ayahnya pun, Nathan terlihat terpaku menatap layar ponselnya. Bahkan saat makan bersama pun Nathan tak henti-hentinya menatap layar ponselnya. Trisna teringat obrolannya di kantin dengan Nathan tadi.


"Inas siapa?" tanya Trisna akhirnya yang sudah tidak kuat menahan rasa ingin tahunya sejak ayah Nathan menyebut namanya.


"Oh, adik tingkat." jawab Nathan singkat.


"Kok ayah kamu kenal?"


"Pernah aku ajak mampir ke tempat ayah."


"Sering?"


"Pacar kamu?"


"Sekarang?"


Diam sesaat. Trisna melihat Nathan berpikir sesaat. Berpikir atau melamun? Kemudian menu pesanan mereka datang membuyarkan pikiran Nathan.


"Makan dulu keburu gak enak ntar." ajak Nathan. Trisna terlihat hanya diam, menatap Nathan tajam.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Nathan.


"Kamu gak jawab pertanyaan ku."


"Apa?"


"Sekarang Inas itu siapa kamu?"


"Hhh...Adik tingkat." Nathan terlihat mulai sebal.


"Kenapa kamu gak kenalin aku ke ayah?"


"Nanti sore aja di rumahnya."


"Aku ntar balik kos." jawab Trisna yang sudah mulai bad mood dengan sikap Nathan.


"Ya udah besok-besok aja kalau kamu balik ke rumah." jawab Nathan cuek.


"Buruan dimakan."


"Gak nafsu."


Setelah itu mereka hanya terdiam. Mood Trisna sudah turun drastis. Semua rencananya menghabiskan hari ini bersama Nathan gagal karena bad mood yang menjalar ke hatinya. Sikap Nathan yang dingin menambah keengganannya untuk melanjutkan rencana yang sudah disusunnya dengan rapi semalam.


"Aku balik kos sekarang aja." ucap Trisna ketika melihat Nathan sudah selesai makan.


"Aku anter nyari bus."


Ucapan yang menambah kecewa di hati Trisna. Dia pikir Nathan akan mencegahnya atau setidaknya mengulur waktunya kembali ke kos. Ternyata tidak. Membuat Trisna sadar kehadirannya saat itu mungkin memang tak diharapkan oleh Nathan.


Bus yang mengantarkan Trisna kembali ke kota H sudah berjalan lambat menyusuri jalanan yang padat membawa Trina ke dalam kebosanan. Dirogohnya ponsel di dalam tasnya, membuka akun sosmed untuk menghilangkan bad mood dan bosan yang bersarang di hatinya. Ada satu pesan di inbox sosmednya. Matanya membulat melihat nama akun yang mengiriminya pesan. Trengginas Saraswati!

__ADS_1


__ADS_2