
Gelap mulai merayap perlahan menyelimuti langit Senin yang masih menyisakan semburat senja di ujung barat dunia. Sesosok wanita yang masih mencoba mencerna apa yang telah dilaluinya hari ini masih bergeming, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, terpejam, tapi tak tertidur. Mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya hari ini, merasai sisa-sisa sentuhan cinta remajanya hari ini. Apa yang terjadi?
Inas membuka matanya perlahan. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang seketika seperti memunculkan kembali kejadian di kamar kos Aji siang tadi. Inas tak pernah menyangka hari itu akan tiba. Hari dimana dia merasa memiliki Aji untuk dirinya sendiri. Inas remaja tak pernah membayangkan akan dicumbui oleh cinta remajanya yang dia kagumi diam-diam. Inas remaja tak pernah membayangkan cinta remajanya akan begitu bergairah ketika bersamanya. Inas remaja hanya ingin cintanya berbalas waktu itu.
Teringat kembali saat Aji tak henti mencium bibirnya. Ciuman yang semula lembut perlahan semakin memanas dan membuat Inas merasakan gelora yang tak mampu dia tahan. Dia membiarkan Aji terus meciuminya dan meraba-raba tubuhnya. Dia tak menolak. Dia akui dia ingin melampiaskan semua perasaannya yang tak berbalas kala remaja dulu. Dia seperti ingin menunjukkan kepada Aji bahwa Aji telah salah sudah menolaknya dulu. Semacam balsa dendam. A sweet revenge.
Namun, ketika semua semakin tak terkontrol, Inas justru dapat menghentikan gelombang hasrat Aji yang sepertinya tak terkendali. Ketika tangan Aji mulai masuk ke dalam rok Inas, Inas seketika mendorong tubuh Aji, membuat Aji terkejut. Inas yang masih bernafas berat, mencoba menata luapan perasaannya yang sebenarnya juga menginginkan lebih.
“Maaf kak.” ucap Inas sedikit terengah, mencoba mengatur nafasnya yang memburu.
“Eh?” Aji seperti bingung.
“Maaf. Harusnya aku udah menghentikanmu dari awal tadi.” ucap Inas sambil menunduk, merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan.
“Dan sekarang, aku malah menghentikannya di saat yang gak tepat.” tambah Inas.
Aji hanya terdiam. Dia tak mampu menjawab. Hening menyelimuti keduanya beberapa saat. Inas merasa tak nyaman. Seperti merasa bersalah. Dia sendiripun tak tahu mengapa dia menghentikan Aji, padahal tak dipungkiri dia begitu menikmati setiap sentuhan dan cumbuan dari Aji.
“Mau minum apa de’? Aku beliin sebentar di bawah.” ucap Aji memecah keheningan.
“Eh. Apa aja kak, terserah kamu.” jawab Inas sedikit terkejut.
“Oke. Tunggu ya.” pamit Aji sambil keluar dari kamar kosnya.
Masih menatap langit-langit kamarnya, menggelar pikiran dan perasaanya di sana ketika ponselnya bordering. Inas dengan malas bangkit mengambil ponselnya. Nathan menelepon.
“Lagi apa?” Tanya Nathan ketika Inas menjawab teleponnya.
“Tiduran aja.”
“Masih sore gini tiduran. Baru pulang kerja?”
“Hmmm…”
“Inas kenapa?”
__ADS_1
“Engga apa-apa.”
“Nathan ganggu?”
“Engga.”
“Males gitu kayaknya.”
Inas hanya terdiam. Diingatnya lagi kejadian siang tadi. Dia mengingat Nathan ketika Aji keluar membeli minuman. Dia merasa tak pantas diperjuangkan oleh Nathan setelah apa yang dia lakukan bersama Aji.
“Nas?” suara Nathan membangunkan Inas dari lamunannya.
“Kenapa Nathan masih kayak gini?”
“Kayak gini gimana?”
“Yaa masih perhatian, masih nyoba pertahanin semua.”
“Karena Nathan pengen nunjukin kalau Nathan beneran nyesel dan gak mau kehilangan Inas. Kenapa, Nas?” tanya Nathan, seperti merasa aneh ketika Inas menanyakan untuk apa semua usahanya.
