Rindu Senin

Rindu Senin
Penyesalan


__ADS_3

Minggu demi minggu berlalu. Tak ada kabar apapun dari Inas. Nathan sudah diambang batas kesabarannya. Pesan singkatnya selama ini tak pernah dibalas Inas. Menyakitkan. Trisna pun sudah pergi tak berbekas. Meninggalkannya sendiri dengan perasaan kacau.


Hari Minggu yang lalu Trisna sudah memutuskan hubungan mereka. Kebencian dan kekecewaan terukir jelas di wajahnya. Wajar. Apapun sudah ia berikan untuk Nathan, tapi kenyataan yang diterimanya malah sangat menyakitkan.


"Baru kali ini kamu nyembunyiin sesuatu dari aku, kak. Dan sesuatu itu sangat menyakitkan. Bukan aku saja yang sakit, tapi dia juga. Gak nyangka kamu jadi orang yang seperti ini." ucap Trisna ketika bertemu Nathan hari Minggu yang lalu.


"Aku gak maksud nyakitin kamu ataupun dia. Tapi..."


"Tapi apa? Kamu mau bilang kamu sayang aku dan sayang dia? Sayang yang seperti apa, kak? Mana ada cewek yang terima diginiin?" Trisna mulai menangis, kekecewaan tumpah dari hatinya.


"Aku udah percaya sama kamu. Bahkan semua aku berikan. Semua! Tapi apa? Kamu gak ada bedanya sama Ferdi." Trisna mulai ngilu mengingat hal pertama yang dia berikan kepada Nathan adalah seluruh jiwa raganya. Sakit. Nathan hanya bergeming, tak memberikan pembelaan apapun.


"Aku pergi kak. Jangan pernah nyari aku, ngabarin aku atau apapun. Lupakan yang pernah ada diantara kita. Semua." putus Trisna akhirnya lalu terdiam, menyeka air matanya. Lalu beranjak dari duduknya di ruang tamu rumah Nathan dan pergi berlalu. Tak lagi menoleh ke belakang, ke arah Nathan yang hanya bergeming, tak mampu mengatakan apapun sebagai pembelaan. Bahkan sekedar kata maaf pun tak terucap dari mulutnya. Hanya terduduk. Lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa dan melihat ke langit-langit, mencoba mencari arti dari semua tindakannya selama ini. Untuk apa? Dirinya pun tak tahu jawabannya.


Dan kini, Nathan hanya berteman sepi. Egonya telah membuat apa yang dimilikinya pergi. Kekasih yang tulus menyayanginya. Sahabat kecil yang kini tak mampu lagi menjadi tempat berkeluh kesah. Merasa dirinya menjadi cowok bodoh, Nathan hanya mampu mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Dalam kesendiriannya, dia merindu Inas. Merindu senyumnya, tawanya yang akhir-akhir ini jarang terlihat lepas dan tulus. Merindu aroma tubuhnya, yang akhir-akhir ini enggan dipeluk oleh Nathan. Aku rindu, Nas.


***


Layaknya terik mentari yang berubah menjadi mendung yang menurunkan hujan, hati Inas mulai mendingin seiring waktu bergulir. Sudah begitu lama diabaikannya semua pesan singkat dari Nathan, dan hari ini tak ada satu pesan singkat pun dari cowok yang telah menyakiti hatinya itu. Biasanya dalam sehari selalu ada satu sampai tiga pesan singkat dari Nathan yang tak pernah lupa mengatakan bahwa dirinya merindukan Inas. Hari ini tak ada satu pesan pun.


Baik kah dia di sana? Seperti apa sekarang keadaannya? Inas mulai bertanya-tanya dalam hati. Akhir-akhir ini dia tak begitu mempedulikan Nathan, sudah terbiasa mengabaikan pesan singkat dari Nathan, tapi begitu tak ada pesan singkat dari Nathan dia menjadi sedikit memikirkan tentang Nathan. Tanpa disadarinya setitik rindu tertoreh di hatinya.


