Rindu Senin

Rindu Senin
Pelampiasan


__ADS_3

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya ketika Aji sudah terbangun dari tidurnya. Seperti tak sabar menanti Senin yang akan membawanya berjumpa dengan nostalgi kecilnya. Tidurnya nyenyak. Hanya saja dipenuhi bayang-bayang nostalgi kecilnya dimana-mana. Gila!


Beranjak dari kasurnya, Aji menyambar ponsel yang tergeletak di meja. Dilihatnya layar ponsel yang menampakkan wajah ayu Inas yang mengenakan kebaya. Teringat kekonyolannya sendiri telah mengira cewek itu telah dilamar. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Bodoh! batinnya. Masih menatap foto Inas yang ayu, Aji merasai dadanya mulai sesak karena perasaannya yang meletup-letup membayangkan akan seperti apa pertemuannya dengan Inas hari ini.


Aji sudah benar-benar tak sanggup lagi menahan perasaannya. Dia sudah berniat akan menumpahkannya hari itu juga. Tak ada kesempatan lain lagi. Sabtu dia sudah harus terbang memenuhi panggilan tugas dari perusahaannya dan entah sampai kapan kembali. Dia tak mengira akan sedekat ini dengan Inas di waktu yang seperti ini. Waktu yang membuatnya bimbang untuk pergi. Sebelumnya dia sudah sangat mantap menapaki karirnya di kantor pusat di luar kota, tapi sejak Sabtu kemarin hingga Minggu dia berbalas pesan dengan Inas, membuatnya sedikit berat untuk pergi.


Tak ingin larut dalam bimbang di hatinya. Aji memilih merapikan kamar kosnya, membuang jauh-jauh perasaan bimbang yang menyelimuti hatinya. Dia harus pergi. Dan sebelum itu dia akan menyelesaikan urusan hatinya yang tertunda sekian lama karena keragu-raguannya. Dia tak lagi peduli apakah Inas masih memadu kasih atau tidak. Sekarang dia ingin menjadi sedikit egois. Tidak. Lebih egois dari sebelumnya. Hari ini. Pasti.


***


Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan pagi itu. Inas tak ingin berlama-lama lagi. Dia segera berangkat setelah selesai memantas diri di depan cermin. Menuju halte bus yang akan mengantarnya bertemu cinta remajanya. Seperti akan menemui kekasihnya saja, Inas begitu cerah hari ini. Senyum terpasang di wajahnya sedari bangun tidur.


Entah mengapa perasaannya begitu ringan hari ini. Mungkinkah karena akan bertemu Aji? Diingatnya kembali percakapannya dengan Aji di telepon tadi malam. Nada suara Aji terdengar sangat serius ketika mengatakan ingin bertemu, bahkan sampai ingin menemuinya di rumah. Ada apa gerangan? Mungkin karena Aji akan dimutasi. Tapi kenapa sampai ingin sekali menemuinya? Siapa dia buat Aji? Teman? Pacar? Entah. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di otak Inas seiring bus yang membawanya melaju, mengantarkannya menemui cinta remajanya.


Tanpa disadarinya bus sudah berhenti di tempat tujuan yang ditujunya. Benteng V. Terlilhat Aji sudah menunggunya di dekat halte, bersandar pada motor yang diparkirkannya di situ.


“Sudah lama kak?” tanya Inas ketika sudah di hadapan Aji.


“Belum. Baru juga sampainya. Yuk.” ajak Aji sambil menaiki motornya, memberikan helm kepada Inas.

__ADS_1


“Kemana kak?” tanya Inas yang heran karena dipikirnya mereka akan menghabiskan waktu jalan-jalan di benteng seperti sebelumnya.


“Naik aja sih. Ntar juga tahu.” ucap Aji dengan senyum menggoda. Inas memukul bahu Aji sambil naik ke boncengan, memasang helm dan siap berangkat menuju tempat yang tak diketahuinya.


Sepanjang perjalanan hanya ada hening diantara Aji dan Inas. Keduanya sedang asyik bersama pikirannya masing-masing. Aji yang masih bergulat dengan rasa gugupnya untuk mengutarakan perasaannya melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Inas yang semakin dibuat heran dengan Aji yang tak memberitahukan tujuan mereka mencoba menikmati tiap sudut kota Y tanpa bersuara.


Motor Aji melaju, masuk ke sebuah gang yang menjajarkan bangunan-bangunan rumah berhimpit. Tak sedikit bangunan yang bertuliskan “terima kost” di depannya. Nampaknya Inas mulai tahu kemana tujuan Aji mengajaknya.


