Rindu Senin

Rindu Senin
Ketahuan


__ADS_3

Sudah beberapa Senin Inas habiskan bersama Nathan dengan penuh kehangatan, cinta dan tawa. Rasa-rasanya dia sudah melupakan cinta remajanya yang sejak pertemuan mereka di Benteng V tidak ada kelanjutan cerita yang berarti. Inas sebenarnya ingin lebih dekat dengan Aji, tapi dia tidak ingin menjadi pihak yang memulai terlebih dulu. Terlebih Aji mengetahui kalau Inas sudah punya kekasih. Dikira aku cewek murahan ntar. Namun, tak dipungkirinya, ketika tengah sepi dan sendiri terkadang dia merindukan cinta masa remajanya itu.


Senin sore kesekian yang akan Inas dan Nathan habiskan bersama. Inas sudah mulai magang dan Nathan sibuk dengan skripsinya. Namun, mereka masih menyempatkan waktu untuk bertemu terlebih Inas sekarang diijinkan kos karena tempat magangnya dekat dengan kampus sehingga mereka memiliki waktu lebih panjang untuk dihabiskan bersama.


"Udah lama nunggu?" tanya Nathan sambil memarkirkan motornya di depan kos Inas. Inas yang duduk menunggu di bangku teras kos berdiri melihat Nathan datang.


"Baru aja keluar. Mau langsung atau duduk sini dulu?"


"Langsung aja yuk. Laper."


Inas langsung keluar dari pelataran kosnya dan membonceng Nathan. Mereka menyusuri jalanan mencari tempat makan asyik sekaligus keliling-keliling menghilangkan kepenatan. Inas memandang langit sore yang cerah keemasan, merasai tiap keindahan yang dipancarkannya. Aahh Senin sore yang indah. Tak terasa motor sudah menepi di sebuah warung makan steak, masih di kawasan kampus.


"Eh, steak? Emang kenyang?" tanya Inas yang heran, tahu seberapa banyak porsi makan Nathan.


"Tambah pesen nasi ntar. Kan kemarin Inas bilang pengen sirloin black pepper?" ucap Nathan enteng.


"Hehe. Makasih yak."


Setelah memesan menu yang diinginkan dan duduk di sudut warung yang agak sepi, Nathan mulai bermain dengan ponselnya. Inas hanya menatapnya, tanpa curiga, hanya sedikit kesal.


"Dion ujian skripsi tadi. Nih lihat foto-fotonya." ucap Nathan sambil menyodorkan ponselnya. Inas meraihnya. Tersenyum kecil sambil menscroll ponsel Nathan.


"Pengujinya siapa aja?" tanya Inas.

__ADS_1


"Pak Indra, Pak Yosep, Miss Andara sama Miss Ria. Keluar dari ruang sidang pucet banget muka Dion." jawab Nathan sambil tertawa kecil.


"Gimana emang?" tanya Inas, masih fokus menatap foto-foto di ponsel Nathan.


"Katanya sih, Miss Andara pertanyaannya susah-susah. Haha."


"Udah bisa ngebayangin wajah Miss Andara pas lagi nanya." tambah Inas.


"Hahaha. Jangan sampe dapet Miss Andara lah kalau sidang." Inas hanya tersenyum mendengar harapan Nathan, masih fokus di ponsel Nathan.


"Nathan ke toilet bentar ya." pamit Nathan. Inas hanya mengangguk, masih tersenyum melihat foto-foto konyol kekasihnya bersama teman-temannya, merayakan sidang skripsi Dion yang telah usai.


Ketika tengah asyik melihat foto-foto yang mengundang tawa itu, tiba-tiba satu pesan singkat masuk. Inas otomatis melirik ke pop-up notification yang muncul di bagian atas layar ponsel Nathan. Matanya terpaku, hatinya mendidih. Dari penggalan pesan singkat yang dia baca di pop-up notification, Inas sudah bisa menduga. Inas masih tetap bergeming tanpa fokus bahkan ketika pesanan mereka sudah tiba di meja.


"Iya." jawab Inas singkat, kemudian mulai memakan steak di hadapannya.


"Abis ini jalan-jalan yuk. Nathan ma...."


"Gak usah, balik ke kos aja. Inas capek." potong Inas sambil memakan steaknya dengan cepat.


