Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Jangan ingatkan masa lalu.


__ADS_3

🌸


🌸


Zivanna masih terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh dia merasa begitu malu mengingat segala tingkah lakunya di masa lalu.


Mungkin saja begitu menyebalkan di mata semua orang yang mengenalnya. Raga terkekeh geli, dia menghampiri sang istri.


meraih kedua tangan yang menutup wajah cantiknya itu.


Raga mengecup kedua tangan lentik dan lembut itu penuh cinta, terkadang masih tidak percaya, bila sekarang dia bisa memiliki seorang Zivanna, gadis cantik yang dulu arogan, pintar, dan jutek.


"Aku bahagia, sekarang bisa memiliki dirimu seutuhnya, terima kasih juga, sudah menjadi pemicu semangatku untuk bisa meraih semua impianku," kata Raga, dia memeluk tubuh mungil istrinya begitu erat.


Mengecup pucuk kepalanya lama dan penuh kasih sayang." Seandainya dulu kamu tidak menghina aku, belum tentu aku bisa sukses seperti saat ini," kata Raga.


Zivanna mengeratkan pelukannya, dia merasa sedikit malu bila harus membahas masa lalunya


"Jangan membicarakan masa lalu lagi, itu membuat aku menjadi malu saja," ucap Zivanna lirih, Raga tergelak, dia mengurai pelukannya.


Menangkup kedua sisi wajah Zivanna, lalu melabuhkan ciuman lembut di bibir tipis yang serasa candu baginya itu.


"Kenapa harus malu, aku mencintaimu apa adanya, Sayang," kata Raga, dia kembali mengecup bibir yang agak cemberut itu dengan gemas.


"Aku malu, mengingat betapa sombong dan konyolnya diriku dulu, mungkin di mata orang begitu menyebalkan." Zivanna tertawa kecil.


Raga mencubit pucuk hidung lancip istrinya, memeluk pinggang rampingnya begitu erat, hingga tak ada jarak sama sekali antara mereka. bahkan dada mereka saling menempel.


"Tapi itu yang membuat aku tergila-gila, kepada kamu Sayang," kata Raga.


"Benarkah?"


"Iya, kamu tahu. Setiap kali melihat kamu, tubuhku akan terus gemetar, sampai beberapa saat kemudian, bukankah ini tidak masuk akal?" Raga tertawa, dia memandang istrinya yang tampak merona, mendengar gombalan sang suami.


"Iya, aku masih ingat, saat kamu meletakkan surat di laci aku, waktu aku mengintrogasi kamu, ku lihat tubuhmu gemetar, dan bicara saja sangat gugup." Zivanna tertawa keras.


"Kamu benar, untung saja aku tidak kencing di celana, saking takutnya kepada gadis yang paling cantik di sekolah dulu," Raga membelai pipi Zivanna lembut.


"Jorok, Ih,"

__ADS_1


"Memang itu kenyataanya Sayang, untung saja, sekarang aku tidak lagi merasa gemetar saat berdua denganmu, hanya saja, aku masih selalu merasa berdebar-debar, bila dalam keadaan yang intim seperti sekarang ini," bisik Raga.


Zivanna tertawa, dia menyurukkan kepalanya pada dada bidang suaminya, melingkarkan kedua lengan mungilnya ke pinggang suaminya.


"Apa yang membuatmu begitu mencintai aku, bahkan aku sudah menyakiti hatimu begitu dalam, tapi kamu masih saja mencintai aku," kata Zivanna, dia merasa kedua matanya memanas, dan berembun.


Mendapatkan cinta yang begitu besar dari suaminya, sungguh, sekarang ini dia begitu tergila-gila dengan sosok Raga, bukan karena dia sudah kaya raya, tapi karena limpahan cinta yang dia berikan selama ini.


Mungkin kalau sekarang Raga tidak sekaya saat ini, dia tetap akan menerima cintanya. Apalagi yang dicari wanita di dunia ini, kalau bukan cinta yang tulus dari seorang pria, cinta yang tanpa pamrih dan juga mau menerima keadaannya apa adanya.


"Aku juga tidak tahu Sayang, rasa cinta ini tumbuh begitu saja, mungkin yang pertama karena kecantikan kamu, sebagai seorang pria normal aku nggak munafik, aku begitu tergila-gila dengan kecantikan mu," kata Raga.


Zivanna melepaskan diri dari dekapan suaminya, memandang pria itu dengan sedikit cemberut."berarti kalau aku sudah tidak cantik lagi, cinta mu juga bisa hilang, begitu ' kan?"


