Rindu Senin

Rindu Senin
Ketenangan


__ADS_3

Kesibukkan seakan menyita seluruh masa lalu Rio. Kecuali satu, Inas. Meski sudah terpisah jarak dan jarang bersua, keduanya masih berkomunikasi secara intens via pesan singkat. Setelah wisuda, Rio tak pernah lagi bertemu dengan Inas. Namun, berkirim pesan singkat sudah cukup bagi Rio untuk mengetahui bahwa wanita yang masih memenuhi hatinya itu baik-baik saja. Rio masih belum tahu apa yang terjadi antara Inas dan Nathan waktu wisuda. Rio tak pernah ingin bertanya-tanya tentang hubungan asmara sahabatnya itu. Dia akan membiarkan waktu yang akan membuat Inas menceritakan semuanya kepada dirinya.


Menunggu di sebuah café langganan mereka, Rio menyeruput kopi pesanannya yang masih terasa cukup panas di lidahnya sambil menerawang melihat jauh keluar kaca jendela café. Apa yang ingin Inas bicarakan sampai mengajaknya bertemu.


Besok meet up yuk! Udah lama gak ketemu nih. Tulis Inas pada pesan singkatnya yang dia kirim kepada Rio semalam.


Boleh. Kangen gue?


Iyalah. Kamu engga? Jangan-jangan udah punya cewek sekarang.


Hahahaha. Cewek? Calon isteri.


Serius?


Besok ketemu dimana? Tempat biasa?


Hmmm... iya


Senyum terkulum di wajah Rio mengingat isi pesan singkat yang dia kirim kepada Inas semalam. Calon isteri. Darimana? Pikirnya.


“Ngapain senyum-senyum sendiri?” sebuah suara mengejutkan Rio dari lamunannya. Dia tak sadar Inas sudah duduk di hadapannya.


“Lu udah lama di situ?”


“Sampai gak sadar gitu aku dateng. Lagi ngelamunin calon isteri?” goda Inas sambil tersenyum.


“Tahu aja lu.”


“Kok gak kamu ajak sih?”


“Siapa?”


“Calon isteri mu dong.”


“Hahaha. Masih sibuk dia.” jawab Rio asal. Sibuk gue cariin, batinnya.

__ADS_1


“Dasar pelit!”


“Besoklah kalau gue udah ketemu gue kenalin ke elu.


“Maksud kamu? Kamu dijodohin gitu?”


“Hahahahaha. Mungkin.” jawab Rio sambil terkekeh geli.


“Iiiih. Seriusan...”


“Udah ah. Capek gue ketawa mulu.”


“Abis kamu main sok sok misterius gittu. Awas ya kalau nikah diam-diam.”


“Emang gue artis nikah diam-diam?” Inas hanya mencebikkan bibirnya menanggapi candaan Rio.


“Gimana kabar lu?” tanya Rio kemudian.


“Yaa kayak gini.”


“Sehat?”


“Perasaan lu itu. Sehat gak?”


Inas terdiam. Dia selama ini tidak menceritakan kepada Rio perihal kisah asmaranya dengan Nathan dan kisah tanpa statusnya dengan Aji. Rio yang tahu air muka Inas yang berubah dapat menebak ada sesuatu yang terjadi dengan Inas dan hatinya.


“Mau sampai kapan lu diem, Nas? Gue udah nunggu lu cerita dari abis wisuda sampai sekarang. Udah hampir delapan bulan dan lu tetep diem. Kenapa?” tanya Rio kemudian, sedikit memaksa.


“Hhhhh.... intinya aku lagi bingung.”


“Tentang?”


“Siapa yang aku pilih.”


“Maksudnya?” tanya Rio bingung.

__ADS_1


Rio melihat gurat ragu di wajah Inas. Diam sesaat, seolah memberi jeda untuk Inas agar mau menceritakan masalahnya. Rio selalu mencoba membuat Inas nyaman dengan tidak memburu apa-apa yang jadi segudang pertanyaan di hatinya, meskipun banyak hal yang ingin diketahui dari wanita di hadapannya itu sesegera mungkin, tapi Rio selalu bisa menahan rasa penasarannya.