Nathan hanya melihat Inas dengan penuh tanda tanya. Belum diraihnya lagi ponselnya sekembalinya dia dari toilet sehingga Nathan tak tahu kalau ada pesan singkat yang membuat Inas menjadi aneh. Mereka makan dalam diam. Ketika sudah akan memasukan suapan terakhir ke mulutnya, Nathan melihat air mata Inas mengalir.


"Kamu kenapa, Nas?" tanya Nathan khawatir. Inas hanya diam, masih menangis dalam diam. Sepertinya dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya yang memaksa keluar.

__ADS_1


"Inas kenapa? Sakit?" tanya Nathan lagi yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Inas kecuali air matanya yang semakin deras.


Bingung harus melakukan apa, Nathan yang semula duduk di hadapan Inas bangun dan duduk di sebelah Inas, menghapus air matanya dan memeluk pundaknya.


"Inas mau pulang." ucap Inas lirih. Tanpa banyak bertanya lagi, Nathan mengantar Inas kembali ke kosnya. Sepanjang perjalanan, dua sejoli itu hanya terdiam. Senja yang indah menyeruak sama sekali tak sesuai dengan suasana hati masing-masing.


Sampai di kos, Inas langsung masuk menuju gerbang kos tanpa menatap Nathan. Nathan dengan segera meraih lengan Inas. Menatap Inas penuh tanya. Inas hanya terdiam.


"Kenapa, Nas?" tanya Nathan lirih. Inas masih bergeming. Nathan menggoyangkan lengan Inas pelan, meminta jawaban.


"Kamu tahu aku paling tidak suka dibohongi. Seandainya pun kamu mengatakannya dari awal, aku gak akan sekecewa ini. Paling tidak, aku menghargai kejujuran mu." jawab Inas sambil melepas tangan Nathan dan berlalu masuk ke dalam kos meninggalkan Nathan yang membatu mendengar jawaban Inas.


Inas meninggalkan Nathan tanpa sekali pun menoleh ke arah Nathan lagi. Hatinya sudah sangat kecewa dan marah. Kekasih yang selama ini dipercayanya sudah mengkhianatinya. Inas bukan tipe cewek pencemburu ataupun posesif. Dia tidak akan sembarangan cemburu selama Nathan menceritakan cewek-cewek yang dekat dengannya Inas tidak akan mempermasalahkan apapun. Namun, kali ini Inas merasa dibohongi. Nathan tak pernah sekali pun menceritakan sedekat apa hubungannya dengan cewek itu. Padahal jika Nathan menceritakannya, Inas mungkin tak akan semarah ini.


Cemburu, kecewa, dan marah menjadi satu. Menumpuk di dadanya yang kian terasa sesak. Inas masuk ke dalam kamar kosnya. Mengunci diri. Tak ingin satu pun penghuni kos menemaninya. Dia hanya ingin sendiri. Melanjutkan tangisnya yang tertahan sedari tadi. Inas duduk di samping kasurnya, memeluk bantal dan meredam suara tangisnya. Senja Senin kali ini sungguh menyakitkan. Mengecewakan!


***


Nathan bingung. Sejak dia keluar dari toilet air muka Inas berubah bahkan menangis! Ketika ditanya pun Inas tidak menjawab. Inas tetap menghabiskan makanannya dan Nathan cukup lega Inas masih mau menyantap makanannnya. Nathan sudah merencanakan mengajak Inas jalan-jalan setelah makan, tapi Inas menolak, menyuruh Nathan mengantarnya kembali ke kos. Di depan kos Inas, Nathan mencoba bertanya lagi ada apa dengan Inas.


"Kamu tahu aku paling tidak suka dibohongi. Seandainya pun kamu mengatakannya dari awal, aku gak akan sekecewa ini. Paling tidak, aku menghargai kejujuran mu." jawaban Inas sontak mengejutkan Nathan. Aku-kamu yang berarti Inas marah!


Menatap nanar punggung Inas yang menghilang di balik pintu kos, Nathan menghela nafas panjang. Mengambil ponselnya hendak menghubungi Alex, Nathan mengusap layar ponselnya dan menyadari apa yang membuat Inas marah, kecewa. Sebuah pesan singkat dari Trisna.

__ADS_1


Sayaaaang... lagi apa? Aku kangen.


__ADS_2