
🌸
🌸
"Rani!" Zivanna memekik senang, saat mendapati sahabat baiknya sedang bertugas, di depan ruangan suaminya.
"Hai ... Zie, eh ... mbak Zie ...." Rani agak bingung, bagaimana harus menyapa sahabat sekaligus istri sang Bos.
Zivanna menatap suaminya," aku ngobrol sebentar ya sama Rani?"
"Iya, aku masuk dulu, kalau sudah selesai ngobrol, segera masuk. ingat, jangan lama-lama, Rani sedang bekerja." Setelah mengucapkan kata itu, Raga segera masuk ke dalam ruangannya, membiarkan sang istri bertemu kangen dengan sahabat nya.
"Aku mesti manggil apa nih, bingung," kata Rani, setelah mereka cipika-cipiki, layaknya dua wanita yang lama tak bertemu.
"Ih, ya panggil seperti biasa, memang aku berubah jadi apa, sampai kamu bingung, mau manggil apa," ucap Zivanna agak merengut.
"Kamu kan istri pak Bos, aku takut di pecat bila nggak sopan sama kamu." Rani tergelak, dia tetap meneruskan pekerjaannya mengepel lantai.
"Maaf yaa, aku nggak bisa bantu." Zivanna tertawa kecil.
"Hemm, iya. kamu sudah jadi istri bos sekarang, nggak perlu capek-capek nyari duwit."
"Tapi aku bosan, setiap hari harus diam di rumah," kata Zivanna, dia men menyandar pada tembok yang berwarna putih susu itu.
"Mau tukeran?" Alis Rani naik turun, menggoda Zivanna.
"Boleh ...." Zivanna terkekeh, dia cukup terhibur dengan kehadiran Rani, setelah lelah menangis gara-gara, ucapan Mira dan juga Tina.
"Kamu apa kabar, Ran?" tanya Zivanna.
"Baik, Alhamdulillah. kamu sendiri, bagaimana?"
"Aku juga baik, lama nggak ketemu ya kita?"
"Apaan, bukannya kemarin aku ke apartemen kamu?" kata Rani.
Zivanna tertawa kecil," iyalah, aku kok bisa lupa ya?"
__ADS_1
"Maklum, lagi di mabuk cinta, jadi lupa segala-galanya, dunia milik berdua .. " Sindir Rani.
Terus yang lain, tinggal dimana dong?"
"Ngontrak ' kali."
Zivanna tertawa keras, hingga Danu yang baru saja keluar dari lift yang ada di lantai ini menatapnya heran, baru saja menangis, sekarang sudah tertawa.
Memang wanita susah di mengerti, sekejap menangis, sekejap kemudian tertawa, Danu hanya menggelengkan kepalanya, sambil melangkah masuk ke ruangan sang Bos.
"Ran, main ke apartemen dong, kalau lagi libur, aku kangen ngobrol bareng sama kamu."
"Hari minggu ya, aku main deh. Kayaknya nggak ada jadwal keluar." Rani menutup mulutnya dengan kelima jarinya.
"Dih, yang wanita karir, sibuk amat buk?"
"Ya anggap aja seperti itu, ya udah aku lanjut kerja dulu ya?"
"Ok, nanti makan siang bareng ya, aku kangen makanan di kantin."
"Ok, nanti aku telpon kalau udah istirahat." Rani mengacungkan jempolnya, dan segera berlalu, mengerjakan tugasnya yang lain.dan Zivanna masuk ke ruangan suaminya.
"Sebenarnya masih kangen sih sama Rani, tapi kan dia masih jam kerja," kata Zivanna, dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang yang bergelayut di pundak dan membelah dadanya.
"Suruh main ke apartemen saja si Rani, kalau libur." Raga beranjak dari tempat duduknya, diikuti pandangan mata sang asisten yang duduk di depannya.
"Iya, tadi juga aku ngomong gitu sama dia, Mas, nanti aku boleh kan makan siang sama Rani di kantin?" mata Zivanna berbinar penuh harap, menatap wajah suaminya yang baru saja Menghempaskan bokong di sebelahnya.
"Boleh, nanti kita makan siang sama-sama di kantin, kamu mau ikut Dan?" tanya Raga pada asistennya.
"Boleh, daripada sendirian, nggak ada teman."
"Ok, kita nanti makan siang bareng di bawah. Dan, ada yang kamu perlukan lagi nggak di sini?" tanya Raga, dia menatap sang asisten seolah ingin mengusir.
"Hah ... bukannya tadi Bos yang nyuruh aku ke sini?"
"Hemm, seperti nya sekarang aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi, bisa tinggalkan kami?"
__ADS_1
Danu beranjak bangun dengan kesal." Dasar, bos bucin." Danu menggerutu sambil berjalan keluar dari ruangan Raga.
"Mas, kamu iseng banget sih. kan kasihan pak Danu." Zivanna mencubit lengan suaminya yang tergelak itu.
"Biarin, Danu ini."
"Lagian mau apa sih, sampai mengusir pak Danu?" Zivanna memicingkan matanya, memandang suaminya curiga.
"Hemm, mau apa ya?" tanpa di duga, Raga meraup bibir tipis Zivanna yang berwarna pink itu, menyes*p lembut dan hangat. kedua tangannya memegang tengkuk Zivanna.
"Mas, ini di kantor, nanti ada yang masuk bagaimana?" Zivanna mendorong dada suaminya.
"Nggak akan ada yang berani masuk tanpa izin Sayang," kata Raga seraya tersenyum.
"Mesum."
"Nggak apa-apa, sama istri sendiri."
"Mas."
"Apa, Sayang."
"Nyebelin."
"Tapi cinta kan?"
Zivanna memukul lengan suaminya dengan kesal, dia merengut. dan Raga hanya tertawa, di acaknya rambut panjang istrinya yang tergerai indah. membuat Zivanna tambah kesal.
"Mas, jangan di berantakin rambutnya!"
"Gemas, Sayang ..."
Brakk ....
Suara pintu yang terhempas dengan keras, membuat Raga dan Zivanna dengan kompak menoleh ke arah pintu.
*bersambung..
__ADS_1
🌸
🌸*