
🌸
🌸
Rani sudah cukup lama menunggu di lobby, ketika Zivanna datang. kedua wanita sebaya itu cipika cipiki seperti biasa, sebagai tanda keakraban. dua wanita resepsionis yang tadi sempat menghina Zivanna terlihat takut dan canggung saat Zivanna melintas di depan mereka.
"Lama Ran?" tanya Zivanna basa-basi.
"Baru lima belas menit kok." Rani mencebik, keduanya keluar dari lobby, berniat makan siang di restoran yang ada di seberang gedung ini, Zivanna berniat mentraktir sahabatnya yang paling baik itu makan di restoran.
Masa setiap siang selalu makan di kantin kantor, siapa tahu Rani bosan.
"Kamu nggak makan siang dengan pak Raga, Zie?" tanya Rani heran, mereka sedang berdiri di pinggir jalan untuk menyeberang, tapi kendaraan masih cukup ramai.
Tak lama disaat mulai agak sepi, Rani menggandeng tangan kanan Zivanna, mengajaknya menyeberang, dan akhirnya sampai di restoran yang dituju.
Ada banyak menu yang di tawarkan, setelah memesan menu yang mereka inginkan, Zivanna dan Rani mencari tempat duduk yang nyaman.
"Mas Raga lagi ada meeting keluar Ran, makanya aku bisa sama kamu, kalaupun mas Raga nggak keluar, kita bisa makan siang bertiga kok."
"Dih, aku nggak mau ya jadi obat nyamuk," kata Rani, mereka duduk saling berhadapan, terpisah oleh sebuah meja kayu berwarna coklat tua.
"Siapa yang suruh kamu jadi obat nyamuk, memangnya kami sejahat itu ya?" Zivanna pura-pura marah, dia merengut.
"Hah, kok jadi ngambek, aku kan cuma bercanda Sayang ..." Rani tertawa kecil, dia gemas melihat ekspresi Zivanna.
"Eh, kata Mas Raga, nanti kamu temani aku nunggu dia kembali dari meeting ya?" kata Zivanna.
"Aku 'kan kerja, Say?"
"Nggak apa-apa, sudah dapat izin dari Bos, nanti aku bilang suamiku, biar minta kan izin sama Bu Cindy."
__ADS_1
"Ok deh, titah sang Bos, wajib untuk di laksanakan, bukan begitu?" Rani mengedipkan kedua matanya yang agak sipit, dan terlihat sangat lucu, seperti anak kucing yang menggemaskan.
Pelayan datang dan menyajikan pesanan mereka, dua porsi mi goreng seafood dan juga es teh manis, dengan bongkahan es batu yang tampak menggiurkan.
Begitu pelayan pergi, kedua sahabat itu langsung saja menikmati makan siang mereka, apalagi bagi Rani, jarang-jarang bisa makan di restoran seperti saat ini, maklum dia harus menghemat gajiannya di tanah perantauan ini.
Apalagi sebagian gaji juga dia kirimkan ke desa, untuk membantu kedua orang tuanya yang hanya buruh tani.
"Aku dengan tadi ada kehebohan di lobi ya?" tanya Rani, disela aktivitas makannya.
"Iya sedikit, kamu tahu juga?"
"Orang-orang pada ngobrolin tadi, emang Mira sama Tina kurang kerjaan, ngapain juga dia itu sok sibuk menilai hidup orang lain, di pikirnya dia sudah sempurna apa?" Rani bersungut-sungut, gadis yang masih lajang itu terlihat kesal.
Saat mendengar insiden yang terjadi kepada sahabat baiknya itu dia sempat cemas, karena dia tahu seperti apa sosok Zivanna, yang begitu lembut, sabar dan juga lebih memilih bersabar, dalam menghadapi ke- julid an orang-orang di sekelilingnya.
"Mereka cuma iseng, karena nggak tahu, biar saja." Zivanna berkata dengan santai.
"Nah, untungnya aku bukan kamu ya, tapi mereka sudah menyesal kok, jadi aku maafkan."
"Enak banget."
"Biar saja, toh keduanya berjanji tidak akan mengulangi lagi, aku nggak punya musuh Ran, bisa saja ketika mereka di pecat terus dendam sama aku, dan nyelakai aku, gimana dong?"
"Benar juga ya?"
"Makanya itu, biar saja. kita harus berlapang dada, menerima permintaan maaf dari orang lain," kata Zivanna dengan bijak.
"Iya ... iya, aku menurut saja deh, yang penting kenyang." Rani tergelak, keduanya bersamaan saat menyelesaikan makan siangnya, sekarang tinggal menghabiskan es teh manis yang begitu menyegarkan.
"Anak pintar."
__ADS_1
"Sayang nggak jadi dokter ya?" kata Rani konyol.
"Salah siapa hayo."
"Nggak tahu, tapi ... aku do'akan semoga aku cepat dapat keponakan ya, Aamiin ..." kata Rani begitu tulus, dia tidak pernah merasa iri dengan taqdir hidup sahabat nya yang begitu mulus tanpa sandungan.
"Aamiin, makasih calon aunty." Zivanna mengedipkan matanya sok lucu.
"Sama-sama, apalagi kalau kembar ya, pasti ramai," ucap Rani dengan wajah berbinar, dalam bayangan nya, pasti lucu kalau ada dua bayi yang begitu mirip.
" Nanti kamu buat sendiri ya?"
"Masih lama aku?"
"Jangan lama-lama, keburu kadaluarsa ... " Zivanna tergelak, dan Rani hanya merengut.
"Gimana lagi dong, belum ada yang nyangkut dan serius Zie ... "
"Kamu pilih-pilih mungkin?"
"Yang di pilih aja nggak ada." Rani terlihat kesal, karena sedari tadi Zivanna hanya meledeknya saja.
"Masa sih, kamu cantik ini." Zivanna tak percaya dengan kata-kata Rani.
"Kalau begitu, bisa nggak kamu carikan aku jodoh?"
*bersambung ...
🌸
🌸*
__ADS_1