Rindu Senin

Rindu Senin
Lamaran


__ADS_3

Minggu pagi Aji habiskan dengan menghisap puntung rokok terakhir di bungkusnya. Dia tidak kemana-mana hari itu, memilih untuk diam di kos sambil membaca buku dan rebahan. Terkadang sesekali mengecek ponselnya, membalas pesan singkat yang membuatnya semakin betah berlama-lama berdiam di kos. Sejak kemarin dia berbalas pesan singkat dengan Inas, membahas hal-hal kecil hingga intim mendetail.


Kamu pacaran udah berapa tahun sih de'?


Tiga tahunan lebih lah kak. Kenapa?


Lama amat. Ngapain aja? Hahaha.


Jalan-jalan. Ngobrol-ngobrol. Yaaa kayak orang pacaran lah.


Masa' iya cuma jalan-jalan. Gak pernah nglakuin yang intim gitu? Ciuman misalnya?


Pernah. Hehe.


Ternyata kamu gak sepolos yang aku kira ya. Haha. Ciuman doang?


Lah mau ngapain lagi?


Lebih jauh belum pernah?


Misalnya?


Masa' iya aku kudu jelasin detailnya. Bisa bikin aku berdiri lho.


Haha. Gak apa-apa kak, rebahan terus juga bisa bikin pegel.


Tapi kalau berdiri ga ada yang bantuin nenangin kan jadi repot.


Hush. Hahaha. Jadi bahas gituan sih ya. Ganti-ganti.


Gak apa-apa. Seru. Hahaha.


Katanya repot kalau berdiri?


Bantu nenangin ya?


Ogaaaaahhh. Hahahaha.


Kamu yang bikin berdiri.


Yang mulai nanya-nanya siapa hayo?


Tapi kamunya nanggepin.


Kan ditanya, ya di jawab dong.


*Duh...jadi pengen ketemu. Hehe.


Kenapa*?


Biar bisa peluk kamu. Enak mesti. Kan kamu kecil. Enak dipeluk. Hihi


Peluk doang?


Cium boleh?


Dimana?


Boleh milih?


Dimana?


Mmmm... Bibir boleh?


Mmm... Boleh deh.


Duh... Beneran berdiri sekarang de'.


Ya udah buruan dicium bibirnya.


Eh?


Gak jadi?

__ADS_1


Serius?


Katanya suruh bantu nenangin.


Beneran?


Jadi gak sih kak? Nanya terus. Haha.


Ya udah aku peluk ya. Terus aku cium bibir kamu. Duh... Enak mesti ya kalau beneran.


Terus mau apalagi?


Mmm... Mau itu boleh?


Apa?


Itu....


Apaan?


Aduuuuh... Udah sih de'. Bentar yaa...


Aji tak tahan lagi. Niatnya hanya untuk menggoda Inas, malah dirinya yang terbawa suasana dan berimajinasi liar. Shit! Umpatnya sambil memuaskan seluruh imajinasinya di kamar mandi. Kenapa jadi gini sih?


***


Senyum terkulum di bibir Inas. Menahan geli membaca balasan pesan singkat dari Aji. Rasain, batinnya dalam hati. Inas tahu kalau Aji awalnya menggodanya, pura-pura polos juga gak akan seru. Inas memutuskan untuk menjawab apa adanya. Memang tak dipungkiri dia tidak hanya sekedar jalan bareng ketika pacaran dengan Nathan. Untuk apa menutupinya? Membuat sebuah pencitraan juga bukan hal yang baik. Apalagi bukan dirinya. Dia lebih suka dikenal apa adanya dirinya. Terserah orang menilai apa. Tapi Inas selalu tahu dimana dia harus berhenti.


"Mari mbak, dirias dulu." ucap seorang asisten perias pengantin, membuyarkan pikiran Inas tentang Aji.


"Oh, iya mbak." ucap Inas sambil beranjak, duduk di tempat yang disediakan. Perias pun dengan teliti merias wajah Inas, membuatnya semakin menawan. Senyum terkembang di wajah Inas, memikirkan ide unik dan licik untuk memancing Aji. Tunggu saja.


***


Setelah melepaskan semua imajinasinya, Aji memutuskan untuk menenangkan diri dengan membaca novel karangan Pramoediya Ananta Toer. Dia tidak mengirim pesan singkat kepada Inas. Belum. Dia masih akan tergelitik untuk membahas hal-hal intim dengan kondisinya saat ini. Mencoba fokus dengan bacaannya, Aji menjauhkan ponselnya, agar tidak tergoda untuk mengirim pesan singkat kepada Inas.


Baru kali ini berbalas pesan singkat bisa membuat Aji berimajinasi yang bukan-bukan. Ternyata Inas tidak sepolos yang dia kira. Tapi itu tidak membuatnya menjadi ilfeel dengan cewek itu. Sebaliknya, Aji malah semakin ingin lebih dekat dengan Inas, mengenal lebih dalam. Banyak yang belum dia tahu tentang cewek itu. Dan mungkin inilah saatnya.


Sudah sedari kemarin mereka tidak berhenti berbalas pesan dan itu membuat Aji menjadi lebih mantap untuk melancarkan jurus-jurus pendekatannya. Namun, dia butuh istirahat kali ini. Dia begitu bersemangat hingga membuatnya harus melampiaskan semua hasratnya di kamar mandi pagi tadi. Memalukan!