“Ke kos mu kak?” tanya Inas memastikan.


“Eh? Kok tahu?” tanya Aji yang kaget, sadar dari lamunannya sedari tadi.


“Nebak aja. Mau ngapain di kos?”


“Hmmm... mencurigakan.” ucap Inas sambil memicingkan matanya.


“Kok bisa?”


“Ya kamu diam-diam bawa aku ke kos mu kan mencurigakan. Jangan-jangan…” goda Inas tepat ketika motor Aji berhenti di sebuah bangunan dua lantai yang cukup luas.

__ADS_1


“Jangan-jangan apa?” tanya Aji sambil menoleh menatap Inas yang sedang mencermati bangunan di depannya.


“Ini kos mu kak? Gedhe amat.” tanya Inas sambil turun dari motor. Matanya masih menelusuri bangunan tempatnya berhenti.


“Iya. Yang enak tempatnya. Bebas pula mau keluar masuk jam berapa aja oke.” jawab Aji sambil menuntun motornya menuju tempat parkir yang tersedia.


“Mmm… bebas ya. Bebas juga bawa cewek keluar masuk?” tanya Inas dengan nada menggoda.


“Hehehe. Bisa aja kamu. Gak takut masuk kos cowok?”


“Udah biasa.” jawab Inas sambil meringis memperlihatkan tatanan giginya yang rapi. Aji mengacak kepala Inas, gemas. Kemudian berjalan menuju tangga, menuju kamarnya di lantai dua. Inas mengekor dalam diam. Tak ada perasaan aneh atau janggal ketika dia mengikuti Aji.


Setelah sampai dilantai dua, Aji membuka kamar yang paling dekat dengan tangga.


“Masuk de’.” Ajaknya pada Inas. Inas masuk perlahan, mencermati kamar dengan luas 3mx4m. Cukup rapi untuk ukuran kamar cowok. Penataan ruang yang simple dengan sebuah kasur, almari kecil, meja kecil dengan beberapa buku tertata rapi di atasnya.


Inas tanpa malu-malu langsung masuk, menuju ke meja yang terdapat sejumlah buku. Beberapa diantaranya novel-novel Indonesia yang belum pernah dia baca. Maklum, dia lebih suka membaca novel terjemahan daripada novel asli dalam negeri. Inas membungkuk di depan meja, fokus membaca beberapa judul novel yang ada di sana. Tanpa disadarinya ada dua tangan sudah melingkar di pinggangnya. Aji memeluknya dari belakang, membuat Inas terkejut dan seketika menegakkan tubuhnya.


“Gini dulu aja de’. Sebentar aja.” ucap Aji ketika merasai tangan Inas yang akan melepaskan pelukannya. Inas menarik nafasnya perlahan, mencoba menahan luapan emosi yang membingungkannya. Dan setelah beberapa detik yang hening, Inas membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aji. Tubuh mereka sangat dekat. Aji masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Inas. Inas menatap Aji lekat. Aji menatap Inas tak kalah tajam. Keduanya saling berpandangan dalam diam.

__ADS_1


Sedetik kemudian bibir Aji sudah bertaut dengan bibir Inas. Inas tak mengelak. Dia pun merasai tiap sentuhan bibir Aji. Aji menatap Inas yang memejamkan matanya sambil terus menciumi bibirnya. Dilihatnya Inas yang seperti menikmati tiap sentuhan bibirnya. Aji semakin terbawa suasana. Dia terus mengecup lembut bibir Inas. Inas pun membalas ciuman Aji. Bibir mereka bertaut. Nafas mereka beradu. Mereka semakin larut dalam suasana intim yang memabukkan. Seperti melampiaskan hasrat mereka yang terpendam selama ini.


"Aku kangen kamu, sayaang..." ucap Aji lirih di tengah-tengah mereka beradu cium. Inas hanya mampu bernafas berat. Aji yang seperti tak ingin berhenti mencumbui Inas, mendorongnya jauh ke dinding kamar kosnya. Ciumannya semakin memburu, menuntut menginginkan lebih. Tangan Aji mulai bergerak, menyusuri lekuk tubuh Inas, mulai masuk ke dalam kaos Inas, menyentuh perutnya. Mulus. Inas masih bergeming, menikmati cumbu yang membara. Sementara tangan Aji mulai naik dan naik, merasai sesuatu yang sintal di balik bra Inas. Aaahhh...


__ADS_2