
🌸
🌸
"Sandra.."
Teriakan teriakan bariton yang membuat Sandra terlonjak, wajahnya masih memerah, dengan mata berkilat menyorot ke arah Zivanna yang nampak terisak.
Tanpa peduli keadaan sekelilingnya, Raga segera merengkuh tubuh pujaan hatinya ke dalam pelukannya. Membuat orang yang ada di lobi melotot kaget.
Bagaimana bisa, pak Raga dengan seorang office girl?
"Sudah, jangan menangis sayang, aku mencintaimu" bisik Raga, seraya menangkup wajah sang kekasih, mengusap bulir air mata yang terus turun membasahi pipi mulusnya.
"Maafkan aku Raga, gara-gara aku, kamu malu" isak Zivanna.
"Sstt....sudah, jangan menangis, apapun akan aku lakukan, demi kebahagiaan kamu"
Raga menatap Sandra tajam, hatinya begitu sakit. Melihat Raga yang mendekap tubuh Zivanna begitu erat, seakan-akan takut kalo dia akan menghilang dari dirinya.
"Cukup Sandra, kamu sudah melewati batasan. Cepat pergi dari sini!" bentak Raga.
"Kamu kelewatan Raga, kamu lebih memilih gadis rendahan itu dari pada aku, anak koruptor!" Sandra terus saja berteriak.
"Security.....bawa wanita itu pergi, dan pastikan jangan pernah diizinkan menginjakkan kaki lagi di tempat ini" titah Raga.
Raga menggandeng tangan Zivanna, dan mengajaknya meninggalkan tempat ini, sementara Sandra hanya bisa berteriak saat security menarik tangannya dengan paksa.
Sampai di mobil Raga pun Zivanna masih terus menangis. Dia sungguh merasa mali, Sandra begitu tega mempermalukan dirinya di depan banyak orang seperti tadi.
"Sayang.."Raga memegang kedua bahu Zivanna lembut, dan memaksanya untuk mau menatap wajahnya
"Aku malu kembali ke kantor kamu lagi Raga, rasanya aku sudah tidak punya muka lagi"
"Ya sudah, tidak usah bekerja, sekarang kita ambil barang-barang kamu ya, kita ke apartemen saja. Ok" Raga tersenyum manis,mencoba menghibur Zivanna yang tengah gundah gulana.
"Tapi.... bagaimana aku hidup kalo tidak kerja?" tanya Zivanna polos.
Raga terkekeh, dikecupnya bibir tipis yang masih pucat itu sekilas. Membuat si empunya mendelik marah, karena Raga memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencuri ciuman.
"Raga!" pekik Zivanna.
__ADS_1
"Maaf, kamu menggemaskan banget. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah?" Raga menaik turunkan kedua alisnya.
Membuat wajah Zivanna merona, dan semakin tampak menggemaskan di mata Raga.
"Memang ayah sama ibu kamu mau punya menantu seperti aku?"
"Kenapa harus menolak? kamu cantik, kamu baik, dan yang pasti aku sangat mencintai kamu. Itu yang paling penting"
Cup.
Raga mengecup bibir Zivanna lagi, kali ini agak sedikit lama, dan Zivanna tak lagi bisa menolaknya, dia ikut larut dalam permainan bibir Raga yang begitu memabukkan.
"Raga....ini di tempat umum" bisik Zivanna, sambil menjauhkan wajahnya. Mereka memang masih ada di dalam mobil yang masih belum berjalan sejak tadi.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera menikahi kamu sayang, dan kita pasti akan hidup bahagia selamanya" bisik Raga seraya mengusap sudut bibir Zivanna yang masih sedikit basah, sisa ciuman panas mereka.
🌸
🌸
Raga terpaksa menyerahkan segala urusan pekerjaan kepada Danu, karena dia lebih memilih membantu Zivanna memindahkan barang-barang dari tempat kos ke apartemen.
Setelah berpamitan dengan pemilik kos dan juga beberapa teman yang dia kenal, Raga membawa Zivanna ke apartemen miliknya.
Sepanjang perjalanan, Raga tak melepaskan genggaman tangan Zivanna sedetikpun. Hatinya begitu bahagia, nyaris berbunga-bunga, tak pernah dia merasa kebahagiaan yang seperti ini, walau hampir dua tahun menjalin hubungan dengan Sandra.
Sampailah keduanya di unit apartemen Raga, Zivanna sedikit ragu, dia takut tinggal di tempat seperti ini sendirian.
"Raga.."
"Hemm" Raga membuka pintu kamar dan mempersilahkan Zivanna untuk masuk.
"Aku di sini sendirian?" tanya Zivanna, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Ranjang king size dengan bed cover Warna coklat tua, ada satu buah lemari besar yang menyatu dengan tembok, ada tempat untuk ganti baju juga yang ad di sebelah kamar mandi.
"Mau aku temenin?" canda Raga.
"Ih, aku serius. Aku takut kalo mesti sendiri di sini"
"Iya, nanti aku temani sampai kamu tidur ya, setelah itu aku akan pindah ke sebelah.
"Gimana kalo aku terjaga tengah malam, dan tak bisa tidur lagi?" tanya Zivanna lagi dengan cemas.
__ADS_1
"Ya sudah, aku tidur di luar, biar kamu nggak takut. Ok" Raga menangkup kedua pipi yang masih agak sembab itu, menatapnya penuh dengan cinta.
"Tapi, nggak boleh nakal ya" kata Zivanna.
"Ng...kalo itu aku nggak janji" Raga tergelak. Dan Zivanna mencubit perut liat Raga dengan kesal.
"Aww...sakit sayang"
"Raga.."
"Panggil sayang dong" pinta Raga.
"Ih, nanti aja kalo udah nikah" Zivanna duduk si bibir ranjang.
"Sekarang belajar dulu lah, biar nanti terbiasa" Raga berdiri di depan Zivanna, dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana.
"Ih, Raga" Zivanna merengek.
"Iya...iya....kamu panggil apa aja terserah, " Raga mengalah.
"Aku jahat nggak sih?"
"Jahat kenapa?" Raga berlutut di depan Zivanna, menggenggam jemari yang lentik itu dengan mesra.
"Dulu waktu kamu belum sukses seperti ini, aku menolak kamu, dan Sandra yang pada akhirnya menemani kamu hingga sukses sekarang, tapi aku malah datang menghancurkan hubungan kalian"
"Tidak, kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan putusnya aku dan Sandra, walaupun kamu tidak hadir di hidupku saat ini, memang hubungan aku dan Sandra sudah nggak sehat sayang. Stop menyalahkan diri sendiri, ok"
Zivanna tersenyum, dan Raga berdiri.
"Kamu istirahat saja, aku di ruang kerja kalo kamu butuh sesuatu" pamit Raga.
"Iya.."
*bersambung..
maaf ya, lama nggak up,mohon dukungannya ya.
🌸
🌸*
__ADS_1