Malam kian larut, Inas masih mengusap-usap layar ponselnya, membaca pesan-pesan singkat yang pernah dikirim Nathan.


Nathan kangen Inas.


Sepi gak ada Inas. Inas lagi apa? Nathan kangen.


Nathan makan es krim tiramissu. Jadi inget Inas. I miss you.


Tuluskah semua pesan yang dikirim itu? Jujur dari dalam hati atau hanya sebuah pemanis agar Inas luluh? Kepercayaannya terhadap Nathan sudah sangat hancur, entah bagaimana lagi memperbaikinya. Rasanya ingin percaya, tapi di sisi lain mengatakan jangan. Trauma itu masih ada. Masih membekas. Lukanya terlalu dalam kali ini. Bahkan untuk bangkit pun masih sulit, bagaimana untuk percaya lagi? Mustahil. Teringat kembali Inas akan kata-kata Nathan di awal mereka jadian.


Nathan pengen punya tujuan sama Inas.


Sekarang, apa tujuannya kalau pada akhirnya hatinya yang disakiti? Apa tujuannya kalau kepercayaannya dihancurkan? Apa tujuannya? Selama ini Inas berpegang pada kata-kata Nathan itu, berharap Nathan benar-benar pada ucapannya. Tapi sekarang? Untuk apa?

__ADS_1


Hubungannya dengan Nathan masih menggantung, menunggu untuk diselesaikan. Haruskah diakhirinya? Ataukah memaafkannya? Memberi kesempatan lagi? Inas memejamkan matanya, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaannya. Terlintas perjalanan kisah mereka dari awal hingga akhirnya terluka. Masih sanggupkah dia menerima cinta dengan luka yang masih menganga? Atau lebih baik disudahi saja? Entah.


Seiring dirinya berusaha mencari jawaban, tak terasa waktu membawanya lebih jauh dan dalam ke alam mimpi. Terjebak di sana dengan kisah masa lalunya, masa remajanya. Kak Aji!


***


Mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan dengan temaram cahaya kamarnya. Dilihatnya jam pada layar ponselnya. Masih jam empat dini hari. Masih malas beranjak, Inas mengingat mimpinya tentang Aji. Sudah lama sekali dia tak berkabar dengan cinta remajanya itu. Apa kabarnya? Ingin mengirim pesan singkat, tapi diurungkannya. Dia sudah kecewa terakhir kali menunggunya di benteng. Tak ada kabar apapun dan dengan mudahnya meminta maaf. Hatinya sudah sangat kecewa. Sudahlah.


Inas sudah akan bangun dari rebahannya ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan telepon. Dari Nathan. Pagi sekali menelepon, membuat Inas bertanya dalam hati ada apa. Cukup lama Inas berpikir untuk mengangkat panggilan telepon tersebut atau tidak. Ponselnya tak jemu berdering, mewakili seseorang diseberang sana yang sabar menanti panggilan teleponnya dijawab.


"Ya?" pada akhirnya Inas menjawab.


"Masih tidur? Nathan ganggu?" tanya Nathan. Suaranya terdengar parau.


"Kamu sakit?" tanya Inas, tak menjawab pertanyaan Nathan.


"Aku kangen." lalu terdiam. Inas tak menjawab. Suara Nathan yang parau membuatnya berpikir mungkinkah cowok itu sedang berantakan?


"Nathan pengen ketemu Inas. Sebentar aja gak apa-apa. Cuma pengen lihat aja, abis itu Inas mau apa terserah." seperti sudah sangat putus asa Nathan meminta Inas bertemu hanya untuk mengobati rindunya. Inas masih terdiam.


"Lima menit aja gak apa-apa kalau Inas sibuk." pintanya lagi karena tak ada jawaban dari Inas.


"Boleh?" nada suara Nathan terdengar lebih bersemangat.


