Rindu Senin

Rindu Senin
Rindu Senin


__ADS_3

Senja Minggu membawa angin nostalgia masa lalu. Harum. Membuai jiwa yang sedang kalut dan sepi karena masa kini. Menawarkan candu masa lalu untuk mengobati luka hati. Bolehkah, sayang? Hanya sekejap. Atau barangkali lebih lama. Biarkan saja aku berlalu membawa kisah cinta pilu ku lalu. Memendamnya, menutup rapat dalam balutan kasih cinta remaja ku. Aahh. Indah.


Terkenang saat mata menikmati laku geraknya, sembunyi-sembunyi, setiap Senin hingga Sabtu. Menikmatinya hanya untuk ku saja, sembunyi-sembunyi. Menikmati senyum manisnya, gelak tawanya. Sembunyi-sembunyi. Mengguratkan senyum tipis pada hari-hari ku dari Senin hingga Sabtu.


Salahkah aku, cinta remaja ku? Jika aku mencari mu. Mencoba menata hati ku yang sedang hancur karena kisah kasih ku. Mencoba mencari sela untuk bernafas dari luka liku cinta ku. Salahkah aku, cinta remaja ku? Aku rasa tidak. Jangan salahkan aku, cinta remaja ku, jika aku jadi teringat kisah yang dulu-dulu tentang mu. Bukan kisah yang syahdu memang. Bukan. Tapi, aku cukup terhibur mengenangnya. Mengenang kepolosan remaja putih biru dalam bingkai masa lalu.


Angin malam berhembus riang, membawa serpihan kisah jumpa pertama ku dengan mu. Bukan jumpa yang kau sadari. Namun, aku yang menyadari ada makhluk mempesona yang mengundang mata untuk dinikmati. Sembunyi-sembunyi saja, cinta remaja ku. Di pagi cerah aku menemukan senyuman mu yang membuat pagi semakjn cerah. Mengintip mu dari balik punggung-punggung yang sempurna menyembunyikan bahagia ku. Kau belum menyadarinya kala itu. Tak apa. Sudah cukup bagi ku.


Hari berganti lalu dan aku selalu menikmati mu dari jauh. Hingga Sabtu selalu membuat ku membiru karena akan rindu. Melalui Minggu tanpa senyum mu. Pilu. Sudah tak sabar menanti Senin yang akan memuaskan rindu ku. Tak sabar menuju Senin yang akan mengantarkan ku padamu. Minggu selalu berat bagi ku, cinta remaja ku, karena tak ada senyum mu. Minggu selalu kelabu, cinta remaja ku, karena tak melihat raut mu. Minggu selalu jemu, cinta remaja ku. Selalu.


Luka ku kini membawa ku mencari mu, cinta remaja ku, kemana-mana. Mengantarkan ku menyusuri tiap ruang nostlgi masa lalu. Aku yang dulu selalu merindu Senin, berharap segera bersua dengan senyum mu. Meski hanya menikmatinya sembunyi-sembunyi. Sudah cukup, cinta remaja ku. Sudah cukup memuaskan rindu ku.

__ADS_1


Aku sudah cukup puas menikmati mu sembunyi-sembunyi dari Senin hingga Sabtu, cinta remaja ku, untuk ku sendiri. Ataukah ada yang menikmati mu juga sembunyi-sembunyi? Pasti. Kau mempesona, cinta remaja ku, aku tahu. Aku harus rela berbagi senyum mu dengan yang lain. Tak apa. Aku pun tak tahu. Mereka pun tak tahu. Tak apa. Aku sudah cukup hanya dengan menyimpan cinta ku ini di hati ku.


Biarkan saja aku mencintai mu. Biarkan saja hanya aku dan Tuhan yang tahu. Tak perlu seluruh dunia tahu. Mereka juga tidak akan peduli. Kau pun mungkin tak akan peduli. Biarkan aku saja yang peduli. Sudah cukup. Aku tak meminta apapun. Biarkan saja begitu.


Sudah berapa Senin aku lewati tanpa mu. Menyusuri lorong-lorong masa kini dengan bayangan mu. Akankah kau masih mengingat ku, cinta remaja ku? Semoga. Aku mencari mu dari Senin kelabu hingga Minggu berlalu. Tak jua aku menemukan mu. Aku yang tengah pilu karena kisah kasih ku, terseok-seok mencari penawar baru. Dimanakah kau, cinta remaja ku?