***


Senja mulai merayap menghiasi langit Minggu sore kota Y, mengukir indah guratan merah keemasan yang membuat siapa saja yang melihatnya terkagum dengan semesta ciptaan Tuhan. Aji yang sedari siang menghabiskan waktunya keluar kos mencari rokok sambil berputar-putar mencoba menghilangkan bayangan sosok yang terus mengganggunya, kini berdiam di salah satu sudut kota Y, menikmati pemandangan senja dan sepuntung rokok yang sudah terbakar setengah. Indah.


Sengaja Aji tak membawa ponselnya. Dia benar-benar ingin istirahat dari memikirkan Inas. Sejenak. Namun, tampaknya hal itu sia-sia. Dia tak mampun berhenti memikirkan Inas. Segala usahanya untuk memgalihkan perhatiannya dari memikirkan cewek itu seharian ini sia-sia saja. Bahkan senja yang tengah dinikmatinya pun mengukir senyum nostalgi kecilnya itu, membuatnya semakin frustasi saja. Dibuangnya dengan kasar puntung rokoknya yang sudah habis terhisap. Sudahlah. Menyerah saja. Dia sudah merindukannya. Memutuskan untuk pulang ke kos dan mengirim pesan singkat penuh rindu kepada nostalgi kecilnya.


Ponselnya masih bergeming di atas meja kamar kosnya. Tak ada notifikasi pesan masuk. Sudah gatal rasanya Aji ingin mengetahui apa yang dilakukan Inas seharian ini. Seharian dimana dia menghabiskan waktu mencoba membuang bayangan wajah Inas, tapi sepertinya Inas tak sedikitpun memikirkannya. Aji membuka akun pesan singkatnya. Dilihatnya foto profil Inas yang berubah, mengenakan riasan lengkap dengan baju kebaya dan bawahan kain batik, terlihat membawa sebuket bunga mawar putih dan merah jambu.


Hati Aji memanas. Ada acara apa? Lamaran? Kenapa tidak bilang? Kenapa tadi pagi masih menggoda ku? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di otak Aji. Tak sabar ingin mengetahui jawabannya, Aji memutuskan menelepon Inas. Lama tak ada jawaban. Masih sibuk kah?


"Iya, kak?"


"Kamu abis lamaran de'?" Aji bertanya to the point, sudah tak sabar ingin mengetahui jawabannya.


"Emang kenapa kalau aku lamaran kak?"


"Eh. Engga apa-apa. Selamat ya." ucap Aji salah tingkah sekaligus mencoba menyembunyikan kekecewaannya.


"Tahu darimana aku lamaran kak?"


"Itu foto profil mu."


"Kan foto doang. Ada keterangannya abis lamaran gitu?"


"Yaaa nebak aja sih. Kelihatannya gitu."


"Hahahahahaha. Duuuh..."


Aji heran mendengar Inas tertawa seperti hampir tak bisa berhenti.


"Kenapa de'?" tanya Aji heran.


"Kamu lucu kak. Hahaha. Aduuh... Sampai sakit perut ketawa terus. Hehe. Itu aku abis dari acara nikahan sodara ku kak. Ahahahaha. Lamaran? Masih jauh. Ahahaha..."

__ADS_1


"Ooh... Syukur deh kalau belum lamaran."


"Kok syukur? Emang kenapa kak?"


"Masih ada kesempatan. Hehe."


"Dasar."


"Eh, ngomong-ngomong kamu tambah cantik pake make up gitu."


"Ehe. Periasnya aja yang pinter make up in kak."


"Pake kebaya juga kelihatan sexy."


"Bisa aja kamu kak. Juara gombal."


"Beneran itu. Gak gombal."


"Udah biasa sih dibilang cantik sama sexy."


"Siapa yang bilang?"


"Adaa deeeh. Kepo. Ahahaha."


Diam sesaat. Aji seperti kehabisan kata. Dia benar-benar ingin sekali bertemu Inas dan memeluknya. Entah kenapa.


"Kak?"


"Eh, iya."


"Kok diem?"


"Boleh ngomong serius de'?"


"Dari tadi gak serius berarti?"


"Lebih serius dari yang tadi."


"Iya. Boleh kakaaaak. Mau ngomong apa sih?" nada suara Inas masih terdengar becanda.


"Aku...kangen kamu. Pengen ketemu. Bisa?" Aji mengatakannya dengan nada serius, benar-benar dari dalam hati.


"Mmm... Kapan?"


"Besok bisa?"


"Eh? Kamu gak kerja besok?"


"Aku mau dimutasi keluar kota, jadi seminggu ini aku off. Sabtu aku berangkat ke kota K. Bisa besok ketemu?"


"Mmm... Gak bisa hari lain kak?"


"Kamu gak bisa besok?"


"Bisa sih bisa."


"Sebentar aja gak apa-apa de'. Aku ke rumah mu ya?"


"Eh? Aku aja yang ke sana."


"Kenapa?"


"Gak enak kalau di rumah. Biar bisa jalan-jalan sekalian. Hihi."


"Bisa ya berarti besok?"


"Iya. Besok aku kabarin kalau mau berangkat."


"Makasih ya de'."


"Sama-sama."


"Udah ya. Kamu istirahat. Besok ketemu di depan benteng ya."

__ADS_1


"Oke."


Aji menutup telepon dengan perasaan yang tak bisa dia artikan. Ada rasa senang, lega, dan berat yang bercampur menjadi satu. Diliriknya surat mutasi di mejanya yang baru dia terima kemarin. Berat rasanya meninggalkan kota Y, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan cinta remaja yang sebentar lagi dirasa akan menjadi miliknya. Good timing!


__ADS_2