
🌸
🌸
"Permisi, Pak." Rani bergegas pergi meninggalkan Danu yang masih betah mematung di depan pintu, matanya terus mengawasi gadis yang berwajah manis itu hingga di ujung mata.
Danu menutup pintu ruangannya dengan hati yang masih di balut rasa penasaran yang begitu membuncah, segera dia menuju ke ruangan sang Bos, yang berada tepat di sebelah ruangannya.
"Ada apa,Bos?" tanya Danu tanpa basa-basi, begitu dia masuk ke dalam ruangan Raga, terlihat laki- laki tampan yang menjadi atasannya sekaligus sahabatnya itu sedang fokus menatap layar laptop.
"Hei, sudah datang Dan, apa Rani menyampaikan pesan ku kepadamu?" Raga balik bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar laptop.
Tanpa di suruh, danu langsung saja duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang Boa.
"Ada apa sih, tumben-tumbenan nyuruh Rani, biasanya juga mampir sendiri?" Danu terus saja melontarkan pertanyaan yang belum di jawab oleh Raga.
"Apa jadwalku hari ini?" Raga mengalihkan pandangan dari layar laptop, menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Pagi sampai siang aman, hanya nanti sore ada meeting dengan investor dari Singapura, di restoran hotel XX ... " Danu menjelaskan.
"Hemm, kalau begitu aku mau tanya sama kamu," Raga menatap sang asisten serius, bahkan tidak ada senyum sedikitpun.
Kenapa ... kayaknya serius amat, perasaan ku kok tiba-tiba tidak enak," Danu mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.
"Halah, jangan lebay. ini pertanyaan seorang teman, bukan atasan." Raga menautkan kesepuluh jemarinya, dan kedua siku tangannya bertumpu di atas meja.
"Ada apa sih, jangan berbelit-belit, aku sibuk." ketus Danu.
"Cih, yang Bos siapa?"
"Ya situ lah," kata Danu kesal.
"Aku mau tanya, kamu sudah punya pacar belum, atau gebetan."
Uhuk ... Uhuk ...
Danu sontak tersedak salivanya ,begitu mendengar pertanyaan dari Raga, setelah sekian lama menjadi asisten nya, mengapa baru sekarang dia menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti itu.
__ADS_1
"Hei, aku cuma bertanya, mengapa kamu jadi terbatuk?"
"Habis nya kamu aneh Bos, kenapa tiba-tiba menanyakan hal pribadi seperti itu?"
"Hey, seharusnya kamu terharu dengan perhatianku, aku kan 'kan kasihan melihat kamu yang terus menjomblo di usia yang sudah setua ini." nada mengejek terdengar dari bibir Raga.
Danu berdecih sebal, bukannya mereka sebaya, dia saja baru nikah sudah sombong, dasar Bos nggak ada Akhlaq.
"Kita seusia Bos, jangan sombong." kesal Danu.
"Aku nggak sombong, cuma bertanya, sudah cepat jawab."
"Aku baru saja patah hati, 'kan Bos. bukannya Bos sudah tahu," kata Danu, seraya memutar-mutar kursinya.
"Jangan bilang kamu naksir istri aku!" wajah Raga tampak merengut, dia terlihat sebal.
"Memang iya." Danu tergelak.
"Kurang ajar." umpat Raga.
Danu tertawa terbahak-bahak, puas sekali dia mengerjai sang Bos yang menyebalkan itu, air matanya sampai hampir menetes, dia memegang perutnya yang mendadak kram karena kebanyakan tertawa.
Raga melempar pena yang ada di depannya, dan tepat mengenai wajah tampan Danu, membuat pria jomblo itu berjengkit.
"Aduh ... "
"Makanya jangan kurang ajar, mau aku hantam muka kamu yang pas-pasan itu." ancam Raga.
"Kejam sekali kamu Bos, kasihan sekali Zie punya suami yang kejam dan tidak berperasaan." Danu terus saja mengomel.
"Jangan menggerutu terus, kamu belum jawab pertanyaan aku."
"Aku masih jomblo, Bos. puas!" Danu berkata sedikit kesal.
"Kasihan." Raga berdecak, dia menatap Raga dengan iba, padahal dalam hati tertawa.
"Sombong."
__ADS_1
"Mau aku carikan jodoh?" tanya Raga sedikit berbisik, dia sampai mendekat kan wajahnya.
"Apa Bos mau alih profesi jadi biro jodoh?" ledek Danu, seperti kurang kerjaan saja menawarkan jodoh buat Danu, dia saja menunggu hampir 10 tahun untuk bisa menikah dengan wanita yang di cintainya.
"Jangan meledek."
"Aku 'kan cuma tanya Bos? kenapa harus marah?"
"Sekarang jawab, mau tidak aku carikan jodoh?"
"Seperti apa dulu dia?"
"Cih, mau sok-sokan jual mahal gitu?"
"Laki-laki 'kan menang memilih Bos, apalagi untuk aku yang tampan dan mapan, harus dapat yang selevel dong." sombong Danu.
"Kamu menyindir aku?" Mata Raga melotot, ingin sekali menyentil mulut lemes sang Asisten.
"Aku bicara tentang diriku sendiri, Bos. kenapa situ yang merasa?"
"Lama-lama ngeselin juga ya bicara sama kamu," kata Raga agak kesal, kalau saja Zivanna tidak merengek, tentu dia malas membahas masalah yang tidak penting seperti ini.
"Bos juga sama."
"Dan, bagaimana kalau kita bahu hantam saja dulu, kok sepertinya aku ingin menonjok muka seseorang ya?" Raga berdiri, menyingsingkan lengan kemeja putihnya, sedangkan jasnya tersampir pada bahu kursi seperti biasa.
"Sabar Bos ... sabar ..." Danu ikut berdiri, dia berjalan menjauhi Raga yang malah mendekat kepadanya.
"Ayo kita duel ...dari tadi kamu bikin kesal saja."
"Iya ... maaf Bos, memang aku mau di jodohkan dengan siapa?"
"Rani ..."
*bersambung ...
🌸
__ADS_1
🌸*