Inas menyeruput kopi susu pesanannya, kemudian menghela nafas panjang dan menceritakan semuanya kepada Rio dari tragedi wisuda yang mengejutkannya hingga kejadian di kos Aji. Hati Rio sempat memanas. Amarah dan cemburu menjadi satu. Dia tak menyangka wanita pujaannya tengah dekat dengan lelaki lain, bahkan sampai kontak fisik yang intim. Namun, dapat diredamnya perasaan campur aduk di hatinya mengingat posisinya di hati Inas hanya sebatas sahabat. Tak lebih.


“Jadi, bagaimanapun aku tetap harus memilih kan? Satu diantara dua atau tidak sama sekali.” ucap Inas mengakhiri ceritanya.


Rio tak tahu harus berkata apa, harus menyarankan apa. Tapi, dia berusaha mencari solusi untuk masalah hati wanita terkasihnya itu. Menata hatinya sendiri yang terguncang karena cerita yang mengejutkan sambil berpikir mencari solusi memang tidak mudah. Diam kembali mengisi ruang diantara Rio dan Inas. Inas hanya menerawang sambil sesekali menyeruput minuman pesanannya, sedangkan Rio masih larut dalam kekacauan di hati dan otaknya. What a mess!


***


Ragu sempat menggelayuti Inas ketika Rio bertanya tentang apa yang terjadi ketika wisuda, tapi kemudian dia menceritakan semuanya kepada Rio. Memang itu tujuannya mengajak Rio bertemu. Inas sudah tak dapat lagi berpikir, bingung memilih. Dan sudah akan mengakhiri kedua kisahnya ketika dia teringat bahwa ada sahabatnya yang akan dengan senang hati memberikan saran, memberinya kemantapan hati pada keputusannya.


Di hadapannya, Rio terlihat menerawang jauh. Inas sempat berpikir mungkin salah menceritakan semua kisahnya kepada Rio mengingat perasaan Rio padanya. Namun, kemudian pikiran itu ditepisnya jauh-jauh. Mungkin dia bener-bener sudah punya calon isteri? Inas hanya mampu diam dan menunggu Rio bicara sambil sesekali menikmati kopi susu yang dipesannya.


“Mungkin bukan pada tempatnya gue ngasih saran, Nas. Ini urusan hati lu bukan area gue. Gue cuma bisa balikin lagi ke hati lu. Hati lu lebih nyaman sama siapa? Atau malah lebih nyaman sendiri? Kalau yang lama masih bisa diperbaiki kenapa mesti cari yang baru? Tapi kalau semisal yang lama udah ga bisa bikin lu nyaman karena ada luka yang sulit sembuh, kenapa mesti berat ninggalinnya? Tanya lebih dalem ke hati lu, Nas. Gue yakin jawabannya ada di sana.” ucap Rio akhirnya.


Inas masih bergeming. Mencoba mencerna ucapan Rio. Selama ini udah nanya Yo, tapi masih bingung.


“Kalau lu masih juga bingung, lu coba nyari ketenangan. Beberapa hari jangan hubungi keduanya. Mungkin bakal ketahuan hati lu lebih condong ke siapa. Ini hidup lu, Nas. Jangan memilih pilihan yang lu bakal sesali seumur hidup lu. Itu aja sih saran gue.”


“Hhhh…” Inas hanya menghela nafas panjang.


“Atau...” Inas memperhatikan Rio yang terdengar akan memberi solusi lain.


“Apa?” tanya Inas penasaran.


“Atau lu nyoba bersandar ke hati gue dulu. Siapa tahu cocok.” ucap Rio dengan nada menggoda dan tersenyum licik.


“Dasar! Aku udah dengerin serius ternyata kamu becanda.” ucap Inas, kesal.


“Seriusan juga boleh kok, Nas.” goda Rio lagi.


“Mmmmm...boleh juga sih ide mu.”


“Serius?” tanya Rio sedikit terkejut.

__ADS_1


“Enaknya?” ucap Inas sambil tersenyum.


Dan kedua sahabat itu tertawa, melupakan masalah perasaan yang pelik dan seperti tak ada solusi. Inas merasa keputusannya menemui Rio dan menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu adalah keputusan yang tepat. Dia tahu Rio akan dapat memberikan ketenangan di hatinya, meski pada akhirnya tetap Inas sendiri yang harus berpikir dan memutuskan. Lega.


__ADS_2