Salahkah aku, cinta remaja ku? Jika aku mencari mu di kala remuk. Kau tak pernah tahu seberapa parahnya luka ku. Tak apa. Kau tak perlu tahu. Aku sudah mencoba acuh membiarkan rasa itu berlalu. Salahkah aku, cinta remaja ku? Jika aku menginginkan mu. JIka dia pun merasai cinta remajanya, aku pun ingin. Mengapa? Tak ada yang salah. Cinta tak pernah salah, cinta remaja ku. Manusia yang selalu salah. Cinta tak pernah salah, cinta remaja ku. Tak pernah.


Aku masih terus berjalan mencari mu, cinta remaja ku. Entah sudah berapa Senin berlalu. Aku tak pernah layu berlalu, berharap menemukan mu di sela-sela puing hati ku. Teringat akan emosi masa lalu ku yang tak mampu tertahan dalam hati ku. Sudah meluap karena sering menikmati mu sembunyi-sembunyi dari Senin hingga Sabtu, bahkan merindu mu di hari Minggu. Sudah ingin meledak karena tak mampu lagi menahan goda senyum dan tawa mu dari jauh.


Sudah tumpah perasaan ku. Aku utarakan pada mu cinta remaja ku, pada hari itu. Entah Senin atau Sabtu. Kau pun hanya membisu, membeku, terpaku, lalu berlalu. Meninggalkan ku sendiri dalam haru biru kasih tak sampai. Meninggalkan ku sendiri dalam tangis diam yang berderai. Meninggalkan ku sendiri tanpa kata.

__ADS_1


Tak apa, cinta remaja ku. Aku sudah tahu. Kau tak perlu peduli. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu akan begitu. Jadi, aku terus menikmati mu sembunyi-sembunyi dari Senin hingga Sabtu. Aku terus merindu mu di hari Minggu. Bukan salah mu. Salah ku yang mencintai mu. Salah ku yang merindu mu. Tak apa, cinta remaja ku. Aku sudah tahu.


Kini aku masih mencari mu. Melalui Senin hingga Minggu dengan merindu mu. Meski aku tengah bersama kasih ku. Aku tak peduli. Luka ku masih perih. Masih pilu. Jadi, aku hanya ingin memuaskan rindu ku pada mu. Biarkan saja dia mencoba menggapai ku. Aku masih pilu. Biarkan saja dia mencoba memberi penawar untuk hati ku. Aku masih pilu. Aku hanya ingin diri mu, cinta remaja ku.


Sudah berapa senja Senin aku lalui. Tak jua aku temui dirimu, cinta remaja ku. Tak ada kabar tentang mu, aku mulai lelah mencari. Akankah bertemu? Ataukah tidak? Rasanya ingin berhenti, cinta remaja ku. Tapi, luka ku menginginkanmu, cinta remaja ku. Berharap mendapat penawar yang manjur. Semoga. Jadi, aku terus mencari mu. Meski aku tak tahu kemana akan menemui mu.


Sudah tak terhitung Senin aku habiskan merengkuh bayang senyum remaja mu. Membingkainya indah di tiap bunga tidur malam ku agar aku lupa luka hati ku. Sudah letih rasanya aku berlalu mencari mu. Dimana pun. Tapi tak apa cinta remaja ku, letih ku tak separah luka ku. Memori tentang mu menguatkan laku ku menuju adanya diri mu.


Senja Senin kesekian aku habiskan tanpa menemukan mu. Hingga Senin malam merayap perlahan aku masih berjalan. Mencari mu, cinta remaja ku. Berharap sudah akan menemukan mu sebelum tidur malam ku. Rasanya sudah dekat. Sudah hampir sampai. Hanya menuruti kemana kaki melangkah. Menyusuri tiap sudut kota yang mulai semakin ramai oleh para penjaja kuliner malam. Aku tak peduli. Hanya terus berlalu sambil menikmati rembulan yang seperti menemani. Dan mungkin tinggal selangkah lagi.


Lihatlah, cinta remaja ku! Di remang cahaya purnama Senin malam aku menemukan mu. Duduk terpaku menatap cahaya langit malam seolah menanti ku. Akan kah begitu? Ataukah tidak? Aku tak peduli. Aku hanya akan menatap mu, menikmati mu, sebentar saja. Tak lagi sembunyi-sembunyi. Hanya akan berdiri di sana. Di hadap mu. Dan berkata, "Aku rindu."

__ADS_1


***


Seakan puas menumpahkan segala rasa yang membuncah di dadanya, Inas menutup lembaran-lembaran kertas putih yang sudah penuh dengan sajak tentang cinta remajanya. Selamat malam. Sampai jumpa esok.


__ADS_2