
Setahun lebih berlalu. Inas memandang dirinya di cermin. Wajahnya yang elok kian menawan dengan riasan simple tapi terlihat elegan. Hari besar yang dinantinya telah tiba. Tak terasa. Rasanya baru kemarin hatinya dibingungkan dengan dua pria yang menurutnya sama-sama memiliki arti tersendiri di hatinya. Dia tahu tak bisa memiliki keduanya. Salah satu atau tidak keduanya. Dan kini, dia sudah akan bersanding dengan pilihan hatinya, mengucapkan janji suci yang akan mengikat keduanya hingga maut menyapa.
Masih dilihatnya pantulan wajahnya di cermin. Bayangan masa lalu seakan terproyeksi di hadapannya. Kisahnya yang perih dengan Nathan, mengalami jatuh bangun yang menguras air mata dan perasaannya. Kisahnya yang syahdu dengan Aji, mengarungi lorong nostalgi, menumpahkan seluruh emosi masa lalu yang terpendam. Ahh... sudah pada akhirnya.
Akhir kisahnya tak pernah disangkanya akan begini. Saran dari Rio yang dilakukannya memang membuahkan hasil di hatinya. Mencari ketenangan tanpa berhubungan dengan keduanya, membuat Inas tersadar keputusan apa yang akan diambilnya. Dan dia yakin tidak akan menyesalinya.
Diingatnya kembali pesan singkat terakhirnya dengan Aji beberapa bulan setelah Inas meminta pendapat Rio tentang masalahnya. Bermula dari obrolan ringan dengan menanyakan kabar Inas yang lama tak memberi kabar hingga berujung pada pesan singkat yang membawa aroma rasa rindu yang tak bisa lagi tertahan.
Kamu lagi sibuk banget ya de’?
Engga sih kak. Kenapa?
Aku rindu. Ketemu bisa?
Kan kamu jauh kak.
Minggu depan aku pulang, dapet libur.
Mmm... gimana ya...
Ayolah. Sebentar aja.
Nanti aku pamit sama cowok ku bilang apa dong? Hehe
Hah? Kamu masih jalan sama dia?
Iya. Kenapa kak?
__ADS_1
Kirain udah putus.
Emang kalau aku putus, kamu mau nikah sama aku kak?
“Tok tok...” suara ketukan di pintu kamar Inas membuyarkannya dari lamunannya.
“Acara ijab qobul sebentar lagi mulai. Pengantin wanita udah siap?” tanya suara di luar pintu kamar.
“Oh, udah kok, udah.” jawab perias pengantin yang merias wajah Inas.
“Yuk mbak, siap-siap ke depan.” ajak perias pengantin kepada Inas. Inas hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian berdiri dibantu sang perias. Inas yang berjalan ke ruang ijab qobul diiringi dua bridemates di kanan kirinya terlihat sangat menawan dengan senyuman yang seakan tak akan pernah pudar.
Di ruang tamu rumahnya yang sudah disulap menjadi ruang ijab qobul, telah menunggu para penghulu, saksi dan tentu saja pengantin pria yang sudah siap mempersuntingnya. Inas menatap ke arah pengantin prianya. Malu-malu, seakan baru pertama kali bertemu. Bridemates sudah selesai mendudukkan Inas di samping pengantin prianya. Acara ijab qobul segera dilaksanakan. Akhirnya.
***
Rasanya baru kemarin Nathan masih berusaha meyakinkan Inas untuk mencoba bangkit bersamanya, menerima luka di hatinya. Sudah hampir putus asa rasanya. Sudah berbulan-bulan, mungkin hampir setahun, Nathan berjuang membangun kembali kepercayaan Inas dan kepercayaannya kepada Inas bersamaan sekaligus. Entah. Dia hanya ingin Inas benar-benar yakin, meskipun dirinya sendiri menahan perih karena luka yang Inas goreskan di hatinya. Dia tidak peduli harus berjuang berapa lama. Dia hanya ingin Inas. Itu saja.
