Rindu Senin

Rindu Senin
Mengalir


__ADS_3

Angin siang itu sepoi membelai wajah Inas yang terduduk di depan sebuah pusat perbelanjaan, menanti seseorang yang entah dia sebut apa. Kekasih? Dia masih dalam proses penyembuhan luka di hatinya. Teman? Tapi perlakuannya kepada Inas lebih dari sekedar teman.


Sejak hari dimana Nathan menemuinya dan mengatakan semuanya, Inas perlahan membuka hatinya. Perlahan memaafkannya, meski sikapnya masih sedingin es di kutub utara. Memaafkannya meski hatinya sedang perlahan bangkit. Nathan jauh berubah. Dia jauh lebih perhatian, selalu mengirim pesan singkat lebih dulu dan terkadang menelepon Inas. Dia nampak berjuang ingin mengulangi kisah cinta mereka.


Hari ini pun Nathan mengajaknya bertemu, menghabiskan waktu akhir pekan bersama, berjalan menyisir pusat perbelanjaan atau taman atau toko buku di kota S. Nathan sudah akan menjemput Inas, tapi Inas menolak dengan alasan merepotkan dan memutuskan untuk bertemu saja di tempat yang ditentukan.


"Udah lama nunggu?" sebuah suara membangunkan Inas dari lamunannya.


"Eh, baru lima menitan."


"Yuk jalan." ajak Nathan. Inas berdiri dari duduknya yang kemudian tangannya dengan cepat diraih oleh Nathan, menggandengnya.


Inas masih kikuk. Dia merasa sedikit tak nyaman melakukan kontak fisik setelah semua kejadian yang terjadi diantara mereka. Namun, Inas diam. Tak melepaskan genggaman itu. Genggaman yang hangat dan menjaga. Biarkan saja seperti ini.


***


Berapa bulan Aji habiskan tanpa memikirkan nostalgi kecilnya. Dia tak sepenuhnya melupakannya. Masih ada rasa bersalah yang menggumpal di dadanya karena tidak menemui gadis itu terakhir kali berkunjung ke Benteng V. Sepertinya nostalgi kecilnya itu sudah tak lagi menghiraukannya. Permintaan maaf yang waktu itu pun tak mendapat balasan.


Kini, di tengah jengah melakukan pekerjaannya, Aji mencuri waktu berselancar membuka akun sosmednya, mencoba menghilangkan bosan dengan mengintip akun sosmed Inas. Postingan terakhir akun sosmed Inas berisi foto-foto wisuda. Cantik. Dibukanya foto-foto wisuda Inas. Tak ada foto bersama pacarnya. Yang ada foto Inas bersama cowok yang pernah diceritakannya sebagai sahabatnya. Aneh. Di hari istimewanya, tidak ada foto berdua dengan pacarnya. Jangan-jangan udah putus?


Rasa penasarannya tergelitik. Ada apa dengan kisah cinta nostalgi kecilnya? Apakah sudah berakhir? Apakah kedatangannya ke benteng waktu itu ada hubungannya dengan kisah cintanya? Hati Aji mulai gusar. Niat hati menghilangkan jenuh karena pekerjaan, kini malah menjadikan pikiran dan hatinya kacau.

__ADS_1


Diliriknya jam dinding kantornya. Sebentar lagi jam pulang. Aji sudah gatal ingin menghubungi Inas. Mendengar suaranya. Memastikan pikirannya yang liar tentang berakhirnya kisah cinta nostalgi kecilnya. Namun, tampaknya Aji tak mampun menahan diri. Diraihnya ponsel dan mengetikkan sebuah pesan singkat. Sudah mengetik lalu menghapus. Mengetik lagi, dibacanya, dihapusnya lagi. Terlihat bingung mencari kata-kata apa yang akan dia sampaikan yang terlihat natural karena sudah lama sekali dia tak berkabar dengan Inas. Canggung. Dan setelah mencoba beberapa kali mengetik, akhirnya dia mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Inas.


Ciiee yang udah wisuda. Selamat ya de'.


