
Sudah berhari-hari Inas mengacuhkan pesan singkat ataupun telepon dari Nathan. Pun halnya dengan pesan singkat yang dikirim Aji sepulang Inas dari Benteng V. Inas tak membalas pesan singkat dari kedua lelaki itu. Seperti sudah lelah dengan urusan percintaan, Inas merasa sedikit terbiasa dengan kesendiriannya, meski tak ia pungkiri terkadang dia merindukan Nathan. Sudah terbiasa ada Nathan sejak hampir tiga tahun belakangan ini.
Hhh... Inas merasa jauh lebih ringan setelah menghabiskan beberapa hari ini sendiri. Menyibukkan diri dengan magang dan rencana penelitian untuk skripsinya. Ternyata patah hati membuatnya lebih cepat melangkah menuju kelulusan. Setidaknya Inas bukan tipe cewek yang akan berlarut-larut dalam kesedihan patah hatinya. Dia tetap makan sehari tiga kali bahkan dengan porsi yang lebih banyak. Tetap becanda dan tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Tetap menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dunianya tetap berputar seperti biasa meski hatinya tengah remuk dan dalam proses rehabilitasi.
Sebuah pesan singkat bersarang di ponselnya, ketika Inas beranjak hendak mandi pagi itu. Dari Nathan.
Nathan kangen Inas. Kangen banget.
Inas menghela nafas panjang. Pesan singkat itu yang dikirim Nathan tiap pagi tiga hari belakangan ini. Nathan terus mengirim pesan singkat meski Inas tak pernah membalasnya. Kangen atau sekedar mengingatkan Inas untuk makan. Padahal tak perlu diingatkan pun Inas pasti makan. Dan akhirnya, hari itu Inas mulai melunak. Dia mengetikkan sesuatu sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi.
Iya...
***
Nathan sudah tak tahan dengan semua ini. Beberapa hari tanpa kabar dari Inas. Berusaha menemui di kos ataupun di kampus adalah hal yang percuma. Inas selalu menghindarinya. Mencoba mencari kenyamanan dengan lebih sering menghubungi Trisna pun menjadi hal yang sia-sia. Dia malah semakin teringat dengan Inas!
Pagi itu seperti biasa, Nathan mengirim sebuah pesan singkat untuk Inas. Dia masih berusaha merajuk. Dia tak ingin kehilangan Inas begitu saja. Pesan singkat yang mewakili perasaannya.
Nathan kangen Inas. Kangen banget.
Sudah sangat lama Nathan tak melihat wajah Inas. Gambaran terkahir yang muncul di kepalanya adalah saat Inas menangis, menumpahkan amarah dan kekecewaannya terhadap Nathan. Dia tak pernah tahu kalau sangat menyakitkan membuat Inas cemburu dan marah. Rasanya ingin memeluk tubuh mungil Inas waktu itu. Ah...memeluk. Nathan rindu aroma tubuh Inas yang khas yang selalu berhasil membuatnya terlena dan tak ingin melepaskannya ketika mereka tengah melepaskan hasrat melalui ciuman dan pelukan.
Dering ponsel membangunkan Nathan dari lamunannya. Satu pesan singkat masuk dari Inas. Wajah Nathan berubah menjadi lebih cerah.
__ADS_1
Iya...
Meski hanya balasan singkat, Nathan sangat lega. Selangkah lebih maju dari hari kemarin. Diketikkannya lagi sebuah pesan untuk Inas.
Nanti ketemu ya? Nathan kangen meluk Inas.
Berharap akan ada balasan yang membahagiakan, Nathan beranjak berjalan menuju kamar mandi, melenyapkan sisa-sisa kekusutan semalam dan kemurungannya selama ini. Pagi yang indah.
***
Inas sudah bersiap berangkat menuju tempat magangnya, sebuah instansi pemerintahan di kota S. Dia sudah duduk di teras kosnya menunggu Rio menjemputnya. Mereka berdua ditempatkan magang di instansi yang sama. Inas merasa bersyukur Rio magang di tempat yang sama dengannya. Selain bisa berangkat bareng, di tempat magang jadi tidak membosankan. Tak lama Inas duduk menunggu di depan teras kosnya, Rio sudah tiba di depan kos Inas.
