Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Kenapa harus Rani.


__ADS_3

🌸


🌸


"Memang siapa yang mau di jodohkan sama aku?" tanya Danu penasaran.


"Rani ... "


"Apa!" mata Danu sontak membelalak, dia cukup shock mendengar ucapan Raga, pantas saja tadi tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menyuruh Rani memanggil aku, huh, dasar.


Sejenak dia membayangkan sosok Rani, adalah gadis yang ceria setahu dia, manis, tubuhnya juga ramping, rambutnya ikal panjang, sepertinya sepinggang.


Kenapa aku jadi salah tingkah begini sih, membayangkan gadis itu. Danu mengusap wajahnya kasar, dia duduk lagi di kursi yang tadi dia duduki.


"Kenapa kaget gitu sih?" Raga ikut duduk juga, kali ini dia meneruskan pekerjaannya di laptop yang masih menyala sejak tadi.


"Nggak nyangka aja, ada apa kenapa tiba-tiba merekomendasikan Rani?"


"Siapa lagi kalau bukan atas keinginan istriku, bukankah dia sahabat baik Rani."


"Hemm, seperti itu." Danu berguman. sejenak dia memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Bagaimana Dan, bukankah Rani cukup cantik, dia juga bukan tipe gadis yang centil, reputasinya bagus." kata Raga penuh semangat, membuat Danu berkerenyit heran.


"Kenapa jadi Bos yang begitu semangat, sih?"


"Menyenangkan teman dan istri, ibadah juga 'kan?" Raga tergelak.


"Memang Rani mau sama aku?" lirih Danu, seperti nya dia mulai tertarik dengan misi dari Raga.


"Siapa yang menolak pesona Danu yang begitu tampan dan juga mapan, hanya gadis bodoh saja pastinya." Raga mencibir.


"Kamu atur saja Bos, aku menurut. yang penting enak."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Nggak ada, ya sudah aku keluar dulu, Bos."


Danu beranjak berdiri, dan bergegas keluar dari ruangan Raga, dan baru saja dia membuka pintu muncul wajah manis milik Rani, dia membawa nampan yang berisi secangkir kopi, yang sekarang dia antar, kalau dulu biasanya Zivanna yang membuatkan kopi untuk Raga.


Berhubung Zivanna sudah resign, tugasnya dia yang menggantikan. Rani terlihat gemetar, nampan yang dia pegang sampai bergoyang, untung saja tidak jatuh dan mengenai tubuhnya.


"Pak Danu ..." sapa Rani canggung, dia masih menunggu Danu yang tidak juga menyingkir dari tengah pintu.


"Hey, Ran ... buat Bos?" tanya Danu, mata elangnya tak lepas dari raut manis Rani yang memang alami tanpa make up.


"I ... Iya pak, maaf permisi, saya mau lewat." Rani tersenyum tipis, dia hanya berani menatap sekilas saja pada wajah tampan Danu.


"Oh, iya. Silahkan ... " Danu menyingkir memberi tempat buat Rani lewat, baru saja selangkah Rani masuk, Danu memanggilnya lagi.


"Ran ... "


"Iya pak, ada apa?" Tanya Rani seraya menoleh.


"Buatkan aku kopi juga ya, jangan terlalu manis, aku takut diabetes ..." Danu tersenyum simpul, tak melepaskan pandangan dari wajah gadis yang di rekomendasikan oleh sang Bos.


Rani bergegas masuk dan mengantar kopi sang Bos di sebelah laptop seperti biasa.


"Kenapa Danu tadi, Ran?" tanya Raga, menoleh sekilas kepada office girl yang menjadi sahabat baik istrinya itu.


"Minta di buatin kopi juga, Pak." kata Rani.


"Oh ya, tumben. biasanya jarang ngopi," kata Raga heran, tak sesaat dia tersenyum miring, dia mengerti. Mungkin Danu ingin lebih akrab lagi dengan Rani.


"Ng ...tidak tahu juga pak." Rani menggaruk tengkuknya yang polos karena rambut ikalnya seperti biasa, dia kuncir ke atas.


"Ya sudah, buatkan sana, keburu mengamuk nanti." Usir Raga.


"Baik, Pak."


"Makasih, Ran."

__ADS_1


"Sama-sama, Pak."


🌸


🌸


Sementara itu di ruangan Danu, pria itu terlihat melamun di kursi kerjanya, punggung kokohnya menyandar pada sandaran kursi. Tidak tahu kenapa, wajah Rani terngiang-ngiang terus dalam ingatannya.


Padahal sebelumnya sebelum ini dia tidak pernah ada perasaan apa-apa tehadap Rani,


Sebenarnya gadis itu tidak jelek, dia manis, berkulit sawo matang, matanya sedikit sipot, hidungnya kecil, dan bibirnya tipis, berwarna pink alami, tak pernah dia melihat Rani memakai make up yang menor.


Sh*itt ...


Kenapa aku jadi kepikiran Rani terus sih, apa memang sekarang sudah waktunya aku move on dari Zie, Rani juga gadis yang baik, mungkin aku bisa mulai mengenal dia.


Tok ... Tok ... Tok ...


Terdengar bunyi ketukan pada pintu, Danu sontak menoleh, dan berteriak.


"Masuk!"


Ceklek ...


Sosok Rani muncul, membawa nampan yang sama seperti tadi, dengan secangkir kopi yang masih mengepul.


"Maaf Pak, kopinya mau di letakkan di mana?" Rani berjalan mendekati Danu yang masih terdiam di kursi kerjanya, mata elangnya terus menatap Rani, hingga gadis itu merasa canggung. tentu saja dia tidak berani kalau harus bertatap mata terlalu lama dengan atasannya itu.


"Letakkan saja di hatiku Ran."


*bersambung ...


Jangan lupa klik like, love dan komen.


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2