
Sepanjang perjalanan pulang wisuda Inas hanya melihat keluar jendela mobil. Menahan sesak yang menumpuk di dadanya. Menahan tangis yang sudah ingin tumpah dari matanya. Menahan amarah yang sudah tak terbendung lagi di hatinya.
Sudah berpuluh-puluh pesan singkat dia kirim kepada Nathan. Tak ada satu pesan pun yang dibalas oleh Nathan. Dia tahu Nathan tak akan sanggup membalas pesan singkatnya yang penuh amarah dan umpatan. Dia tahu Nathan pun sedang mencoba menguasai hatinya untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Namun, Inas tak mau peduli. Dia tak mau tahu. Dia sudah sangat terluka dengan semua ini.
Terlintas di otaknya wajah wanita yang tanpa bersalah datang dan memeluk kekasihnya. Menghancurkan semua rencana acara setelah wisuda yang sudah diangan-angankannya sejak lama. Berfoto bersama, makan bersama keluarga, semua tinggal bayang-bayang. Inas mengutuki wanita itu dalam hati. Wanita yang telah menghancurkan hatinya.
Sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Dengan cepat Inas membuka akun sosmednya dan mencari sebuah nama. Trisna. Banyak pilihan nama yang keluar. Namun, Inas memilih mengklik nama paling atas, dengan foto profil yang dikenalnya. Trisna Wardhani. Tanpa berlama-lama Inas mengetikkan sebuah pesan di inboxnya. Menghujani wanita itu dengan celaan, makian, dan umpatan. Meluapkan seluruh kemarahannya di sana tanpa tahu bagaimana posisi wanita itu sebenarnya.
Merasa bongkahan besar di hatinya telah lenyap, Inas mengirim pesan itu. Meninggalkannya bersarang di inbox Trisna yang Inas yakin akan mengejutkan pemilik akun tersebut. Seakan sudah terlampiaskan semua sesak di dadanya, Inas kembali memandang keluar jendela. Puas.
***
Penat menggelayuti seluruh tubuh Trisna. Dia sudah melemparkan tubuhnya yang lemas itu ke kasur kamar kosnya beberapa menit yang lalu. Semua kejadian di kampus Nathan dan di perjalanan pulangnya membuatnya tak mampu lagi menegakkan badannya. Rasanya ingin terus rebahan selama entah berapa lama.
Tangan kanannya tetap bertengger di atas kepalanya, menutupi matanya yang terpejam yang diam-diam mengalirkan air mata. Tak pernah disangkanya hubungannya dengan Nathan akan seperti ini. Lebih menyakitkan daripada dengan Ferdi dulu. Dan sekarang, siapa dia bagi Nathan sebenarnya? Kekasihnya? Atau kekasih gelapnya? Pesan yang dia dapat dari Inas sungguh menghujam di hatinya.
Heh! Dasar cewek kegatelan. Jauh-jauh dari pacar orang! Jangan ganggu hubungan orang! Cewek gak tahu diri. Situ cewek bukan? Dasar gatel!
Trisna sama sekali tidak tahu harus membalas apa. Dia tak tahu harus membuat pembelaan seperti apa. Tak mungkin mendapat jawaban dengan menanyakan semua ini kepada Nathan. Dia sudah mulai tak mempercayai cowok itu. Tangan Trisna dengan enggan meraih ponselnya. Mencoba bersikap tenang dan dewasa membalas pesan dari cewek di seberang sana yang sedang dipenuhi emosi di hatinya.
Ini Inas? Maaf sebelumnya. Tapi sepertinya akan tambah rumit kalau kita bahas masalah ini lewat berbalas pesan di inbox seperti ini. Jadi, boleh aku minta nomor hp kamu? Ntar kalau ada waktu aku telepon. Sekali lagi maaf ya. Semoga kita bisa bicarain ini baik-baik.
Seperti sudah menumpahkan segalanya, Trisna kembali memejamkan matanya. Mencoba tidur dan melupakan hari ini dan semua yang menghiasinya. Tangan kanannya kembali bertengger menutupi matanya yang terpejam. Sudah tak ada air mata di sana. Nafasnya mulai teratur, perlahan, menandakan dia sudah terlelap. Semoga ini hanya mimpi buruk.
***
__ADS_1
Tiga hari berlalu sejak dia membalas pesan Trisna di inbox akun sosmednya. Belum ada telepon dari cewek itu juga. Inas tidak menyangka bahwa Trisna akan membalas pesannya dengan begitu tenang dan dewasa. Berbeda dengan Inas yang meluap-luap dan tak bisa menahan diri. Inas merasa bersalah sudah mengata-ngatainya dengan kasar.