"Udah sarapan?" tanya Rio. Inas hanya menggeleng.
"Masih sempet. Kita makan buryam tempat biasa aja." Rio menenangkan Inas yang khawatir terlambat sampai tempat magang.
Tanpa menjawab, Inas langsung membonceng Rio. Hanya butuh waktu lima menit untuk tiba di warung bubur ayam langganan mereka. Setelah memesan dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat, Rio duduk di depan Inas yang terlebih dulu mencari tempat duduk.
"Lu keliatan lebih oke hari ini, Nas. Udah baikan?" tanya Rio yang selama ini tahu cewek di depannya tengah menyimpan beban yang tak ingin dia tahu. Mungkin belum. Entah.
"Eh? Emang aku kenapa?" tanya Inas salah tingkah.
"Ya akhir-akhir ini lu keliatan gak oke. Kurang fokus gitu di tempat magang. Ada masalah?"
__ADS_1
Inas terdiam. Sedikit ragu untuk menceritakan tentang Nathan.
"Masalah sama kak Nathan?" tanya Rio yang langsung pas tepat sasaran.
"Kalau lu gak mau cerita ya gak apa-apa sih, Nas. Itu hak lu. Cuma gue sedih aja kalau liat lu berantakan gini. Kayak bukan lu aja." tambah Rio.
"Makan dulu kalau belum mau cerita." ajak Rio ketika pesanan bubur ayam mereka sudah mendarat di meja.
Acara sarapan pun hanya diiringi dengan suara sendok yang beradu dengan mangkok. Inas belum ingin membuka mulutnya untuk bicara tentang sakit hatinya. Rio hanya diam, menunggu Inas siap bercerita sambil menikmati bubur ayam yang memang paling juara di sekitar kampus. Saat Rio sudah menyuapkan suapan terakhir bubur ayamnya, Inas mulai perlahan menceritakan beban di hatinya selama beberapa hari terakhir ini.
"Aku gak sengaja baca chat dari cewek di hp Nathan. Isinya...." suara Inas seperti tertahan. Sulit mengatakannya. Rasa sakit yang menghujam kembali terasa di dadanya. Sesak.
"Kak Nathan selingkuh?" sahut Rio terkejut. Inas diam beberapa saat.
"Aku belum tahu pastinya. Dia udah minta maaf. Cuma dia belum ngejelasin soal itu lebih detil. Aku juga waktu itu jengah dan males banget liat dia. Jadi ya belum ada penyelesaian." ucap Inas perlahan, kemudian meminum teh hangat yang sedikit melegakan hatinya.
"Cewek mana? Lu kenal?" tanya Rio penasaran, tapi masih menahan diri agar tidak terlampau emosi. Mengetahui cewek yang sangat dijaganya tersakiti sudah cukup membuatnya geram. Padahal selama ini dia sangat mempercayai Nathan.
"Dia pernah cerita tentang cewek itu. Gebetannya waktu SMA. Cuma itu aja ceritanya. Aku pikir udah gitu aja gak ada apa-apa antara mereka. Aku tahu mereka sering komunikasi, cuma ya itu aku gak tahu sampai sejauh apa hubungan mereka. Sampai kapan hari gak sengaja aku baca pop-up notification di hp nya dan isinya... sudah cukup menjelaskan posisinya." Inas berhenti. Terlihat genangan di pelupuk matanya. Rio yang melihatnya dengan refleks menggenggam tangan Inas. Mencoba menguatkannya.
"Lu harus bicarain ini baik-baik sama kak Nathan. Setidaknya kalau harus berakhir ya berakhir dengan baik-baik dan jelas. Kalaupun bisa diatasi semoga kedepannya gak keulang lagi. Gue gak bisa liat lu sakit kayak gini." ucap Rio.
Menceritakan semuanya kepada Rio ternyata membuat hati Inas terasa lebih ringan. Dia menepuk punggung tangan Rio yang menggenggamnya.
__ADS_1
"Makasih ya. Berangkat yuk. Bisa telat ntar." ajak Inas diiringi senyuman yang tak dibuat-buat. Tanpa membahas apapun lagi kedua manusia itu berangkat menuju tempat magang bersama hati masing-masing yang lebih tenang. Makasih.