“Nathan pergi aja. Gak usah lagi perjuangin aku.” Ucap Inas sedikit bergetar menahan air mata yang hendak keluar, entah mengapa.
“Gak perlu! Aku gak pantes diperjuangin. Kamu pergi aja. Semoga dapet cewek yang lebih baik dari aku.” Inas menutup sambungan telepon. Air matanya berderai tak mampu lagi tertahan. Kenapa aku menangis?
***
Nathan yang bingung teleponnya ditutup begitu saja oleh Inas mulai cemas. Dia merasa ada yang aneh pada diri Inas. Akhir-akhir ini Inas sudah lebih membuka hatinya lagi. Nathan dapat merasakan itu. Namun, hari ini Inas terdengar aneh. Seperti ada yang disembunyikan. Dilihatnya jam di dinding kamarnya. 18.35. Tanpa berpikir panjang, Nathan menyambar kunci motornya dan memacu sepeda motornya menuju rumah Inas.
Dia tak mampu lagi menunggu hingga esok. Tak akan membuatnya tidur nyenyak nanti malam. Dia harus mendapatkan penjelasan dari Inas hari itu juga. Tak peduli dia harus melaju selama dua jam untuk sampai ke rumah Inas. Yang dia inginkan hanya penjelasan yang terang tentang keputusan Inas itu.
Sudah pukul 20.20 ketika Nathan tiba di rumah Inas. Sepi. Wajar saja, sudah bukan waktunya bertamu. Tapi Nathan tak peduli. Diketuknya pintu rumah Inas. Sekali. Tak ada jawaban. Dua kali. Masih sama. Ketika Nathan akan mengetuk lagi, pintu terbuka. Inas sendiri yang membukakan pintu. Inas Nampak terkejut melihat Nathan yang berdiri di depan pintu.
“Siapa, Nas?” tanya mamanya dari dalam rumah.
“Nathan kok, ma.” jawab Inas setengah berteriak.
__ADS_1
“Ngapain malem-malem ke sini?”
“Ngobrolnya di depan pintu gini?” Tanya Nathan yang sudah sangat ingin duduk meluruskan kakinya yang pegal berkendara selama hampir dua jam. Dengan wajah terpaksa, Inas mempersilakan Nathan masuk.
“Ngapain malem-malem ke sini?” tanya Inas lagi.
“Kangen.”
“Kan tadi udah telepon.”
“Cuma suara, gak puas.”
“Ya udah pulang sana kan udah ketemu. Udah malem.”
“Nathan gak akan pulang sebelum Inas jelasin maksud kata-kata Inas tadi.” ancam Nathan.
"Kan udah jelas."
"Belum buat Nathan." ucap Nathan dengan dalam dan serius.
"Kenapa bilang Inas gak pantes diperjuangin?" tanya Nathan melihat Inas yang hanya terdiam.
Diam membingkai dua manusia yang sedang sama-sama kalut. Nathan terlihat semakin tak sabar.
"Inas... Jawab kenapa? Biar Nathan bisa usahain jalan keluarnya, bukan dengan mengakhiri semuanya."
Inas pun tak bisa membungkam mulutnya lebih rapat. Dia menceritakan apa yang dilakukannya dengan Aji tadi siang. Nathan terlihat terkejut tapi masih bisa menguasai dirinya.
"Jadi, Nathan pergi aja. Gak usah lagi perjuangin Inas." ucap Inas menutup ceritanya tentang kejadian siang itu.
"Inas lebih sayang dia daripada Nathan?"
"Entah."
"Ya udah. Nathan bakal tunggu sampai Inas yakin tentang perasaan Inas. Kalau pada akhirnya Inas lebih memilih dia, Nathan bakal pergi, demi kebahagiaan Inas. Tapi sebelum Inas yakin dengan perasaan Inas, Nathan bakal terus berjuang buat pertahanin semua."
__ADS_1
Inas hanya terdiam. Tak mampu menjawab semua perkataan Nathan.
"Nathan pulang ya. Udah malem. Inas buruan istirahat. Nathan sayang Inas." pamit Nathan sambil melayangkan kecupan lembut di kepala Inas. Inas masih duduk bergeming tak menjawab. Nathan berlalu, memacu sepeda motornya kembali ke rumah dengan perasaan memanas di hatinya. Damn!