
Berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya. Melihat lebih jauh ke dalam, tak sekedar raganya. Menyusuri lorong waktu masa lalu dan terbenam di sana. Di saat-saat sulit ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah tanpa meminta pendapatnya yang sudah cukup dewasa dan paham tentang permasalahan dunia. Kecewa. Tentu saja kecewa. Tak pernah terbayangkan kehidupannya akan terpuruk melesak dan gelap.
Di saat-saat tergelap dalam hidupnya, gadis yang dikaguminya selama ini selalu mendampinginya, seolah mengerti rasa sakit dan kecewa di hatinya. Senyuman dan tawanya mampu membangkitkannya, membuatnya bangun dan berdiri, menyadarkannya bahwa dunia terus berputar dan dia tak bisa hanya diam dan berduka. Bersamanya, dia menjadi lebih tegar menghadapi hari yang tak pernah mudah sejak saat itu. Tanpa sadar, dia telah menjadikannya sandaran yang mungkin sulit untuk dia lepaskan.
Begitulah Trisna di hati Nathan. Bukan sekedar obsesi masa remaja, tapi lebih dari itu. Trisna yang selalu menemaninya saat dia tengah terpuruk karena perceraian orang tuanya memberi arti tersendiri bagi Nathan. Mungkin ini menjadi salah satu alasan Nathan tak mampu melepaskan Trisna.
Diingatnya kembali kejadian lima tahun yang lalu. Saat-saat genting hidupnya mempersiapkan pikiran dan tenaga untuk menghadapi ujian kelulusan SMA, saat itulah badai menerpa keluarga mereka. Ayah dan ibunya bertengkar hebat dan berujung pada kata cerai yang tak pernah Nathan pahami pertengkaran tentang apa.
"Mama lelah pa kalau harus gini terus!" ujar mama Nathan dengan nada tinggi.
"Kalau kerja sampe malem gak capek? Giliran dimintai tolong suami capek?" bentak ayahnya dengan nada tak kalah tinggi.
"Capeklah kalau minta tolong urusan duiiiiit mulu. Ngasih kek! Malah minta terus. Terus papa kerja uang kemana? Buat selingkuh?"
"Apa?! Beraninya kamu nuduh aku ma!"
"Ya buktinya kerja gak pernah ada duit. Curiga!"
Nathan yang tak tahan mendengar kedua orang tuanya bertengkar malam itu keluar menemui Trisna. Trisna dengan tangan terbuka menyambutnya. Tanpa menanyakan apapun padahal raut muka Nathan sudah mendung. Trsina hanya menceritakan teman-temannya dengan heboh yang dibuat-buat.
"Ika tau-tau kentut pas pelajaran Pak Hadi. Tahu kan kak Pak Hadi killer banget? Bisa-bisa kentut si Ika, kedengeran seluruh kelas. Mau ketawa takut sama guru, ditahan takut ikutan kentut. haha. Akhirnya si Ika di hukum suruh berdiri di luar kelas sambil pegang tulisan 'Saya tidak akan kentut di dalam kelas Pak Hadi lagi'. Jadi tontonan dia. haha. Malu parah!"
__ADS_1
"Pantes aja depan kelas mu rame banget tadi." ucap Nathan tersenyum kecil.
"Makasih ya Tris." tambah Nathan kemudian.
"Sama-sama kak." ucap Trisna tersenyum lega.
"Bokap nyokap kayaknya udah di ambang batas." ungkap Nathan akhirnya. "Bertengkar hebat barusan. Capek dengernya."
"Sabar ya kak."
"Kasihan Leon. Aku pulang dulu aja Tris. Tadi buru-buru keluar gak inget ajak Leon."
"Makasih Tris. Pulang ya."
Sesampainya di rumah, Nathan sudah tak menemukan Leon dan ibunya. Kata ayahnya, Leon dibawa ibu ke tempat neneknya yang rumahnya tidak jauh dari rumah. Malam itu juga ayahnya memberi tahu Nathan tentang perceraian. Nathan hanya terdiam. Membeku. Hatinya sakit. Marah. Dan berlalu menuju kamarnya, meringkuk. Menangis. Sejak saat itu, Trisna menjadi tempatnya mencari tawa, membuang sepi.
