
Waktu selalu berputar lebih cepat ketika manusia sedang disibukkan dengan hal-hal yang menguras tenaga dan pikiran. Seperti baru kemarin Inas menapaki jalanan di kampusnya dengan euforia semangat mahasiswa baru. Kini dia sudah akan terbang, melepaskan jas almamater dan berjuang menghadapi dunia. Aahh... wisuda.
Sudah sedari dini hari penghuni rumah Inas disibukkan dengan persiapan mengantarkan wisuda Inas. Mamanya sibuk mempersiapkan hidangan spesial di dapur. Ayahnya sibuk menyiapkan mobil. Inas? Tentu saja sibuk merias diri. Dikenakannya baju kebaya warna gold dan kain batik sebagai bawahan. Inas terlihat sempurna dengan make up minimalisnya.
Terlihat senyum bahagia yang menghiasi Inas sedari bangun tidur. Hari ini memang istimewa. Bukan wisuda biasa, karena Inas akan wisuda bersama Nathan. Hubungannya dengan Nathan perlahan lebih baik. Hatinya perlahan dapat kembali seperti sedia kala tapi tetap selalu waspada. Belum! Tentu saja hatinya belum sepenuhnya sembuh. Masih ada bekas luka yang akan selalu mengingatkan Inas pada kejadian itu dan itu cukup menyakitkan.
"Nas, sarapan dulu." suara mama mengembalikan Inas ke dalam dunia nyata. Sekilas menatap pantulan dirinya dalam cermin. Tersungging senyum tipis. Sempurna.
"Nas..." kembali teriakan mama menggelegar mengisi seisi rumah.
"Iyaa, ma..." jawab Inas sambil beranjak menuju ruang makan.
Dilihatnya ayah sudah melahap sarapannya. Mama yang masih sibuk menat meja yang penuh dengan menu hidangan. Nampaknya sudah tidak muat lagi mejanya menampung seluruh masakan mama.
"Masak banyak banget ma?" tanya Inas sambil menarik kursi.
"Iya. Nanti kan Om sama tante kamu juga mau ikutan. Bentar lagi paling dateng." jawab mama sambil mengambilkan sepiring nasi untuk Inas.
"Hah? Siapa aja yang ikut?"
"Om Irwan, tante Rina, Om Roni sama tante Feti. Kan nanti ayah masuk ke ruang wisuda tuh, masa' mama nunggu di luar sendirian." ucap mama.
"Iya iya maa. Ya udah mama juga sarapan dulu." ajak Inas.
Tak berselang lama om dan tante Inas berdatangan ke rumah Inas, memberikan ucapan selamat kepada Inas dan menyantap hidangan istimewa yang tersedia. Pagi yang hangat mengantarkan Inas melepas statusnya sebagai mahasiswa. Hari yang cerah.
***
Di sudut kota X. Nathan yang sudah terbangun dari dini hari masih terduduk di tepi tempat tidurnya, menatap undangan wisuda yang ada di tangannya. Dilema memenuhi otaknya. Akan diberikan kepada siapa undangan wisuda itu? Ayah atau mamanya?
Jam terus berputar. Diacak-acaknya rambutnya kasar. Beranjak dari duduknya dia berjalan meraih ponsel di meja di kamarnya. Akhirnya dia memutuskan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Halo."
"Ayah dimana?"
"Masih di rumah. Gimana, Nat? Tumben pagi-pagi banget telepon."
"Nathan wisuda hari ini. Ayah bisa dateng?"
"Oh bisa bisa. Kemarin Leon cerita kamu mau wisuda. Ayah nunggu-nunggu undangan dari kamu dari kemarin. Ayah kira kamu gak mau ayah dateng."
"Nathan sibuk yah kemarin. Maaf mendadak ngabarinnya." jawab Nathan memberi alasan.
"Gak apa-apa. Jam berapa nanti berangkat? Mau berangkat bareng?"
"Nanti Nathan berangkat duluan aja yah. Nathan mampir ke rumah ayah nanti pas berangkat ngasih undangannya."
"Oke."
"Ya. Ayah bilang ibu mu dulu. Hati-hati berangkatnya."
Masih berdiri terpaku menatap undangan wisuda di tangannya. Sampai kemarin Nathan tak ingin seorang pun datang ke acara wisudanya. Namun, perkataan Inas kemarin membuat hati Nathan yang mengeras sedikit melunak.