Rasa lega sekaligus tak sabar merasuki dirinya. Aji sudah tak bisa lagi fokus pada pekerjaannya. Untung hari itu akhir pekan, jam kerja pendek dan tak mungkin ada tuntutan lebih dari atasan jika pekerjaannya tak selesai hari itu juga. Beberapa kali matanya melirik ponsel di mejanya. Berharap Inas segera menjawab pesan yang dikirimnya. Sambil sesekali mencoba fokus pada pekerjaan yang tersisa, Aji terus melirik ponselnya menantikan notifikasi masuk. Jam pulang kantor tinggal beberapa menit lagi. Aji memutuskan menyudahi pekerjaannya, merapikan meja kerjanya dan ketika akan memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya, satu pesan singkat masuk. Senyum terkembang di wajahnya. Berbalas.


***


Sabtu sore yang melelahkan. Inas yang baru saja datang dari acara jalan-jalan bersama Nathan merebahkan dirinya di tempat tidur, membiarkan penat di tubuh dan berat di hatinya menguap. Sabtu masih panjang, tapi Inas dan Nathan memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan santai mereka di sore yang cukup cerah itu. Sudah cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama, di tambah perasaan Inas yang belum stabil membuat suasana terasa sangat berat.


Dering ponsel membangunkan Inas dari melepas penat. Merogoh ponsel di dalam tasnya yang tergeletak begitu saja di sampingnya. Sebuah pesan singkat dari seseorang yang dia kira tak akan lagi menghubunginya.


Ciiee yang udah wisuda. Selamat ya de'.


Udah lama itu kak. Hehe.


Sibuk apa sekarang?


Tentor kak. Di bimbel. Lumayan deket rumah.


Oh...btw, yang dulu itu maaf ya de'.

__ADS_1


Gak apa-apa kak. Akunya juga mendadak ke sana wajar lah kalau kamu gak bisa. Hehe.


Kamu baik-baik aja kan?


Terdiam sejenak setelah membaca pesan singkat dari Aji. Aku baik-baik kan? Inas sendiri tak tahu apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Merasa masih ada yang mengganjal tapi dia coba membiarkannya saja.


Baik kak. Kenapa emang?


Gak apa-apa. Kamu gak kerja?


Gak ada jadwal kak. Weekend gini jarang ada yang mau les. Haha. Kamu?


Baru aja selesai ini. Mau pulang. Pulang dulu ya de'.


Hati-hati ya kak.


Inas kembali terhenyak, terdiam menatap langit-langit. Merasai hatinya yang sedang senang. Haruskah dia berpaling? Toh hubungannya dengan Nathan sudah semakin mengering. Haruskah dia mencoba membuka hati untuk Aji? Mungkin akan ada obat untuk lukanya di sana. Namun, hatinya masih berat. Entah mengapa dia begitu berat menyudahi hubungannya dengan Nathan. Padahal luka yang digoreskan sangat dalam. Mengapa? Dari dulu Inas tak mendapat jawabannya.


Tak pernah Inas merasa berat berpaling dari seorang cowok. Namun, kali ini rasanya sulit hanya untuk mengacuhkannya saja. Inas tetap menanggapi semua pesan singkat yang dikirim Nathan, menjawab telepon dari Nathan meski dengan nada yang datar dan dingin. Meski begitu, Nathan tak berhenti mencoba meluluhkan hati Inas yang membeku.


Terkadang Inas merasa iba dengan semua usaha Nathan, tapi terkadang dia merasa sudah seharusnya Nathan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Dia memang harus berusaha lebih keras dari sebelumnya. Biarkan saja seperti itu. Biar dia tahu tidak mudah mengembalikan hati yang sudah hancur. Tak mudah menyembuhkan hati yang sudah terluka. Tak mudah membangun kepercayaan yang sudah runtuh. Tidak mudah!

__ADS_1


Biarkan saja seperti ini. Mengalir apa adanya. Mengalir tanpa dipaksakan. Biarkan waktu yang menjawab. Biarkan waktu yang mengarahkan kemana hatinya akan berlabuh. Kepada Nathan? Atau kepada Aji? Apakah dia salah jika memberi kesempatan kepada Nathan dan Aji? Tidak. Dia rasa sudah sepantasnya dia seperti itu. Dia hanya tidak ingin terluka lagi. Tidak ingin dikhianati lagi. Biarkan saja seperti ini.


__ADS_2