Inas sudah tak pernah membalas pesan singkat dari Nathan. Dia sudah muak dengan cowok itu. Walaupun tak dipungkirinya terkadang dia merindukannya. Ingin dia berbicara dan menyelesaikan semua yang masih menggantung, tapi bukan saat ini. Belum saatnya. Dia masih menunggu telepon dari Trisna untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan terhadap Nathan, terhadap hubungan asmaranya. Berakhir atau lanjut? Entah.
Dia ingin mengakhirinya. Dia merasa sangat terluka. Dua kali dia mendapat luka yang sama dan yang terakhir jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Dia ingin mengakhirinya, tapi kenapa terasa berat? Di tengah lamunannya yang mengembara jauh, ponselnya berdering. Dilihatnya nomor asing yang tak dikenalinya. Mungkinkah itu Trisna?
"Halo?"
"Halo. Inas ya?"
"Iya. Ini siapa?"
"Aku Trisna. Maaf ya baru sempat telepon. Kemarin-kemarin sibuk ngurus sidang skripsi." suara ramah dan ringan terdengar dari sana.
"Ini sebenernya aku pengen ketemu, cuma akunya lagi repot banget."
"Iya gak apa-apa. Via telepon udah cukup kok." mencoba bersikap tenang.
Diam sesaat.
"Kamu pacarnya kak Nathan?" tanya Trisna to the point.
"Iya."
"Sejak kapan?"
__ADS_1
"Udah tiga tahun kita jadian."
"Oh. udah lama ternyata. Maaf ya. Aku gak tahu. Kak Nathan gak pernah cerita tentang kamu, tentang dia punya cewek. Aku baru tahu kamu pas wisuda kemarin itu. Ayahnya nanyain kamu. Trus waktu aku tanya kamu siapa, dia cuma bilang adik tingkat. Aku tanya lagi apa kamu pacar dia, dia bilang dulu. Aku gak tahu sama sekali soal kamu. Maaf ya, Inas. Kalau aku tahu, aku gak akan terima waktu dia nembak aku." Inas terdiam. Air mata mengalir perlahan. Dia tidak menyangka Nathan menyembunyikan dirinya seperti itu.
"Kamu bakal maafin dia?" pertanyaan Trisna membuat Inas berpikir sejenak. Hanya ada diam diantara mereka.
"Sulit. Aku udah tahu dia selingkuh dari beberapa bulan yang lalu. Aku kira dia udah mutusin kamu. Tapi ternyata belum. Dan jujur aku gak bisa dengan mudah maafin itu semua. Aku minta maaf ya udah berkata kasar tempo hari via inbox."
"Gak apa-apa. Wajar. Aku pasti juga bakalan kayak gitu." ucap Trisna menenangkan Inas.
Hening tercipta lagi. Inas tak mampu berkata apa-apa. Ternyata Trisna juga korban dalam kasus ini. Dia sangat kecewa terhadap Nathan.
"Aku akan mutusin dia. Aku gak bisa jalanin hubungan ini lagi. Dia udah merusak semuanya." ucap Trisna. Inas tak menyangka Trisna akan semudah itu melepaskan Nathan. Atau mungkin dia yang terlalu bertele-tele mengambil keputusan? Entah. Dia belum mampu berpikir jernih.
"Sekali lagi aku minta maaf, Inas. Semoga udah gak ada kesalahpahaman di antara kita."
"Iya. Aku juga minta maaf. Makasih udah mau telepon. Makasih banget."
"Sama-sama. Udah dulu ya."
Seiring telepon dari Trisna berakhir, air mata Inas mengalir tanpa dapat ditahan lagi. Rasa sakit di hatinya bertambah hebat mengetahui bagaimana Nathan seolah tidak menganggapnya ada. Dan selama ini dia sudah membenci wanita itu, yang ternyata sama sekali tidak bersalah. Sakit.
***
Merebahkan tubuhnya sambil menghela nafas. Selesai. Beban berat seakan terangkat dari pundaknya. Hatinya yang selama ini kalut sudah mulai terang. Memang sudah harus berakhir. Jika Nathan tak bisa mengakhirinya, maka dia yang akan mengakhirinya. Pergi jauh dari kehidupan Nathan. Tak akan kembali lagi meski hanya menjadi seorang sahabat kecil seperti dulu. Tak akan bisa. Hatinya sudah sangat terluka. Bukan sekali dia merasakan sakit dikhianati oleh lelaki. Dan itu cukup menjadikan alasan untuk Trisna pergi. Cukup sampai disini.
__ADS_1