
Sebulan lebih berlalu sejak Aji meninggalkan kota Y, meninggalkan nostalgi kecilnya ke tanah rantau. Rasanya sudah sangat lama sejak kejadian di bawah kontrolnya di kamar kosnya siang itu. Masih sangat lekat di otaknya tiap detail kebersamaannya bersama Inas waktu itu. Tiap sentuhan yang dia berikan kepada Inas, tiap ciuman yang dia tujukan kepada Inas, semuanya tidak mendapat penolakan dari Inas, membuatnya menginginkan lebih dan lebih yang kemudian menuntunnya pada suatu hal yang benar-benar di luar kendalinya.
Mengacak rambutnya kasar, Aji mencoba menghapus semua kilasan ingatan tentang Inas. Sial! Dan sejak saat itu Aji semakin tak karuan dibuatnya. Aji tak pernah meminta maaf kepada Inas tentang apa yang dia lakukan. Yang dilakukannya adalah luapan emosinya selama ini, rasa rindu dan cemburu yang beradu, melepaskan segalanya di saat yang dia pikir mungkin adalah saat terakhir untuk mengutarakannya.
Aji mencoba bersikap biasa agar Inas tak merasa bersalah karena telah menghentikan kenikmatan yang sudah di ujung pelampiasan. Aji tahu pasti begitu. Akan terasa aneh jika Inas tidak menolaknya sama sekali. Bahkan sudah sejauh itupun Aji sudah merasa cukup aneh. Inas memang bukan lagi gadis polos yang dia kenal waktu SMP dulu dan itu membuat Aji semakin tak bisa menghilangkan Inas dari pikirannya.
Berbalas pesan singkat tiap hari pun kini menjadi menu sehari-hari Inas dan Aji. Meski mereka tak pernah membahas masalah perasaan, tapi rasanya bagi Aji jadi hampa jika sehari tak berkirim pesan singkat dengan nostalgi kecilnya itu. Begini saja sudah cukup mengobati kekacauan di otak dan hati Aji.
Namun, hari ini Aji kembali dibuat kacau. Tak ada pesan singkat dari Inas sejak terakhir dia berkirim pesan singkat dengannya kemarin sore. Sudah hampir 24 jam. Aji sudah menahan dirinya untuk tidak mengirim pesan singkat kepada Inas sedari tadi pagi agar Inas tidak menjadi candu baginya, agar dia bisa bernafas tanpa Inas di tanah rantau. Tapi sepertinya, pertahanan Aji melemah sejak dia menyentuh Inas terlalu dalam. Dia tak mampu lagi bertahan tanpa Inas lebih dari 24 jam apalagi berbulan-bulan seperti dulu. Dirogohnya ponsel di saku celananya. Dengan khikmat Aji mengetik sebuah pesan singkat untuk Inas. Begini saja dulu.
***
Kamis sore membingkai bumi dengan cerah mentari yang berjalan ke barat, memberi sinyal kepada manusia yang sedari pagi mengais rejeki untuk beristirahat dan pulang, meninggalkan pekerjaannya begitu saja untuk dilanjutkan esok hari. Begitupun Nathan yang sudah delapan jam bekerja, memutuskan menyudahi laporan-laporan yang sudah sedari pagi dia garap tapi belum juga selesai menjelang jam pulang kerja tiba.
Urusan pekerjaan membuat Nathan sedikit mengurangi rasa sakit hatinya karena pengkhianatan Inas. Bisakah itu disebut pengkhianatan? Tidak. Bukan salah Inas jika dia mencari kenyamanan yang lain ketika hatinya sedang terpuruk. Sudah sewajarnya. Nathan hanya mampu menyalahkan dirinya. Jika saja dia tidak mengkhianati kepercayaan yang sudah Inas berikan kepadanya, mungkin hubungannya dengan Inas tidak akan seperti ini.
Dering ponsel menghentikan langkah Nathan menuju tempat parkir motornya. Senyum merebak di wajah Nathan. Sebuah pesan singkat dari Inas. Tumben, batinnya. Sudah lama sekali Inas tidak mengirim pesan singkat lebih dulu. Wajar saja kalau Nathan begitu senang mendapat pesan singkat dari Inas.
Sudah pulang?
Singkat. Tapi cukup membuat Nathan senang berlipat ganda.
Baru mau pulang ini. Kenapa?
Gak apa-apa. Ati-ati ya.
Iya. Makasih. Nathan sayang Inas.
