
Waktu berputar seiring bumi berotasi. Pun dunia percintaan Inas yang masih berjalan setelah prahara orang ketiga mengguncang. Keputusannya untuk memberi Nathan kesempatan masih menyisakan tanya di hatinya. Mengapa? Inas terus bertanya pada hatinya mengapa dia semudah itu memberi Nathan kesempatan? Bukankah dia sangat marah? Sangat kecewa? Sangat terluka? Lalu mengapa? Dan jawabannya selalu entah.
Mungkinkah karena dia takut sendiri? Tidak. Dia masih punya banyak teman. Masih ada Rio, sahabatnya yang akan dengan senang hati menemaninya kapan pun. Dan tentu saja masih banyak cowok yang mungkin akan mengantri menjadi pengganti Nathan. Lalu mengapa? Entah.
Mungkin karena sudah terbiasa ada Nathan di tiap hari-harinya dan mungkin akan aneh jika tiba-tiba tak ada lagi Nathan di hidupnya. Bukan! Dia tidak sekesepian itu. Bukan, bukan itu. Lalu apa? Entah.
Mungkin karena Nathan sudah terlalu dalam menyentuhnya. Menyentuh hati dan raganya. Setiap pelukan dan ciuman itu sudah menjadi biasa dalam tiap pertemuannya. Mungkinkah? Tidak. Dia tidak serendah itu. Perasaannya tidak sedangkal kontak fisik. Lalu mengapa? Entah.
Inas tak mampu menjawab setiap pertanyaan yang tertuju untuk dirinya sendiri. Apakah ini yang disebut cinta? Entah. Inas sudah berhenti jatuh cinta sejak masa remaja. Dia tidak ingin larut dalam cinta yang dapat membuatnya terluka karena sebuah penolakan. Cinta masa remajanya yang bertepuk sebelah tangan meninggalkan luka yang tak bisa sembuh hingga kapan pun. Memberi efek jera pada Inas untuk tidak jatuh cinta dan lebih menerima cinta yang datang daripada memberikannya.
Bukan berarti dia tidak mencintai Nathan. Hanya saja perasaannya terhadap Nathan bukan seperti perasaannya kepada Aji bertahun-tahun yang lalu. Menggebu-gebu. Setiap saat rindu. Dan berharap hari Minggu cepat berlalu agar Senin lekas datang, lekas mengantarnya menuju ke sekolah untuk memuaskan rindunya, meski hanya mencuri pandang dari jauh. Itu sudah cukup.
Aah... masa remaja. Sepertinya Inas sudah melupakannya. Dia sudah memupus kenangannya dan keinginannya sejak Aji tak menemuinya di benteng terakhir kali Inas ke sana. Pesan singkat Aji pun tak ia balas. Dia sudah berhenti. Berhenti bermimpi tentang masa remajanya yang mungkin dapat terulang. Inas berhenti mengharapkan mimpi masa remajanya. Sudahlah. Itu hanya cinta monyet. Bukan cinta sebenarnya. Lalu, seperti apa cinta sejati itu? Entah.
Inas tak ingin larut dalam sejuta pertanyaan dan kebimbangan dalam hatinya. Kelulusan sudah di depan mata. Dalam pikiran dan hati yang sedang tidak menentu, untunglah Inas tetap dapat menguasai diri untuk tetap fokus pada skripsinya yang akan selesai. Ingat! Dia bukan tipe cewek melankolis yang akan mendramatisir hal-hal remeh seputar percintaannya. Remeh? Inas tak pernah terlalu ngoyo menjalani hubungan pacaran. Untuk apa? Jika harus berakhir biarkan saja pergi. Tak perlu repot-repot.
***
__ADS_1
Memang tak mudah mengembalikan hati yang pernah terluka kembali seperti semula. Meski Inas memberinya kesempatan, tapi rasanya pun tak sama seperti sebelum hatinya terluka. Seperti ada jarak. Di sisi lain seperti terkekang. Seperti kata Alex, semua gak akan semudah yang dulu.
Sudah beberapa bulan terakhir Inas jarang mengirim pesan singkat lebih dulu. Biasanya setiap pagi dia akan mengirim pesan singkat, meski hanya ucapan selamat pagi. Sikapnya berubah dingin seolah tak peduli lagi dengan Nathan. Namun, jika Nathan tidak segera memberi kabar melalui pesan singkat atau telepon, Inas akan segera mengirim pesan singkat bernada curiga. Lagi apa? Dimana? Sama siapa?
