
🌸
🌸
"Aku bukan pelakor," ucap Zivanna lirih, dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh gagah suaminya.
Raga tersentak, dia berusaha mengurai pelukannya, dan memandang wajah sembab sang istri, yang masih betah menangis sejal tadi.
"Siapa, katakan siapa yang mengatakan kamu pelakor," kata Raga dengan nada marah, wajah tampannya tampak memerah, rahangnya juga sudah mengeras, siap untuk meledak.
Zivanna menggelengkan kepalanya, dia takut kalau dia membuka mulut, dua gadis sombong tadi pasti akan di pecat oleh Raga.
"Katakan, Sayang. tidak ada yang boleh menghina istriku, karena itu artinya dia juga menghina aku."
"Sudah, lupakan saja, aku nggak apa-apa," lirih Zivanna, dia berusaha mengulas senyum, agar suaminya tidak lagi menekan untuk bicara jujur.
"Tidak bisa, cepat katakan, siapa yang sudah menghina kamu." Raga menangkup wajah cantik sang istri, yang masih terlihat cantik biarpun penuh oleh air mata.
"Kamu akan memarahi mereka, aku tidak mau semakin di benci oleh orang-orang, Mas ..." kata Zivanna lagi.
Raga membuang muka, dia menoleh kepada Danu yang seakan tidak peduli dengan pasangan romantis itu, padahal Raga yakin, pria yang sempat patah hati karena istrinya itu, sedang memasang telinga setajam mungkin.
"Dan, periksa CCTV, cari tahu siapa yang sudah berani mengusik istriku." Raga berteriak dengan nada marah, dia mengepalkan kedua tangannya.
"Mas, sudah ... tolong jangan memperkeruh keadaan, aku tidak mau di benci semua orang," pinta Zivanna, dia memegang lengan suaminya, dan menatap penuh permohonan.
"Aku hanya ingin memperingatkan saja Sayang, bahwa tidak ada yang boleh menghina istriku."
"Tapi, jangan pecat dia ya, aku mohon. Kasihan," kata Zivanna pelan.
Raga tersenyum, dia menarik tangan istrinya, mengajaknya untuk keluar." Sekarang katakan, siapa yang berani menghina kamu."
"Mira dan Tina." Zivanna nyaris berguman, dan masih bisa di dengar oleh suaminya. Raga memicingkan mata, dia merasa asing dengan dua nama yang di sebutkan oleh istrinya.
"Dan, siapa dua wanita yang di sebut istriku?" tanya Raga, sambil menoleh kepada asisten nya itu.
"Sepertinya, itu nama resepsionis di lantai bawah," kata Danu, pria itu berdiri, dan mengikuti langkah Raga dan Zivanna.
"Ok, kita selesaikan sekarang, aku ingin semua orang bisa menghargai kamu, karena kamu adalah istriku."
__ADS_1
Ketiganya lantas berjalan keluar dari ruangan, dan menuju lift, untuk mengantar mereka ke lantai bawah.
🌸
🌸
Ketiga manusia berbeda jenis itu melangkah tergesa ke tempat dua resepsionis yang telah membuat Raga marah itu. Raga menggandeng tangan istrinya, diiringi tatapan heran orang yang ada di lobi.
"Selamat pagi, Pak," sapa Mira dan juga Tina dengan wajah pucat karena takut, apalagi melihat aura penuh kemarahan dari wajah Raga.
"Kalian yang sudah menghina istriku.! tanpa basa-basi, Raga langsung saja menekan kata pada dua gadis itu.
"Maafkan kami, Pak. kami menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi lagi," kata Mira dengan terbata-bata, wajahnya memucat karena ketakutan. tak berani memandang Raga ataupun Zivanna.
"Aku peringatkan kepada kamu, dan untuk kalian semua.! teriak Raga kepada semua orang yang berlalu lalang di lobi, membuat mereka terpaksa menghentikan aktivitas sejenak.
"Zivanna adalah istriku, kami sudah menikah satu minggu yang lalu, dan aku harap kalian bisa menghargainya, kalau sampai aku dengar perkataan buruk tentang istriku, aku tidak akan segan-segan menghancurkan orang itu. kalian dengar."