"Hey ... bukan seperti itu, aku mencintaimu apa adanya dirimu Sayang, semua yang ada pada dirimu membuatku mabuk kepayang, tiada hari yang bisa aku lalui tanpa membayangkan wajahmu,"


Zivanna tersipu malu," aku sudah tidak cantik lagi."


"Siapa bilang, di mataku tidak ada wanita yang bisa menandingi kecantikan istriku ini." gombalan demi gombalan keluar begitu saja dari bibir laki-laki yang biasa datar dan dingin.


"Gombal."


"Banyak wanita yang lebih cantik dari diriku, bahkan Sandra jauh lebih segalanya dari aku, kamu kalau gombal jangan keterlaluan," omel Zivanna.


Wanita itu kemudian duduk di sofa dengan wajah kesal, bukannya di tersanjung mendengar gombalan suaminya, dia malah kesal, karena kata-kata suaminya terkesan mengada-ada.


"Mungkin, tapi bagiku hanya Zivanna Arneta yang bisa meluluhkan hatiku, dan aku akan terus mencintai kamu, hingga kita menua bersama nanti, kamu mau 'kan?" Raga berjongkok di hadapan istrinya.


"Tentu saja, mulai kemarin, saat kamu mengucap ijab Kabul, pada saat itulah aku menyerahkan seluruh hidupku kepada dirimu, aku berjanji akan mengabdikan seluruh hidupku kepada dirimu," kata Zivanna, dia membelai kedua pipi suaminya begitu lembut.


"Makasih, Sayang. aku akan berusaha untuk menjadi suami yang terbaik, dan juga ayah yang penuh cinta, bila kita sudah di percaya untuk memiliki momongan nantinya," kata Raga.


"Jangan kecewakan aku."


"Tentu saja tidak, sepuluh tahun aku menunggu saat-saat seperti ini, mana mungkin aku tega menyakiti dirimu," kata Raga lagi.


Kedua pasangan suami istri itu saling memandang penuh cinta, dalam hati berdoa, semoga pernikahan mereka bisa langgeng, hingga kakek nenek nantinya.


🌸

__ADS_1


🌸


Raga mengikuti langkah sang istri yang sibuk memilih belanjaan, dan dia dengan senang hati mendorong troli sementara istrinya sibuk memasukkan belanjaan sesuka hatinya ke dalam troli.


Mulai dari sayuran, sea food, daging, ayam dan berbagai macam kebutuhan rumah tangga, seperti sabun, parfum, bedak, minyak goreng, dan entah apa lagi yang di ambil oleh Zivanna.


Raga memilih tak ambil pusing, dia biarkan istrinya mengambil apa yang dia inginkan.


"Mas .." Zivanna menoleh kepada suaminya yang sibuk dengan ponselnya.


"Iya, kenapa Sayang?" tanya Raga, seraya menoleh pada istrinya.


"Aku boleh ambil camilan ini nggak?" tanya Zivanna, sambil menunjuk sekantong camilan kentang.


Raga tersenyum kecil," ambil apa saja yang kamu mau, minuman kaleng juga boleh," kata Raga.


"Ok, makasih mas," sahut Zivanna dengan cerita, kemudian dengan sigap, wanita itu memasukkan beberapa kantong besar camilan yang berasal dari kentang itu.


Lalu beralih pada deretan minuman, dia mengambil beberapa minuman kaleng, dan juga beberapa botol sirup, mungkin di saat cuaca panas, akan terasa segar bila membuat es sirup.


"Mas, ambil mie instan boleh kan?" bola mata bulat Zivanna berkedip dengan lucu.


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya, karena itu tidak sehat," kata Raga, dia memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


Membantu istrinya memasukkan beberapa mie instan dengan berbagai macam rasa.


"Apalagi, Sayang," tanya Raga lagi.


"Sudah cukup, Mas. sementara ino saja dulu," ucap Zivanna, seraya tersenyum puas, setelah kebangkrutan keluarga nya, baru kali ini dia bisa berbelanja dengan begitu royal. Dengan manja Zivanna memeluk lengan kiri suaminya, bergelayut kayaknya seorang anak kepada ayahnya.


"Makasih ya mas, maaf. aku sedikit kalap belanjanya," bisik Raga, saat mereka sudah sampai di kasir.


"Tenang saja, tidak akan menghabiskan uang cash di dompetku,"


"Iya, percaya. kan suamiku memang holang kayah," Zivanna mencebik.


"Tapi, ini wajib di ganti malam ini," bisik Raga menggoda.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2