Nathan jadi lebih sulit memahami Inas setelah kejadian itu. Benarkah Inas masih mencintainya? Atau hanya kasihan? Ditatapnya wajah wanita di sampingnya yang tengah asyik menikmati film. Dalam cahaya temaram lampu bioskop masih terlihat kilas raut bahagianya dapat menikmati film kesukaannya dengan orang yang dikasihinya. Sampai kapan Nathan akan tetap menjalani dua kisah ini? Sudah jelas telah ada hati yang terluka karenanya, tapi dia belum ingin berhenti.
Getar ponsel mengalihkan perhatiannya. Dibuka ponselnya dalam remang ruang bioskop. Pesan singkat dari Inas.
Lagi apa?
Ngerjain revisian. Inas lagi apa? Maaf ya... banyak banget revisian pas konsul kemarin jadi lupa gak pegang hp dari tadi.
Berharap Inas akan percaya alasan yang dibuatnya, Nathan kembali menyimpan ponsel dalam saku celananya dan menikmati film yang sebenarnya bukan seleranya. Hhh... Kalau pergi ke bioskop dengan Inas akan lain ceritanya. Mereka menyukai genre film yang sama jadi menonton tak akan semembosankan sekarang.
Getar ponsel kembali mengalihkan fokus Nathan. Sebuah balasan dari Inas.
Ya udah kalau gitu. Buruan diselesaiin. Biar bisa wisuda bareng.
__ADS_1
Senyum tipis tergurat di wajah Nathan. Wisuda bareng, pikirnya. Nathan sengaja mengulur-ulur menyelesaikan skripsinya agar dapat lulus bersama Inas. Semoga. Sentuhan di tangannya membuyarkan Nathan dari lamunannya tentang Inas. Trisna tetap fokus menatap layar sambil menggenggam tangan Nathan.
"Lagi seru-serunya nih." bisik Trisna kepada Nathan sambil tetap fokus menatap layar lebar di depan. Perlahan Nathan menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya, berusaha memfokuskan dirinya pada film yang tengah di putar. Membosankan.
***
Dalam temaram cahaya ruang bioskop, Trisna dapat melihat dari sudut matanya Nathan yang tengah sibuk dengan ponselnya dan sesekali menatap dirinya. Ada sesuatu yang disembunyikan Nathan dari semula. Trisna merasakannya. Hanya dia bukan tipe cewek yang menduga berdasarkan prasangka.
Terlintas di pikirannya beberapa waktu lalu ketika dia melihat postingan foto di akun sosmed Nathan. Masih bertanya-tanya tentang sosok cewek yang ada dalam postingan foto itu. Siapa? Sudah berkali-kali Trisna ingin menanyakannya, tapi dia tak ingin terlihat posesif.
Dilihatnya kekasihnya itu. Masih sibuk menerawang sambil menatap ponselnya. Terlihat senyum tipis terkembang di sana. Apa yang dibacanya? Pesan singkat? Dari siapa? Bahkan kekasihnya sampai tak sadar Trisna sedang memperhatikannya. Cewek? Pertanyaan-pertanyaan yang membuat dadanya sesak, membuatnya teringat mantan kekasihnya dulu.
Trisna yang memang tak pernah berprasangka berdasarkan nalurinya, tak pernah menganggap bahwa Ferdi akan main dengan cewek lain di belakangnya. Dia pernah curiga mendapati kekasihnya yang tak pernah melepaskan ponselnya tergeletak begitu saja. Namun, dia tak ingin menuduh hanya berdasarkan naluri. Dan ternyata memang benar! Selama ini Ferdi mengkhianatinya. Suatu ketika dia melihat Ferdi berjalan begitu mesra dengan seorang cewek di salah satu pusat perbelanjaan. Sesekali Ferdi terlihat mencium pipi cewek itu. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya terbakar.
Akankah Nathan juga sama? Memang selama mereka jadian, Nathan terkesan lebih dingin. Namun, beberapa bulan terakhir dia lebih sering mengirim pesan singkat atau menelepon lebih dulu dan itu membuat Trisna merasa tenang ketika sedang jauh dari kekasihnya itu. Tetapi ketika jarak mereka sedekat ini, mengapa malah terasa jauh? Haruskah Trisna mengatakan perasaan gelisahnya? Haruskah dia menanyakan perihal cewek dalam postingan di akun sosmed Nathan?
Seolah mencoba menenangkan hatinya, digenggamnya tangan kekasih yang duduk di sampingnya itu, menatap lurus layar lebar di depannya sambil berbisik, "Lagi seru-serunya nih."
__ADS_1