
Inas dan Rio sudah disibukkan dengan menerjemahkan beberapa file setibanya mereka di tempat magang. Kesibukan yang selalu membuat Inas merasa lega karena tidak perlu menghabiskan tenaga ekstra untuk melupakan sakit hatinya, meski terkadang seperti yang Rio katakan, kurang fokus yang mengakibatkan akurasi terjemahannya menurun.
Kesibukkannya di tempat magang selalu menguras perhatian Inas sehingga dapat membuat Inas sama sekali tidak mempedulikan ponselnya seharian. Terkadang dia lupa mengecek ponselnya itu dan baru akan mengeceknya ketika sudah tiba di kos. Namun, hari ini entah mengapa, ketika istirahat makan siang ini Inas membuka ponselnya, mendapati ada sebuah pesan singkat masuk dari beberapa jam yang lalu.
Nanti ketemu ya? Nathan kangen meluk Inas.
Inas terpaku sesaat. Tidak tahu harus membalas atau tidak. Perasaannya memang sudah lebih ringan daripada kemarin-kemarin. Namun, mendung itu belum sepenuhnya pergi, masih menggantung, menggelayuti di hati Inas. Rio yang melihat Inas terlihat melamun dan berhenti dari makan siangnya mulai menyadarkannya.
"Makan dulu, Nas. Keburu abis jam makan siangnya." ucap Rio. Tak ada respon dari Inas. Sepertinya dilema membawa Inas jauh menyusuri alam pikirannya.
"Nas." panggil Rio sambil menggoyangkan bahu Inas.
"Eh iya Yo. Gimana?" tanya Inas yang terkejut, sadar dari lamunannya.
"Makan dulu. Ngapain sih bengong?"
"Hmm.. Nathan ngajakin ketemuan. Masih bingung akunya."
"Bingung apalagi sih? Udah buruan diselesaiin. Lebih cepet kelar kan lebih enak." Rio menyarankan.
"Iya iyaa..."
Sedetik kemudian jemari Inas sibuk mengetikkan balasan pesan singkat untuk Nathan. Hhh... Masih belum siap.
***
Nathan melajukan motornya dengan lumayan cepat menuju salah satu instansi pemerintah di kota S. Sudah jam empat sore.
Siang tadi ketika tengah bosan menunggu dosen pembimbing skripsinya, dia mendapat satu pesan singkat. Pesan singkat yang dinantinya sedari pagi.
Iya. Inas pulang magang jam 4.
Nathan jemput ya?
Iya...
Pesan singkat yang sukses mebuat hati Nathan bersorak riang. Selangkah lagi dan Inas mungkin akan memaafkannya. Dirinya sudah tak sabar ingin segera jam empat sore dan bertemu dengan kekasihnya itu. Masihkah dia kekasihnya? Entah. Dia tak peduli. Yang Nathan ingin hanya bertemu melihat wajah Inas dan memeluk tubuhnya. Mencium aroma tubuhnya yang selalu berhasil menenangkannya.
Setelah akhirnya bergulat dengan urusan skripsi dan pernak-perniknya, Nathan menuju kos Alex untuk merebahkan dirinya sambil menunggu hingga waktu berlalu. Alex sedang sibuk di depan komputernya ketika Nathan sampai di sana. Bukan sibuk menggarap lagu untuk bandnya, melainkan sibuk merevisi skripsinya.
__ADS_1
"Rajin bener bro?" ejek Nathan.
"Deadline udh deket. Tahu sendiri dosbing gue Miss Andara."
Nathan tergelak. Dia tak pernah melihat sahabatnya seserius itu.
"Biasa juga copy paste trus edit dikit." masih dengan nada mengejeknya.
"Lu tahu kan. Ini Miss AN-DA-RA. Mana bisa copy paste edit. Bunuh diri lu!" Alex mengomel dengan masih menatap lurus layar komputernya. Lagi-lagi Nathan tergelak.
"Eh, ntar nyewa kamar lu ya?"
"Ngajakin siapa?"
"Inas lah. Siapa lagi?"
Seketika wajah Alex berpaling, menatap lurus ke arah Nathan. "Udah baikan?"
"Belum. Ntar baru mau."
"Yaelah emang dia mau belum baikan diajakin kemari?" kembali konsentrasi menatap layar komputernya.
"Alesan lu. Paling abis itu mau lu *****-***** kan?"
Nathan hanya tertawa kecil mendengar komentar Alex.