Namun, tercipta jarak ketika masing-masing sudah kuliah. Hanya berkomunikasi via pesan singkat dan telepon. Bertemu sesekali ketika Trisna kembali ke kota X itupun tak lama. Tak dipungkiri Nathan agak kesepian. Untungnya Nathan mengenal Alex yang kemudian sering mengajaknya ngeband untuk menghabiskan waktu.
Seiring berjalannya waktu, Nathan mengenal Inas. Mendapati kenyamanan dari Inas tiap hari, tanpa sadar menjadi candu tersendiri baginya. Inas selalu memberi kehangatan, rasa aman dan nyaman yang datang entah darimana. Padahal Inas sama sekali tak melakukan apapun, dia hanya selalu berada di samping Nathan ketika Nathan menginginkannya. Memberi sentuhan tulus, bukan sekedar pelampiasan nafsu. Tak pernah sesederhana itu kenyamanan yang Nathan kira.
Inas tak pernah bertanya tentang keluarganya. Nathan yang awalnya tak ingin terlalu terbuka, perlahan membuka sedikit demi sedikit rahasia kepada Inas. Setiap Nathan bercerita, Inas tak pernah berkomentar apapun. Dia hanya diam, mendengarkan, menggenggam tangan Nathan dan mengelusnya perlahan, seakan mentransfer ketegaran dan semangat kepada Nathan.
__ADS_1
Dan kini, ditatapnya lagi pantulan dirinya di cermin. Menatap bisu akan apa yang tengah dijalaninya. Menggenggam dua hati yang berat untuk dia lepaskan. Jauh di dalam hatinya, Nathan tahu harus merelakan yang mana. Namun, egonya mengalahkan akal sehatnya. Jalani saja.
Berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya, berpikir, mencari alasan untuk tetap memegang ke dua hati itu. Takut ditinggalkan keduanya atau hanya sebuah hasrat yang belum dewasa? Nathan tak tahu. Dia hanya belum ingin melepaskan salah satunya. Keduanya memiliki arti tersendiri dalam hidupnya. Entah! Tidur saja.
***
Cukup tidur ternyata tak membuat rasa bimbang di hati Nathan lenyap. Rasa lelah masih menggantung di detik pertama dia membuka mata pagi itu. Merasai kepalanya yang berat. Mungkin efek terlalu keras berpikir semalaman. Mencoba mengumpulkan kekuatan, dia menggeliat perlahan. Ponsel di sampingnya berdering. Dilihat notifikasi masuk. Sebuah pesan singkat dari Inas.
Met pagi. Inas sayang Nathan.
Sudah beberapa hari dia tak bersua dengan kekasihnya itu. Bahkan dia pergi menemui Trisna pada Sabtu malam yang telah lalu. Meski begitu, kekasihnya itu tidak menaruh curiga ataupun marah. Inas tetaplah Inas. Yang tak pernah terlihat marah dengan apapun yang Nathan lakukan. Entah bagaimana jalan pikirannya, Nathan sendiri terkadang tidak memahaminya.
Met pagi. Nanti kuliah sampe jam berapa?
Tumben udah bangun? Ntar kuliah sampe jam 17.30.
Ya udah ntar Nathan tunggu. Nathan sayang Inas.
Jujur, Nathan sangat merindukan kekasihnya itu. Ada hal tersendiri yang membuatnya spesial. Kesederhanaan dan ketulusan dalam cintanya membuat Nathan merasa benar-benar dicintai. Tak seperti kekasih-kekasih sebelumnya. Ada yang hanya menjadikan Nathan sebagai tempat persinggahan, ada yang hanya memikirkan kontak fisik tanpa ada rasa di dalamnya, dan masih ada lagi yang aneh-aneh yang membuat Nathan terkadang bertanya seperti apa rasanya dicintai?
Inas selalu bisa membuatnya nyaman, bahkan di saat dia merasa sangat kesal ataupun marah. Nathan seketika akan mendapat ketenangan ketika Inas bertanya, "Nathan mau minta apa?" ketika kekesalan memenuhi hatinya. Dia akan langsung menghambur ke pelukan Inas, dan Inas hanya akan menepuk-nepuk punggungnya, dan setelah itu dia akan mendapat bonus ciuman lembut dan hangat yang dengan sekejap menghilangkan semua kesal dan amarahnya. Ajaib!
__ADS_1