Rindu Senin

Rindu Senin
Membuka Rahasia


__ADS_3

Matahari Minggu pagi bersinar lebih cerah, mengajak alam semesta bergembira menikmati waktu libur sehari yang berharga. Namun matahari Minggu tak membuat Nathan bersemangat sedikitpun. Dia masih teronggok di sudut kamar kos Alex, meringkuk, kelelahan. Alex yang sudah bangun sedari tadi hanya menatap temannya heran.


Dipikirnya Nathan sudah benar-benar melabuhkan hatinya kepada Inas. Alex cukup tahu rekam jejak kisah asmara Nathan. Dibandingkan dengan mantan-mantan Nathan sebelumnya, Inas jauh lebih baik dalam hal segalanya. Perilaku yang selalu dijaga, penampilan yang lebih tertutup, kemandirian dan tak banyak tuntutan, semua berbeda dari pacar-pacar Nathan sebelumnya.


Teringat kejadian semalam di kampus XY di kota H. Alex yang berjalan dari tempat parkir menuju ke arah back stage, melihat seseorang yang dia kenal. Namun ada sesuatu yang membuat Alex heran sekaligus terkejut. Sama siapa tuh? Nathan terlihat duduk mesra dengan seorang cewek di pelataran kampus. Alex penasaran sekaligus ingin memastikan bahwa itu benar temannya, Nathan. Dilihat jam di tangannya. Masih sempat.


Berjalan menyusuri kerumunan orang-orang, Alex menghampiri Nathan. Ditepuknya bahu Nathan. Ternyata bener Nathan. Sudah Alex duga ekspresi Nathan ketika melihatnya di sana. Selama sibuk magang mereka memang jarang berkomunikasi apalagi membahas tentang band mereka. Nathan terlihat terkejut melihatnya namun masih bisa menguasai dirinya. Wanita di sebelah Nathan hanya memandang Alex dengan heran. Alex merasa pernah melihatnya tapi dia lupa dimana.


Dan setelah acara selesai, mereka tak membicarakan masalah Inas karena wanita itu masih mengekor di samping Nathan sampai ketika mereka akan pulang. Setelah sampai di kos pun Nathan terlihat lelah dan Alex pikir bukan saat yang tepat untuk bertanya tentang wanita itu. Dan setelah menunggu hingga matahari hampir di atas kepala, akhirnya Nathan terbangun. Tidur apa pingsan sih?


***


"Udah siang bro?" tanya Nathan kepada Alex yang duduk termangu menatapnya.


"Gue sampe kelaperan bro nungguin lu bangun."


"Kenapa juga gak dibangunin?" tanya Nathan sambil duduk, mengacak-acak rambutnya.


"Kayak capek banget gitu. Keluar cari sarapan yuk."


"Jam segini udah masuk makan siang."


"Branch namanya. Breakfast and lunch."


"Gue cuci muka dulu."


"Gue tunggu di bawah. Lu kunci kalau udah selesai."


Nathan hanya memberi isyarat dengan tangannya sambil berlalu menuju kamar mandi. Alex bergegas turun, mempersiapkan motornya. Dua cowok itu tak lama kemudian sudah meluncur menyusuri jalanan mencari tempat makan yang pas dengan selera perut dan kantongnya.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit mereka habiskan mencari kedai makan. Berhentilah mereka di warung makan prasmanan dengan menu masakan Jawa yang komplit. Nathan dan Alex tak butuh waktu lama mengambil menu makanan mereka. Mereka sudah sangat lapar, terlebih Alex yang sudah bangun lebih awal dari Nathan. Dua gelas es teh manis sudah mendarat di hadapan mereka yang tengah sibuk melahap porsi masing-masing, tanpa suara.


"Jadi, kemarin lu berangkat jam berapa bro?" tanya Alex sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.


"Gak liat jam bro, sampe sana jam enam kurang lah." jawab Nathan sambil menyedot es teh manisnya.


"Hhmmm...terus yang kemaren itu nemu disono atau gimana?" tanya Alex asal, biar tidak terkesan menyelidik.


"Enak aja lu bilang nemu."


"Abis kagak pernah lihat. Lu juga kagak pernah cerita punya cemceman uhuy begitu."


"Panjang ceritanya bro."


