Rindu Senin

Rindu Senin
Kepergok


__ADS_3

Malam minggu yang semakin larut. Namun, Nathan masih terjaga bersama cinta remajanya. Bukan. Obsesi masa remajanya. Bersama menikmati malam di kota H. Entah apa yang membawa Nathan ke sana. Dia hanya termangu sore itu dan jemu. Sesekali berbalas pesan singkat dengan Inas namun bosan. Diraihnya jaket dan tas slempang kecilnya. Melaju menuju hiruk pikuk jalanan Sabtu sore. Tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana hasratnya melaju. Dan tibalah dia di kota H, tempat Trisna menimba ilmu.


"Aku udah di depan kampus. Kos mu sebelah mana?" tanya Nathan di telepon, sesaat setelah tiba di depan kampus Trisna.


"Eh? Beneran sayang? Bentar-bentar aku minta anter temen ke depan. Kamu tunggu ya." jawab Trisna terkejut sekaligus senang.


Tak berselang lama Trisna datang dibonceng seorang teman ceweknya. Dengan senyum secerah langit senja saat itu, Trisna menyambut Nathan. Penampilannya yang anggun berhasil menutupi sisi nakal dan liarnya. Nathan lebih suka tampilan Trisna yang anggun itu, yang tampak mandiri dan cuek. Semoga tak salah tujuan.


"Hai..." sapa Trisna tanpa nada dan sentuhan kemesraan.


"Kos mu sebelah mana sih?" tanya Nathan.


"Belakang kampus, sayang. Dalem kampus lagi rame banget, daripada kelamaan mending aku yang nyamperin kamu."


"Ada acara apa emang? Dari tadi nunggu di sini banyak banget yang ke arah dalem."


"Puncak Dies Natalis. Ada acara musik gitu lah. Ntar malem nonton yuk." ajak Trisna sambil mengaitkan lengannya ke lengan Nathan.


"Boleh lah. Sekarang makan dulu yuk. Laper."


"Oke. Ke depan situ aja yak, yang komplit menunya."

__ADS_1


Nathan hanya mengangguk dan memberi isyarat kepada Trisna untuk segera naik ke motornya. Sejenak Nathan lupa bahwa ada kekasih yang sedang menunggu kabar darinya di kota seberang. Merasa bahwa Sabtu malam ini akan menghilangkan kebosanannya, menguapkan rasa rindu kepada kekasihnya. Rindu. Namun naluri Nathan memilih Trisna. Entah. Nathan hanya menatap wanita di depannya yang sedang heboh bercerita tentang hari-harinya sambil menyantap seporsi nasi rames di depannya. Entah.


***


Sabtu malam yang sepi membawa Inas ke dalam kebosanan. Sudah berjam-jam yang lalu pesan singkat terakhirnya kepada Nathan tak berbalas. Tak ada curiga. Inas tak pernah curiga dengan hal-hal kecil seperti itu. Dia selalu menyusun prasangkanya dengan positif. Mungkin sibuk. Atau Ketiduran kali. Dan prasangka-prasangka baik lainnya. Inas tidak pernah memusingkan hal-hal seperti itu. Buang-buang tenaga.


Bangun dari rebahannya, Inas duduk di tepi tempat tidurnya. Mencoba memikirkan hal yang bisa dilakukan untuk mengusir kebosanannya. Dilihatnya sekeliling kamarnya. Matanya tertuju pada novel Agatha Christie yang dibelinya tempo hari. Belum selesai. Sedang tidak ingin membaca, Inas kemudian merebahkan tubuhnya lagi, meraih ponselnya dan membuka akun sosmednya. Scroll naik dan turun. Gak ada yang menarik. Menutup akun sosmednya. Hhh....


***


Malam yang mulai merayap, menghiasi hari Sabtu yang sibuk di sudut kota H. Di sebuah kampus ternama di sana, acara puncak Dies Natalis sudah akan dimulai. Anak-anak muda berhimpit mencari spot yang pas untuk menikmati alunan lagu-lagu dari musisi kenamaan yang menjadi bintang tamu. Beberapa band indie dan band kampus silih berganti membuka acara, memanaskan penonton yang semakin tak sabar masuk ke dalam acara inti. Acara puncak Dies Natalis yang diadakan di ruang terbuka menambah kemeriahan.