"Kalau mau ketemu, dateng aja ke rumah." jawab Inas datar.


"Ya udah. Nanti ya Nathan ke rumah. Jam sembilan Nathan dari rumah. Tunggu ya. Nathan sayang Inas." suara Nathan terdengar dua kali lipat lebih bersemangat.


"Iya." Inas masih menjawab datar.


"Mmmm... Inas..." rengek Nathan, manja.


"Apa?"


"Ya udah gak apa-apa. Tunggu ya nanti. Nathan tutup dulu."

__ADS_1


Inas kembali terdiam. Rasa amarahnya sudah hilang ketika mendengar suara Nathan yang parau. Aneh. Rasa kecewanya luntur mendengar suara Nathan yang terdengar kacau. Aneh. Rasa ingin bertemu muncul ketika Nathan bilang dia rindu. Aneh. Benar-benar aneh!


***


Sudah lima belas menit Inas dan Nathan hanya duduk berhadapan, begeming, tanpa suara. Inas hanya duduk tertunduk memainkan ponselnya asal. Nathan yang duduk di hadapan Inas hanya menatap lekat wajah cewek yang masih sangat dikasihinya itu. Menatap tiap gerak-geriknya dengan matanya yang kuyu akibat kurang tidur entah sudah berapa hari.


Jengah merasuki Inas. Bosan dengan diam yang tak berujung. Meletakkan ponselnya di meja dan menatap lelaki yang sedang menatapnya dengan matanya yang menyedihkan.


"Begadang terus?" tanya Inas. Nathan yang terkejut mendengar Inas bertanya kemudian mengerjapkan matanya.


"Engga. Gak bisa tidur aja beberapa hari."


"Kenapa?"


"Kangen Inas."


Kembali diam.


"Masih boleh?" tanya Nathan memecah kesunyian.


"Apa?"


"Kangen."


Inas hanya terdiam. Bibirnya rapat tak dapat menjawab apapun. Dalam hatinya berkecamuk. Inas sendiri tak memahami hatinya. Rasanya berat melihat Nathan yang berantakan, kacau. Tapi, terkadang teringat kembali bayangan kebohongan yang dilakukannya.


"Maaf. Maafin Nathan, Nas." ucap Nathan akhirnya.


"Masih ada lagi yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Inas. Nathan hanya terdiam.


"Jujur aja. Aku lebih menghargai kejujuran yang menyakitkan daripada kebohongan yang menyenangkan." ucap Inas, seakan tahu Nathan masih menyembunyikan sesuatu.


"Nathan pernah tidur sama dia." aku Nathan akhirnya, membuat Inas kembali terluka semakin dalam, mengundang air mata berkumpul di pelupuk matanya. Tak mampu lagi berkata-kata.


"Cuma sekali aja, Nas. Itupun terbawa suasana. Setelah itu Nathan nyesel banget. Nathan kebayang wajah Inas terus. Nathan merasa bersalah. Maaf. Maaf banget." jelas Nathan sambil menggenggam tangan Inas, terlihat air matanya sudah berada di ujung matanya, hendak menetes.

__ADS_1


"Maaf, Nas. Nathan udah bikin Inas kecewa banget. Maaf. Tapi Nathan bener-bener nyesel. Nathan janji gak akan ulangi lagi. Maaf, Nas." air mata sudah mengalir di pipi Nathan.


Inas pun hanya terdiam, terisak. Sakit. Tapi, itulah kenyataannya. Kejujuran yang dimintanya dari Nathan. Semakin deras air mata Inas tak dapat ditahan lagi. Nathan terus berusaha menghapusnya, tapi sia-sia saja. Seakan tak ada habisnya air mata Inas. Dan akhirnya, Nathan hanya mampu memeluk Inas dalam tangis penyesalannya. Membiarkan Inas menumpahkan rasa sakit dalam pelukannya. Memberinya ketenangan dengan usapan lembut di kepalanya. Nathan janji!


__ADS_2