Dan kemudian Nathan melajukan motornya dengan senyum terkembang di wajahnya sepanjang perjalanan. One step closer!
***
Menatap pantulan dirinya di cermin, Inas seolah bertanya jauh kepada seseorang di dalam hatinya. Siapa yang ada di hati mu? Namun sepertinya sia-sia. Inas belum menemukan jawabannya. Waktu bergulir berlalu dengan lambat. Ataukah cepat? Inas tak tahu. Hari-harinya berat. Harusnya tidak. Siapa yang tidak bahagia mendapat dua perhatian sekaligus? Nampaknya hanya Inas yang merasa kebingungan.
__ADS_1
Di satu sisi, ada seseorang yang pernah sangat dia sayangi, percayai. Namun, sudah berkali-kali menghancurkan hatinya sampai dia tak lagi bisa merasa apakah masih ada cinta untuknya atau tidak. Di lain sisi ada seseorang dari masa lalunya yang begitu didambanya, yang pernah membuang cintanya begitu saja kini tengah menghargai tiap hal yang dia berikan untuknya. Yang mana yang harus dia pilih? Salah satu atau tidak keduanya.
Dimana dia harus melabuhkan hatinya yang sudah pernah remuk? Kembali kepada sang penghancur hati atau berlari menuju pelipur hati? Mengapa begitu berat berpaling dari yang sudah pernah menyakiti hatinya bertubi-tubi? Bukankah seharusnya sangat mudah? Kemana dia harus mencari jawabannya? Ditatapnya layar ponsel yang menampakkan pesan singkat balasan dari Nathan.
Iya. Makasih. Nathan sayang Inas.
Sayang? Sudah lama sekali Inas tak mengatakan “Inas sayang Nathan”. Berat rasanya. Masihkah dia menyayanginya? Kalau tidak mengapa dia tak mampu pergi dari Nathan sejak hatinya terluka? Ataukah dia takut tak akan bisa menemukan pengganti yang dapat membuatnya merasa senyaman seperti ketika bersama Nathan? Inas semakin tak tahu mengapa dia tak dapat pergi begitu saja dari Nathan padahal sudah ada Aji. Aji yang menjadi cinta remaja pertamanya. Aji yang datang di saat yang tepat harusnya dapat menjadi obat bagi hatinya. Tapi mengapa seperti ada yang kurang?
Dering ponsel membuyarkan Inas dari pencarian jawaban atas kegalauan hatinya. Sebuah panggilan dari Nathan.
“Ya?”
“Lagi apa?”
“Gak ngapa-ngapain. Udah sampai rumah?”
“Udah. Baru aja turun dari motor.”
“Iya. Kangen soalnya.”
“Hmmm…”
“Kenapa?”
“Bo’ong.”
“Apanya?”
“Kangennya.”
“Beneraaaan Inas. Nih buktinya langsung telepon. Atau Nathan langsung ke situ sekarang?”
“Engga usah. Jauh. Capek ntar. Baru pulang kerja juga.”
__ADS_1
“Kalau udah ketemu Inas ilang capeknya.”
“Engga usah.”
“Ya biar Inas percaya kalau Nathan beneran kangen.”
“Iya. Udah percaya. Buruan istirahat sana.”
“Inas gak kangen Nathan?”
Diam merayap. Inas tak mampu menjawab. Entah angin apa yang membuatnya ingin mengirim pesan singkat kepada Nathan sore itu. Hanya merasa sepi. Atau rindu? Entah.
“Iya gak usah bilang. Nathan tahu kalau Inas juga kangen Nathan kok. Hehe.” ucap Nathan dengan nada menggoda.
“Kepedean.”
“Tapi bener kan?”
“Udah sana mandi. Kemaleman mandi masuk angin ntar.”
“Cieeee. Perhatian banget.”
“Bodo.”
“Cieeee malu ketahuan kangen.”
“Udah ah. Buruan mandi!”
Inas menutup telepon dengan perasaan jengkel bercampur gemas yang tak dia mengerti. Ini pertama kalinya Nathan becanda sejak hubungan mereka merenggang. Tanpa Inas sadari seyum tipis terkembang di wajahnya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal yang akhirnya terpuaskan selama ini. Dasar!
Ponsel Inas kembali berdering. Kali ini sebuah pesan singkat dari Aji.
Sudah tertahan sejak lama. Bolehkah aku luapkan? Aku rindu...
__ADS_1