"Gak apa-apa, gue udah sering nemenin Liana nonton drakor yang ceritanya gak cuma panjang, tapi rumit."


"Hhhh..." Nathan menghela nafas panjang. Bukan karena dia tak ingin menceritakan kisahnya kepada Alex, melainkan dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana.


"Adik kelas gue waktu SMA bro. Gue udah dari SMA deket sama dia. Udah dari dulu ngejar-ngejar dia." Nathan berhenti sejenak.


"Terus? Cuma sebatas deket doang hubungan lu sama dia sekarang? Atau...?" tanya Alex sedikit tak sabar mendengar kelanjutan cerita Nathan.


"Gue jadian sama dia sebulanan yang lalu kira-kira. Gak sengaja gue." aku Nathan.


"Mana ada jadian gak sengaja bro? Elu bisa aja."


"Keceplosan. Gue keceplosan. Gue ngaku ke dia gue suka sama dia dari SMA. Gue kira dia bakal nolak, gak tahunya ternyata malah kayak gini."


"Dia gak tahu lu udah punya cewek?"

__ADS_1


"Gue gak bilang."


"Trus Inas?"


"Entah."


Diam tercipta sesaat. Baik Alex maupun Nathan tengah mempersiapkan kalimat-kalimat untuk ditanyakan dan diungkapkan.


"Kalau boleh ngasih kritik dan saran sih bro... hubungan yang gak sehat mending jangan dilanjutin. Bikin lu jadi gak sehat juga." ucap Alex akhirnya.


"Menurut gue, Inas tuh cewek paling bener yang pernah lu pacarin. Coba aja bandingin sama mantan lu yang kemarin, jauuuhhh... Tapi ya urusan hati lu sih mana berhak gue ikut campur. Yang jelas saran dari gue ya itu tadi." tambah Alex.


"Iya bro. Ntar gue pikirin lagi gimananya."


"Lagian elu kenapa bisa keceplosan sih?"


Nathan hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Alex. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Alex bahwa dia terbawa perasaan dan suasana saat itu. Nathan sendiri tak mau mengatakan kepada sahabatnya itu bahwa dia sedikit bosan menjalani hubungan dengan Inas. Sedikit. Diakui Nathan, Alex bukan tipe cowok player, dibalik penampilannya yang selengekan dia lebih setia dibanding dengan Nathan.


"Untung kemarin Liana gak jadi ikut." ucap Alex tiba-tiba.


"Eh iya, kenapa dia gak ikut? Biasa juga heboh pengen ikut." tanya Nathan yang heran karena biasanya Liana selalu ikut serta tiap kali Alex ada acara manggung.


"Lagi dapet katanya. Hari pertama, sakit perut gak bisa kemana-mana. Untung deh lu. hahaha."


Lagi-lagi Nathan hanya tersenyum. Tak bisa dibayangkan seandainya kemarin ada Liana di sana. Hubungannya dengan Inas pasti sudah kandas saat ini.


"Balik yuk." ajak Alex. Nathan hanya mengangguk mencoba mengumpulkan jiwanya yang tengah menerawang jauh. Kangen Inas.


***

__ADS_1


Sudah merebahkan tubuh di kamarnya, Nathan terus terngiang-ngiang ucapan Alex, Inas cewek paling bener yang pernah lu pacarin. Dan Nathan harus setuju dengan itu. Dilihat dari sisi manapun, Inas memang lebih baik dibandingkan pacar-pacar Nathan sebelumnya. Bahkan lebih baik dari Trisna. Namun entah mengapa Nathan masih begitu berat melepas Trisna. Mungkin karena perasaannya selama ini kepada Trisna yang akhirnya mendapat balasan serupa. Putus dengan Inas juga bukan opsi yang akan dipilih Nathan. Tak pernah terpikir sedikitpun oleh Nathan untuk putus dengan Inas. Nyaman yang selalu Nathan dapat jika berada di samping Inas berhasil membuat Nathan bertahan sebosan apapun keadaannya. Tapi Nathan tak memungkiri, bahwa dua kisah ini, salah satunya harus dia relakan berakhir. Yang mana yang akan berakhir? Letih memikirkannya, Nathan hanya ingin mengikuti skenario Tuhan. Biarlah.


__ADS_2