"Ya udah sih. Kebetulan ntar sore gue mau nemenin Liana ke tempat tantenya. Lu pake aja. Kunci gue taruh tempat biasa kalau nyampe sini gue udah gak ada."
"Sip. Thanks bro!"
"Hmm.."
Dan waktu selanjutnya Nathan hanya merebahkan diri. Sambil sesekali mengejek Alex yang sedang serius mengerjakan revisian skripsinya. Hatinya sudah tak begitu terasa berat mengingat dia akan bertemu dengan Inas hari ini.
Motor melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Nathan tahu Inas tidak suka menunggu. Terlambat!
***
Inas berdiri di lobi instansi tempat ia magang. Menunggu seseorang yang sudah berjanji menjemputnya. Semenit yang lalu Rio sudah meninggalkannya. Sebenarnya Rio ingin menemani Inas hingga Nathan tiba, tapi Inas menolaknya. Dia hanya ingin menunggu dalam sendiri. Sudah jam empat lewat lima menit. Belum juga terlihat sosok Nathan. Inas yang memang benci menunggu tidak bisa duduk diam. Dilihatnya jam tangannya. Jam empat lebih enam. Dan akhirnya sosok yang ditunggunya datang. Tanpa mengucap apapun Inas langsung membonceng Nathan.
__ADS_1
"Maaf ya agak telat." ucap Nathan.
"Iya." jawab Inas singkat.
"Makan dulu mau?"
"Hmm."
"Mau makan apa?"
"Terserah."
Nampak tahu akan sia-sia saja bertanya kepada Inas, Nathan langsung melajukan motornya menuju warung batagor langganan mereka. Sepanjang perjalanan hanya terdengar deru knalpot. Hening. Tak ada pembicaraan. Pun ketika makan bersama. Hanya ada diam diantara mereka.
Tanpa kata, Inas membonceng Nathan setelah usai makan. Dia tidak bertanya kemana Nathan akan membawanya. Nathan juga tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Inas hanya terdiam. Dia tahu jalan yang diambil Nathan adalah menuju tempat kos Alex. Bibir yang sedari tadi terkunci rapat akhirnya terbuka.
"Mau ke tempat kak Alex?" tanyanya kepada Nathan.
"Iya. Kita ngobrol di sana aja." jawab Nathan.
Tak lama kemudian mereka tiba di kos Alex. Nampak sepi. Ternyata Alex tak ada. Nathan mengambil kunci di dekat rak sepatu depan kamar Alex. Seperti sudah tahu bahwa Alex tak ada di kosnya.
"Masuk." pinta Nathan kepada Inas setelah membuka kunci kamar Alex. Inas masuk tanpa kata-kata kemudian duduk di tepi kasur. Masih diam melihat Nathan yang menutup pintu.
"Maafin Nathan, Nas." ucap Nathan setelah duduk di hadapan Inas. Inas hanya terdiam.
"Maaf..." ucap Nathan lagi dengan raut muka yang terpuruk. Diam beberapa saat.
"Udah putus dari dia?" tanya Inas. Nathan hanya terdiam.
"Aku gak mau kamu hubungi dia lagi!" pinta Inas dengan suara bergetar menahan tangis yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Nathan masih terdiam.
"Aku gak mau kamu ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Aku gak suka dia!" kali ini tangisnya pecah.
Nathan yang tak mampu berkata-kata hanya mampu merengkuh tubuh Inas yang bergetar, sesenggukan. Memeluknya erat. Inas hanya menangis dalam pelukan Nathan. Merasa menumpahkan segalanya yang selama ini tertahan.
Inas merasai tangan Nathan perlahan menyapu air mata Inas yang mengalir di pipi dengan masih memeluknya.
"Nathan sayang Inas. Sayang banget." bisik Nathan. Inas merasakan suara Nathan yang sedikit bergetar. Merasai hembusan nafas Nathan yang menyapu pipinya. Dan perlahan sesuatu yang dingin menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Nathan sayang Inas." bisik Nathan lagi setelah mengecup bibir Inas. Inas yang masih sesenggukan tak mampu berkata apapun. Dan di detik berikutnya bibir mereka beradu. Seperti menumpahkan perasaan rindu masing-masing. Inas yang semula hanya diam, kini membalas ciuman Nathan dengan perlahan dan lembut, membuat hasrat Nathan semakin memburu. Benar-benar candu!