Rindu Senin

Rindu Senin
Nostalgi Kecil


__ADS_3

Ada kabarnya nostalgi kecil ku di sana? Masih bersamanya meraih senyum dan tawa ataukah duka nestapa? Aku harap yang kedua. Agar aku dapat mengambilnya dan memeluknya untuk ku simpan dalam saku kemeja ku. Ku bawa kemana-mana agar tak seorang pun tahu. Agar tetap lekat dekat dengan jantung hati ku. Menjaga degupannya teratur dan bernafas lalu.


Dia nostalgi kecil ku. Menyibak seluruh memori masa lalu yang aku simpan dalam kalbu. Mencuat kembali ke permukaan masa kini. Mengobrak-abrik hati dan pikiran ku jadi kacau balau. Tak mampu lagi terkontrol. Emosi yang tak mampu lagi terkendali. Memburu hasrat ingin bersama, bersua, berdua memadu kisah lama.


Selamat pagi, nostalgi kecil ku. Berharap mentari pagi tetap menaungi mu dalam hangat dan syahdu. Membawa melewati hari dengan tawa kecil indahmu yang akan menghipnotis seluruh penduduk negeri takluk kepadamu. Jangan! Jangan tertawa! Nanti semua pria bisa jatuh cinta. Aku yang repot. Simpan tawa mu untuk mu, untukku dan untuknya yang aku doakan segera enyah dari samping mu.


Selamat pagi, nostalgi kecil ku. Perlahan saja jangan buru-buru. Aku tak ingin melukai mu. Tak ingin ada goresan dimanapun di tubuh dan hati mu. Perlahan saja jangan buru-buru. Angin sepoi lebih syahdu menyapu daripada angin badai yang memburu. Yang meninggalkan lara dan duka membiru. Perlahan saja jangan buru-buru. Aku menunggu sampai di batas waktu. Hingga jemu. Tidak! Tidak akan jemu. Tawa mu menetapkan niat ku, meneguhkan hati ku. Jadi, aku tidak jemu.


Selamat pagi, nostalgi kecil ku. Matahari sudah di ujung kepala mengguratkan peluh di wajah. Panasnya tak mengalahkan panas hati ku yang cemburu. Cemburu menerima bayanganmu bersamanya memadu kasih dan gembira. Aku yang jauh dan merana dimakan rindu dan cemburu. Apa daya tak mampu melaju. Menantang hari dan merebut paksa hati mu. Tidak! Masih ada harga diri.

__ADS_1


Selamat siang nostalgi kecil ku. Bukan aku tak ingin berjuang, berkorban untuk mu. Namun, aku tahu di dalam hati mu masih ada setitik ragu. Aku menunggu. Cukup. Jangan meminta lebih. Aku sedang menata hati. Agar aku sendiri tak sakit ketika kau lebih memilih kisah terkini dan membuang masa lalu mu ini. Jangan meminta lebih! Ini sudah cukup membuat ku perih.


Selamat siang nostalgi kecil ku. Ku pupuk rindu ku agar subur menghijau ketika aku bersua dengan mu. Agar kau tahu bahwa rindu ku tak sebanding dengan cintanya. Rindu ku ini mahal. Aku tak akan sembarang rindu. Cukup diri mu saja yang akan menikmatinya. Dijamin asli dari hati. Jangan khawatir, aku masih sanggup menanggung rindu ku. Ku simpan rapat agar awet dan tak kadaluarsa.


Selamat siang nostalgi kecil ku. Matahari sudah merangkak perlahan ke barat. Meninggalkan mu dengan ceria. Atau duka? Jangan! Jangan berduka! Tak cocok dengan paras ayu mu. Tapi jangan tertawa! Aku tak ingin punya banyak saingan!. Cukup dia saja. Jangan ada yang lain. Bukan aku ragu tak dapat merengkuh mu. Aku hanya takut pesona ku tak cukup membuat mu berpaling ke arah ku.


Selamat sore nostalgi kecil ku. Secangkir teh manis menemani ku melukis mu dalamangan ku. Tertawa dan gembira. Manis. Lebih manis dari secangkir teh manis buatan ku. Memberi cawan candu yang tak mampu aku tepis dengan tangan ku. Bahkan pikiran dan hati ku sudah terkena candu rindu mu. Sudah kacau tak teratur. Sudah memburu ingin segera bertemu. Sungguh, rindu ku tak pernah semenyakitkan ini.


Selamat sore nostalgi kecil ku. Senja sudah lelah menemani ku yang kaku, mematung , melukis mu dalam langitnya. Perlahan menghilang di garis horison barat. Memercikkan kegelapan di atas bumi dan hati ku. Tanpa cahaya dari tawa mu, apalah hari ku. Jangan salahkan aku jika tergoda bujuk rayu wanita ayu. Aku hanya pria biasa, bukan dewa.

__ADS_1


Selamat malam nostalgi kecil ku. Bulan dan bintang malu-malu nampak menggantikan matahari yang lelah bersinar sepanjang hari. Mencoba menjadi pelita kecil di gelapnya malam dan hati. Membisik sunyi ke relung hati. Adakah kau rasa angin malam ini? Lembut menerpa membawa aroma cinta kasih dari sini. Jangan sungkan! Memang untuk mu. Semua. Jangan ditolak! Biarkan saja disitu menemani mu. Agar kau tak sepi malam ini. Agar tidur mu nyenyak malam ini.


Selamat malam nostalgi kecil ku. Masihkah kau simpan cinta kecil mu untukku? Menghangatkan ku dari angin malam yang menyerbu. Jika membayang tawa mu saja sudah membuat aku tak waras. Bagaimana jika aku memiliki mu? Masihkah aku mampu berpikir sehat? Tak apa. Biar aku saja yang gila! Kau tak perlu takut. Gila ku karena mu. Bukan karena yang lain-lain.


Selamat malam nostalgi kecil ku. Sudah lelah aku merindukan mu dari pagi hingga pagi lagi. Meski lelah, hati tak mau berhenti. Otak terus berpikir, membayang tawa mu berhari-hari. Sudah ku suruh berhenti. Tapi tak bisa berhenti. Sudah hilang kendali, meski aku ingin. Biarkan saja! Tak apa. Meski merepotkan, aku sudah biasa hanya ditemani bayang-bayang mu saja tiap malam.


Selamat malam nostalgi kecil ku. Tangan ku sudah pegal menulis kata-kata hati. Sudah ingin berhenti , tapi rasanya susah. Ya sudah aku lanjutkan. Sampai fajar menjelang karena mata tak jua terpejam. Sudahlah. Yang penting aku puas, biar tangan ku pegal. Yang penting rindu ku terukir dalam putih kertas yang tak mampu mencibir.


Selamat malam nostalgi kecil ku. Tidurlah. Sudah hampir pagi.

__ADS_1


***


Seperti sudah menumpahkan seluruh rindunya, Aji menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi tempat dia terduduk menulis sajaknya. Sudah lama sekali dia tidak berkirim pesan singkat atau telepon dengan Inas. Sejak pertemuan mereka di Benteng V, tak ada lagi kelanjutan kisah mereka. Hhh... Aji mengira akan ada kemajuan setelahnya. Namun, itu hanya angannya saja. Bukan dia tak ingin berusaha lebih keras, tapi dirinya sendiri tak ingin disebut sebagai perusak hubungan orang. Meskipun sudah! Ditatapnya kertas penuh goresan tintanya. Belum pernah dia menulis sajak sepanjang itu. Tersadar akan sesuatu yang tak pernah dia rasa. Rindu ternyata menyakitkan!


__ADS_2