
Tiga tahun kemudian...
Gerimis masih membasahi Senin senja yang sepi di kota Z. Aji yang sedang menikmati cuti di kampong halamannya terlihat keluar dari salah satu apotek di kota Z. Masih berdiri di teras apotek, Aji sedikit menepi dari pintu masuk apotek, menyulut rokoknya dan memandang gerimis yang seolah tak mau berhenti.
“Hhhh...” Aji menghela nafas sambil menghembuskan asap rokoknya jauh ke udara. Masih enggan beranjak menembus gerimis. Kalau bukan karena mamanya yang memintanya untuk membelikan obat anti nyeri dia tidak akan mau keluar rumah menembus gerimis. Dingin. Dihisapnya lagi rokok di tangannya, sambil melihat suasana kota Z yang lama dia tinggalkan.
Kota kecil tempat lahirnya, tempat dia menghabiskan masa remajanya, tempat nostalgi kecilnya tinggal. Apa kabarnya? Sudah empat tahun berlalu sejak pesan singkat terakhir yang ia kirimkan kepada Inas. Pesan singkat yang tak mendapat balasan. Pesan singkat yang sedikit ia sesali.
Kamu lagi sibuk banget ya de’?
Engga sih kak. Kenapa?
Aku rindu. Ketemu bisa?
Kan kamu jauh kak.
Minggu depan aku pulang, dapet libur.
Mmm... gimana ya...
Ayolah. Sebentar aja.
Nanti aku pamit sama cowok ku bilang apa dong? Hehe
Hah? Kamu masih jalan sama dia?
Iya. Kenapa kak?
Kirain udah putus.
__ADS_1
Emang kalau aku putus, kamu mau nikah sama aku kak?
Nikah? Batin Aji waktu itu. Bahkan dia belum memikirkan hal itu. Sama sekali. Pertanyaan Inas yang membuat Aji ragu harus menjawab apa. Kalau dijawab iya, dikira gue ngasih harapan. Kalau dijawab engga, dikira gue cuma main-main. Meski bingung, Aji tetap mengetikkan sesuatu dan dikirimkannya kepada Inas.
Entah.
Satu kata singkat yang kemudian menghentikan segalanya. Satu jam, dua jam. Satu hari, dua hari. Satu minggu, satu bulan hingga setahun pesan singkat Aji tak berbalas. Aji yang selalu sembunyi-sembunyi melihat akun sosmed Inas kemudian mendapati Inas mengunggah foto-foto pernikahannya dengan kekasihnya. Ada rasa sesal di hati Aji. Seandainya dia bisa menjelaskan kebingungannya waktu itu kepada Inas, apakah akan berbeda ceritanya?
“Hhhh...” lagi-lagi Aji menghela nafas sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Tersadar dari lamunannya tentang masa lalu. Sepertinya dia selalu terlambat menyadari arti sosok Inas di hidupnya. Sama seperti waktu remaja dulu. Dan sekarang lebih parah. Dia tidak mungkin merusak rumah tangga orang. Bukan prinsipnya. Bahagia gak ya dia?
Ketika tengah bertanya-tanya tentang kehidupan Inas sekarang, mata Aji menangkap sosok yang sangat dikenalnya tengah berjalan perlahan sambil membawa payung dan tas belanjaan di tangannya. Wanita yang sangat dikenalnya, bahkan tak bisa ia lupakan. Inas. Semakin terlihat cantik dan menawan. Aji menatapnya tanpa bersuara. Hamil pun terlihat cantik, batinnya. Aji hanya mampu menatap Inas yang terlihat berjalan tanpa mengetahui ada sesosok pria yang tengah memperhatikan lakunya. Menatap Inas sampai punggungnya tak lagi terlihat. Masih cantik.
***
Senin malam masih berteman gerimis. Seperti Aji yang masih terbayang nostalgi kecilnya. Melihatnya lagi setelah sekian tahun tak bersua membuat hati Aji seperti tergores sembilu. Perih. Dia merindukannya selama ini. Tak menyangka Aji akan melihat nostalgi kecilnya lagi dengan posisi yang sudah jauh tak bisa terjangkau lagi.
Pikiran Aji masih menerawang menyusuri Senin senja, di teras apotek, ketika ia menangkap sosok Inas yang berjalan sendiri dengan perut yang sudah terlihat membuncit. Kenapa belanja sendiri? Ada sedikit rasa sesal di hati Aji tidak menyapa Inas, sekedar berbasa-basi menawarkan bantuan membawakan tas belanjaannya. Mengacak rambutnya kasar, menyambar bungkus rokoknya dan seperti biasa, mulai menghisap satu puntung rokok untuk menenangkan kekacauan hatinya.
Satu puntung rokok sudah habis terbakar. Diambilnya ponsel di meja. Mulai mengetikkan sesuatu.
Ada yang terlihat lewat di depan apotek XX tadi.
Sedikit ragu, tapi kemudian dikirimkannya pesan singkat itu kepada Inas. Aji menghela nafas berat, seperti sudah melepaskan bebannya selama ini. Tak lama ponsel Aji bordering. Dibalas!
Eh? Kamu di situ kak tadi? Kok gak nyapa?
Aji tak menyangka Inas akan membalas pesan singkatnya. Inas terkesan biasa saja.
Hehe iya. Agak kaget juga tadi, jadi gak nyapa.
__ADS_1
Lagi cuti kak?
Iya, biasa dapet jatah libur bulanan. Kamu sehat de’?
Sehat kak. Kamu?
Sehat juga. Sejenak Aji berpikir. Kemudian melanjutkan mengetik. Kamu tambah cantik. Aji sudah akan menekan tombol kirim tapi kemudian dihapusnya lagi.
Sehat juga. Ya udah de’, Sehat-sehat ya.
Iya kak. Kamu juga. Sukses ya.
Aji merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Memang sudah berbeda, tapi Inas tetap hangat. Andai saja dulu dia memberikan jawaban yang berbeda, mungkinkah dia memiliki Inas sekarang? Hhhh terlanjur.
***
Inas terkejut melihat notifikasi pesan singkat yang masuk. Dari Aji. Tak disangkanya dia masih menyimpan nomornya. Inas mencoba membalas pesan singkat dari Aji dengan biasa saja. Baginya, yang terpenting sekarang adalah Nathan dan calon bayi yang sedang dikandungnya.
Pikirannya menerawang setelah membalas pesan singkat dari Aji, merangkai sajak perpisahan dengan cinta remajanya itu.
Aku tak pernah membenci Senin
Karena aku selalu dapat berjumpa dengan mu setiap Senin
Sampai sekarang pun aku selalu merindukan Senin
Bukan, bukan karena mu
Namun Senin selalu memberi nafas baru dalam hidupku
__ADS_1
Semoga bahagia cinta remaja ku
Karena takdir ku dan takdir mu hanya sekedar cerita indah masa lalu