
Aji menatap penuh tanda tanya bus yang dinaiki Inas. Masih tergambar wajah Inas yang murung. Meski Aji melihat dari seberang jalan, tapi nampak jelas garis kesedihan di wajah Inas. Kesedihan yang mendalam. Apa gara-gara gue? pikir Aji. Tanpa berasumsi yang aneh-aneh lagi, dikirimnya pesan singkat kepada Inas.
Maaf de' tadi gak bisa nemenin ada urusan. Kamu gak apa-apa kan?
Pesan terkirim. Aji mulai melajukan motornya kembali ke kos dengan dipenuhi rasa bersalah. Seandainya dia menemui Inas meski sebentar tadi mungkin dia tidak akan serisau ini. Otak Aji dipenuhi gambaran wajah murung Inas. Sepanjang jalan menuju kosnya dia terus bertanya dalam hati apa yang membuat Inas sesedih itu. Seandainya dia tadi datang menemui Inas. Namun, berandai-andai juga tidak membantunya meringankan perasaan berat di hatinya.
Aji mengecek ponselnya setelah tiba di kos. Tak ada balasan. Aji semakin risau. Ah kenapa gue gak pergi aja waktu Ayu nyuruh gue pergi tadi? umpatnya kesal pada dirinya sendiri. Mencoba mencari ketenangan, disulutnya satu puntung rokok dan berjalan menuju teras, menikmati rona senja yang perlahan memudar. Ada apa?
***
Langkah Inas berat memasuki kamar kosnya. Senyum yang terkembang tadi pagi waktu berangkat meninggalkan kos, ikut tertinggal di kota Y. Raganya serasa sangat berat. Seharian dia menghabiskan waktu sendirian yang berujung kekecewaan. Dia tidak menyalahkan Aji. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu berharap akan mendapatkan kehangatan dalam pelariannya dari kisahnya dengan Nathan.
"Nas." suara Indah seketika menghentikan tangan Inas yang sudah akan memutar handle pintu kamarnya.
"Tadi kak Nathan ke sini, nyariin kamu." sambung Indah.
"Trus kamu bilang apa?"
"Aku bilang kamu pergi gak tahu kemana, gak pamit gitu." jawab Indah. Inas memang tidak memberitahu siapapun tentang kepergiannya ke kota Y.
"Sip. Trus dia nanya-nanya lagi gak?"
"Engga. Langsung pamit pergi."
"Makasih ya Ndah." ucap Inas sambil memutar handle pintu kamarnya.
"Kamu sama kak Nathan gak apa-apa kan?" tanya Indah yang sudah penasaran sedari kemarin. Inas hanya tersenyum dan berlalu masuk ke kamarnya. Lelah. Inas sedang tidak ingin membahasnya. Indah menghela nafas panjang ketika Inas menutup pintu kamarnya. Bukan urusan gue juga sih, batin Indah.
Inas langsung ambruk di kasur kamar kosnya. Nampaknya memang hanya kasurnya yang saat ini mampu memberi ketenangan di hatinya. Sambil memeluk erat gulingnya, perlahan Inas memejamkan mata. Ada setitik butiran air mata yang jatuh seiring dia memejamkan matanya. Sakit.
***
Pagi itu Nathan terlihat berantakan. Semalaman dia mencoba memejamkan mata tetapi baru menjelang dini hari dia bisa tertidur dan kini ketika mentari masih malu-malu di ufuk timur, dia sudah terbangun. Shit! Bayangan wajah Inas yang menangis terus terlintas dalam pikirannya. Dia tidak pernah merasa begitu terganggu dengan tangis cewek selama ini. Namun, entah mengapa dia begitu sakit melihat Inas yang menahan tangis kemarin.
Inas tidak pernah semarah itu. Nathan ingat setahun setelah mereka pacaran, Nathan menceritakan sesuatu yang mungkin akan membuat cewek lain naik pitam.
"Nathan ketemu Ratna kemarin, temen SD." ucap Nathan di tengah-tengah acara makan sore sepulang kuliah bersama Inas.
"Terus?" Inas bertanya sambil menyuapkan batagor ke mulutnya. Biasa saja.
__ADS_1
"Tambah sexy. haha. Dulu SD cupu banget. Nathan suka ngapelin kakaknya dulu pas SD."
"Kecil-kecil ganjen ya." komentar Inas sambil tersenyum kecil.
"Kakaknya lebih cantik dulu."
"Inas heran kok kakaknya mau diapelin anak bau kencur sih." ledek Inas sambil tersenyum.