“Ingat kan? Nathan pernah bilang kalau Nathan pengen punya tujuan sama Inas. Ingat kan, Nas?” ucap Nathan saat itu, mencoba mengingatkan Inas akan arti hubungan mereka bagi Nathan. Inas hanya terdiam kala itu.
“Nathan bakal buktiin kata-kata Nathan itu. Minggu depan tunggu Nathan. Inas bakal lihat nanti.” janji Nathan kepada Inas yang membuat Inas heran dan penasaran apa yang akan dilakukan Nathan minggu depan.
Sukses membuat Inas terkejut dan haru, ketika Nathan datang ke rumah Inas pada hari Minggu sore bersama ayah dan ibu tirinya serta adiknya, Leon. Ayah Nathan yang semula membuka obrolan basa-basi berubah serius ketika mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah untuk melamar Inas. Inas hanya terdiam, menunduk, tak menyangka Nathan akan seserius itu memperjuangkan dirinya.
“Untuk jawabannya, saya serahkan langsung kepada Inas ya Pak.” jawab ayah Inas menanggapi lamaran dari ayah Nathan.
“Gimana Nas?” tanya ayahnya kemudian.
__ADS_1
Bibir Inas kelu, kaku. Seakan sulit mengucapkan kata yang sangat singkat untuk menjawabnya. Hatinya masih terkejut dan mencerna, ada gemuruh suka cita di sana. Beradu. Membuatnya hanya sanggup mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan ayahnya. Semua merasa lega dan tertawa melihat Inas yang seperti malu-malu menjawab pinangan dari Nathan.
“Mari kita mulai ijab qobulnya.” ucapan penghulu membuyarkan Nathan dari flashback acara lamarannya yang sederhana.
Penghulu sudah mempersilakan ayah Inas untuk duduk menjabat tangan Nathan. Nathan terlihat gugup tapi berusaha bersikap tenang. Setelah semua persiapan siap, penghulu memberi aba-aba kepada ayah Inas untuk menikahkan anak gadisnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Trengginas Saraswati binti Suherman dengan mas kawin berupa uang lima ratus ribu rupiah dibayar tunai.” dengan lantang Nathan mengucap ijab qobul diiringi ucapan sah dari para saksi dan tamu yang hadir. Nathan lega, melihat ke arah Inas yang hanya tersenyum simpul. Isteri ku...
***
Rangkaian acara ijab qobul dan resepsi pernikahan berjalan lancar. Malam minggu syahdu pasangan pengantin baru dimulai. Keduanya terlihat lelah tetapi gurat bahagia terpancar dari raut muka Inas dan Nathan. Siapa yang tak bahagia menikah dengan kekasih hatinya? Seperti sudah tak sanggup lagi menyangga raganya yang seharian duduk di kursi pelaminan, Inas merebahkan dirinya di ranjang kamarnya.
“Capek?” tanya Nathan. Inas hanya menggeliat.
“Istirahat aja.” ucap Nathan lagi.
“Nathan masih mau ngapain?” tanya Inas.
Tanpa menjawab, Nathan merebahkan tubuhnya di samping Inas. Menatap Inas dalam-dalam. Membuat Inas jadi salah tingkah.
“Apaan?” tanya Inas salah tingkah.
“Lagi ngliatin isteri ku. Cantik.” ucap Nathan. Inas hanya tersipu.
“Makasih ya.” ucap Nathan kemudian.
“Buat?”
__ADS_1
“Udah mau jadi isteri ku.” ucap Nathan sambil mengecup lembut kening Inas. Inas hanya mengangguk. Merasai damai di hatinya. Merasai keputusannya memberi kesempatan kepada Nathan tidak salah. Tanpa Inas sadari, Nathan sudah memeluk tubuhnya sambil memejamkan mata. Hangat. Dan keduanya terlelap, menghabiskan malam pengantin mereka dengan tidur lebih awal. Hangat.