"Gak bisa gitu dong. Nathan kuliah pake uang siapa?" Inas mendebat ketika Nathan mengatakan tidak akan mengundah ayah atau mamanya.
"Ayah." jawab Nathan datar.
"Setidaknya, biarkan ayah merasa bangga sudah berhasil memberikan pendidikan yang layak untuk anaknya. Undang ayah ya? Hargai usahanya." ucapan Inas memberikan efek yang cukup kuat di hati Nathan.
Dia selalu berhasil.
***
__ADS_1
Kampus sudah dipadati lautan manusia sedari pagi. Para wisudawan dan wisudawati sudah bersiap di tempat. Para pengantar sudah memenuhi setiap tempat yang kosong di pelataran kampus. Para penjual makanan dan minuman ringan tak ketinggalan ikut bejubel memadati pelataran kampus. Tak sedikit pula para mahasiswa yang menjadi penjual buket bunga dadakan menawarkan buket-buket bunga segar ataupun bunga plastik.
Inas dan teman-temannya sudah bersiap berbaris menuju ruang auditorium. Begitu pula Nathan dan Alex serta beberapa kakak tingkat yang telat wisuda. Telat wisuda, karena sebagian besar teman satu angkatan Nathan sudah lulus tahun lalu. Tampak euforia dan kelegaan di wajah-wajah para kakak tingkat yang akhirnya menyelesaikan masa studinya.
Barisan telah rapi. Panitia wisuda sudah memberikan sinyal kepada para wisudawan untuk memasuki ruang wisuda. Degub jantung sekan berlipat-lipat lebih kencang. Para wisudawan termasuk Inas dan Nathan berjalan rapi memasuki ruang wisuda. Duduk teratur sesuai kursi yang disediakan. Para orang tua wisudawan duduk di tempat yang telah disediakan di dalam gedung auditorium, terharu menyaksikan anak mereka akhirnya rampung menimba ilmu.
Serangkaian acara wisuda satu per satu terlaksana. Inas merasa lega setelah menerima ijazahnya. Duduk kembali sambil menikmati rangakaian acara yang masih tersisa. Setelah serangkaian acara yang panjang akhirnya tibalah di penghujung acara. Acara penutupan menjadi acara yang syahdu. Berbagai kenangan selama kuliah bermunculan di pikiran Inas. Mengharukan.
Wisuda telah purna. Para wisudawan bejubel keluar dari ruang auditorium. Nathan dan Inas bergandengan keluar melalui pintu sebelah timur. Ketika tiba di ambang pintu, Inas dengan refleks melepaskan genggaman tangan Nathan. Dilihatnya sosok yang menyulut api di hatinya sedang menghambur ke pelukan Nathan dengan senyum sumringah. Sakit.
***
Mata Nathan terbelalak. Jantungnya berdegub berjuta kali lebih kencang. Tanpa disadarinya, tangan Inas sudah lepas dari genggamannya. Sedetik kemudian dirasakannya tubuh Trisna menghambur memeluknya. Mata Nathan berusaha menangkap garis tubuh Inas, tapi percuma saja.
"Selamat ya, sayang." ucapan Trisna membuyarkan konsentrasi Nathan.
"Eh, iya. Makasih. Katanya gak bisa dateng?"
"Kan mau kasih kejutan buat kamu." jawab Trisna sambil tersenyum cerah.
"Sukses banget bikin aku kaget. Naik apa?" masih sambil mencari-cari sosok Inas.
"Naik bus aja tadi biar bisa turun depan kampus mu."
"Paling gak kasih kabar kalau sampe sini."
"Bukan kejutan dong kalau bilang. Nyariin siapa sih?" tanya Trisna yang sedari tadi menangkap Nathan tengah mencari-cari seseorang.
"Temen." jawab Nathan, masih celingukan ke kanan dan ke kiri.
Mata Nathan masih mencoba mencari-cari Inas. Tak peduli kalau Trisna curiga. Yang dia pedulikan hanya perasaan Inas. Shit! Seandainya dia tahu kalau Trisna akan memberikan kejutan seperti ini. Seandainya dia bisa menebaknya. Semalam Trisna menelepon, mengatakan bahwa dia tak bisa hadir di acara wisudanya dan Nathan merasa lega dengan itu. Tapi ternyata. Bodoh!
__ADS_1