"Haha. Mau lah kan Nathan murid paling pinter. Kalau lagi ngapel, Ratna suka curi-curi perhatian gitu." kenang Nathan.
"Trus kemarin ketemu doang?"
"Nganter dia sampe ke rumah. Gak ketemu kakaknya. Sial."
"Ngarep. hahaha. Udah gitu aja nganter doang?" tanya Inas ingin tahu tapi dengan nada biasa bukan nada cemburu.
"Tukeran nomer hp lah. hehe. Sabtu ngajakin ketemuan. Boleh?" tanya Nathan yang sebenarnya berharap Inas cemburu atau marah.
"Terserah Nathan aja sih. Asal gak aneh-aneh aja." jawab Inas datar.
Nathan mengangkat kedua alisnya. Heran. Ini cewek beneran suka sama gue gak sih? batinnya.
Hari Senin selanjutnya Nathan kembali menceritakan pertemuannya dengan Ratna pada Sabtu malam.
"Kemarin jadi ketemuan sama Ratna." ucap Nathan.
"Trus gimana?"
"Iseng nembak, ternyata diterima." jawab Nathan datar.
"Dasar." ucap Inas sambil memukul bahu Nathan.
"Engga kasihan gitu? Nembak kok iseng." tambah Inas. Ekspresi yang biasa saja.
"Haha. Abis kayak ngasih sinyal-sinyal gitu." ucap Nathan cuek, sedikit sebal karena Inas sama sekali tidak terlihat cemburu.
"Abis jadian ngapain?" tanya Inas sambil makan dengan tenang.
"Cium pipinya."
__ADS_1
"Bener cuma pipi?" pancing Inas.
"Mampir bentar ke bibir."
"Dasar. Ganjen."
"Salah siapa mancing-mancing. Kan Nathan normal. Cewek juga jauh, wajar dong tergoda iman." Inas hanya tersenyum. Nathan semakin heran dengan kekasihnya. Ini cewek bukan sih?
"Jangan aneh-aneh ya. Kasihan. Nathan cuma main-main gitu." ucap Inas dengan nada yang biasa. Malah terkesan membela Ratna.
Nathan masih bingung dengan kekasihnya. Tapi Nathan suka. Semakin dikekang dia akan semakin berontak. Namun, Inas sama sekali tidak mengikatnya. Nathan jelas2 menceritakan secara blak-blakan, tapi Inas tidak terlihat marah atau cemburu, malah sebaliknya berpesan kepada Nathan agar tidak melakukan hal-hal aneh kepada Ratna. Mengingat itu semua membuat Nathan tersadar. Mungkin jika dia mengatakan dari awal tentang Trisna, Inas tidak akan semarah sekarang. Mungkin.
Nathan beranjak dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya. Tidak ada balasan pesan singkat dari Inas. Dia sudah menduganya. Menelepon pun percuma. Tak akan pernah diangkat. Matahari sudah mulai meninggi. Nathan memutuskan ke kos Inas untuk bicara lagi. Membujuknya. Meminta maaf.
Ponsel Nathan berdering. Dengan cepat dia meraih ponselnya. Wajahnya yang semula berbinar kembali masam. Bukan nama yang diharapkannya untuk saat ini. Trisna. Sedikit malas tapi tetap diangkatnya.
"Halo sayang. Lagi apa?" sapa Trisna.
"Mau ke kampus." jawab Nathan datar.
"Konsul skripsi?"
"Iya. Udah ya ntar aku telepon lagi, keburu dosennya pergi." Nathan membuat alasan senatural mungkin.
"Oh, oke. Ati-ati ya, sayang. Semangat!"
Setelah menutup teleponnya, Nathan langsung menyambar kontak motornya dan melajukan motornya menuju kekasihnya. Sepanjang perjalanan terasa panjang bagi Nathan. Dia sudah memacu motornya dengan cepat tapi terasa lambat.
Empat puluh lima menit yang panjang akhirnya mengantarkan Nathan berhenti di depan kos Inas. Mengetuk pintu depan kos Inas dengan jantung berdegup kencang. Indah membuka pintu.
"Eh, kak Nathan. Nyari Inas?" tanya Indah.
"Iya. Ada kan, Ndah?"
"Gak ada kak. Pergi tadi. Gak tahu kemana. Gak pamit. Ke kampus mungkin." jawab Indah.
"Oh, ya udah. Makasih, Ndah."
"Iya kak."
__ADS_1
Memacu motornya ke kampus, Nathan seperti tahu Inas tidak akan ada di sana. Please, Nas!