"Iya pak, kami mengerti," jawab mereka nyaris kompak.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, dan untuk kalian berdua, minta maaf pada istriku!"
"Mas, sudahlah. tidak usah di perpanjang lagi, mereka sudah menyesal," kata Zivanna seraya tersenyum, dia memegang lengan suaminya dengan lembut.
"Tidak Sayang, mereka harus meminta maaf kepada kamu," kata Raga, dia kembali menatap tajam kepada dua gadis resepsionis itu.
"Maaf mbak Zie, saya janji tidak akan mengulangi lagi, maafkan saya," kata Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Iya mbak Mira, lupakan saja, tapi tolong berjanjilah, jangan lagi menghina orang, walau bagaimanapun keadaan orang itu, karena kita tidak akan pernah tau, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya," ucap Zivanna dengan lembut dan tulus.
Mira menangis karena terharu, dia sungguh-sungguh menyesal, mengapa tadi bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu buruk kepada istri atasannya itu.
"Maaf mbak, saya khilaf, saya janji tidak akan mengulangi lagi, tolong maafkan saya," kata Tina dengan wajah tak kalah memelasnya, dia menatap Zivanna penuh permohonan.
"Iya mbak Tina, saya sudah memaafkan mbak Tina juga mbak Mira, dan tolong jangan pernah lagi menghina orang ya, fokus saja dengan hidup mbak, tidak usah mengurusi orang lain," kata Zivanna tulus.
"Iya mbak, terimakasih sudah mau memaafkan saya," kata Tina lega.
"Kalian harus berjanji, tidak akan mengulangi lagi, karena saya tidak akan memaafkan bila terulang lagi." Raga menekankan, walaupun wajahnya sudah tidak semarah tadi, tetapi tetap membuat ciut nyali dua gadis di depannya.
__ADS_1
"Iya pak, saya janji tidak akan mengulangi lagi."
"Saya janji tidak akan mengulangi lagi, Pak."
Mira dan Tina nyaris bersamaan dalam berbicara, dalam hati mereka berdebar-debar, menanti keputusan dari sang Bos.
"Untuk kali ini kalian saya maafkan, berterima kasihlah kepada istriku, karena dia kalian selamat," ucap Raga lagi.
"Terima kasih mbak Zie."
"Terima kasih mbak Zie."
Raga mengajak Zivanna kembali ke lantai atas, setelah semuanya selesai, dan dua gadis itu menyesal.
"Makanya, punya mulut jangan di buat bicara yang tidak-tidak, tidak usah mengurusi hidup orang lain, untung saja istri Bos bukan orang jahat, bisa di pecat kalian tadi," kata Danu, setelah itu dia meninggalkan tempat itu, menyusul Raga dan Zivanna yang sudah masuk ke dalam lift.
"Aku beruntung banget, bisa menikah dengan kamu, Sayang. hati kamu benar-benar baik dan lembut," ucap Raga, saat mereka berdua ada di lift, dengan penuh cinta Raga mengecup tangan kiri sang istri yang ada dlm genggamannya.
"Aku yang beruntung bisa menjadi istrimu, Mas. aku dulu juga bukan orang yang baik, dan sekarang aku berusaha untuk bisa menjadi lebih baik lagi." Zivanna tersenyum manis.
"Berarti, kita sama-sama beruntung, bukan begitu." Raga tergelak, dia memeluk tubuh mungil istrinya, mengecup pucuk kepalanya lembut dan penuh cinta.
"Semoga kita punya banyak anak ya?" kata Raga tiba-tiba.
"Hah!"
"Aku ingin punya banyak anak dari kamu, Sayang. Mungkin empat atau lima." Raga tergelak lagi, membayangkan rumahnya yang ramai oleh gelak tawa anak-anak mereka.
"Memangnya aku nggak capek, Mas," kata Zivanna merajuk, mereka sudah sampai di lantai atas, dan begitu lift terbuka, keduanya bergegas keluar.
"Rani!" Zivanna memekik dengan riang, saat melihat teman baiknya sedang sibuk mengepel.
*bersambung..
jangan lupa klik like, love dan komen.
makasih 😘😘
🌸
__ADS_1
🌸*