Hubungannya dengan Inas yang terbilang cukup lancar mungkin membuatnya sedikit bosan. Inas tak pernah terlihat cemburu, bahkan ketika Nathan terang-terangan di depan mata Inas menggoda adik tingkat di kampusnya. Inas bahkan hanya tersenyum melihat ekspresi adik tingkatnya yang salah tingkah. Cewek aneh. Tapi Nathan suka dengan Inas yang seperti itu. Dia tidak merasa terkekang ataupun terikat. Tidak merasa risih dengan segala macam tuntutan. Bahkan dia tidak pernah apel tiap weekend! Tidak merepotkan.


Namun, akhir-akhir ini dia merasa bosan. Entah. Dan ketika dengan tak sengaja dia mengungkapkan perasaannya kepada Trisna dan Trisna menerimanya, Nathan merasa terpacu. Tertantang. Menjalani dua kisah yang tentunya sangat menyita hati dan pikirannya, karena sejak saat dia menjalaninya dia selalu dibayangi rasa bersalah kepada Inas yang tulus mencintainya.


Dan di sini lah dia, bersama Trisna menikmati malam minggu yang tak biasa. Sebuah tepukan di pundak Nathan membuyarkan lamunan Nathan.


"Lu di sini juga bro?" sapa Alex sambil melirik ke arah Trisna yang sudah mengangkat kepalanya dari bahu Nathan.


"Eh elu? Ngapain di sini?" setengah terkejut.

__ADS_1


"Lhah elu ngapain di sini?" Alex bertanya sambil melayangkan pandangannya kepada Trisna.


"Lagi main aja sih. Lu ngisi acara di sini? Sama siapa?" tanya Nathan memastikan bahwa Liana tak ada bersama Alex.


"Iya, bentar lagi naik panggung. Sama anak-anak tuh, Sam dan Edo, udah pada di back stage. Gue mau ke sana trus liat elu, mastiin aja beneran lu kagak."


"Ya udah sana, prepare dulu." suruh Nathan dengan sedikit memberi isyarat mata kepada Alex untuk segera pergi.


"Oke deh. Ntar jangan balik dulu, tungguin gue."


"Iya iya."


Lega Alex berlalu tanpa menanyakan apapun tentang Trisna maupun menyinggung soal Inas. Trisna yang merasa heran tidak dikenalkan dengan teman Nathan akhirnya bertanya, "Siapa?"


"Temen sekelas di kampus."


"Ooohhh..." sambil menyandarkan kembali kepalanya di bahu Nathan.


Nathan masih mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Dia tidak menyangka bahwa Alex akan mengisi acara di kampus Trisna. Karena sibuk dengan magangnya, Nathan jarang bertemu Alex. Wajar kalau dia tidak tahu Alex akan mengisi acara di sana. Alex sendiri tidak hanya punya satu band, selain bersama Nathan, Alex juga memiliki band lain dengan genre musik yang berbeda. Itulah mengapa Nathan tidak heran kalau Alex tidak mengajaknya mengisi acara di kampus Trisna.


Nathan tahu Alex teman yang baik. Dia bisa menjaga rahasia apapun. Seperti malam ini ketika mereka bertemu, Nathan yakin Alex pasti sangat terkejut melihatnya bermesaraan dengan Trisna di pelataran kampus XY, menonton acara puncak Dies Natalis. Namun Alex sama sekali tidak menanyakan tentang Inas. Hanya saja Nathan sedikit kesal dengan isyarat mata Alex yang menyelidik dan curiga terhadap Nathan. Untungnya, Nathan dan Trisna duduk di bagian yang tidak terlalu terang, sehingga Trisna tidak terlalu mencurigai gelagat Alex dan Nathan yang sama-sama saling menyimpan tanya. Aman...

__ADS_1


__ADS_2