Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Perjodohan Danu dan Rani


__ADS_3

🌸


🌸


"Apa!"


Raga sontak terkejut mendengar niat yang di bicarakan istrinya, dia tak habis pikir, kok bisa Zivanna mempunyai ide untuk menjodohkan kedua manusia sahabat mereka itu.


"Kenapa kaget gitu sih?"


"Kaget aja yang, kenapa tiba-tiba ingin menjodohkan mereka?" Raga kemudian duduk menyandar pada kepala ranjang, dan Zivanna beringsut, kemudian merebahkan kepalanya di paha suaminya.


"Rani baik dan cantik 'kan, jadi tak ada salahnya menjodohkan mereka." Zivanna berbaring terlentang, biar bisa leluasa memandang wajah tampan suaminya.


"Lebih cantik kamu Sayang." Raga malah menggombal. mengelus rambut Zivanna yang agak basah, karena baru saja melakukan pekerjaan yang cukup berat dan melelahkan.


"His, kita sedang membahas Rani Mas."


"Aku takut kamu marah, kalau aku bilang Rani cantik," kata Raga sambil tergelak.


"Nggak akan Mas, aku bukan tipe wanita yang suka cemburu nggak jelas," Zivanna setengah menyindir suaminya.


Raga tergelak, memencet pucuk hidung lancip Zivanna dengan gemas," Maaf."


"Tolong bantuin ya Mas."


"Apa?"


"Tanyakan sama Pak Danu, dia sudah punya pacar atau belum?" agak menekan kata-kata yang di ucapkan Zivanna.


"Imbalan nya apa?" Alis Raga naik turun, dia menundukkan kepalanya sehingga bisa memandang wajah cantik istrinya.

__ADS_1


"Begitu saja minta imbalan?" kata Zivanna tak percaya. dia sontak bangun dengan sedikit kesal, menyambar selimut yang menutupi tubuhnya juga tubuh suaminya.


"Hey, Sayang ..." Raga memekik, karena tubuh polosnya jadi terekspos, karena selimutnya di pakai oleh istrinya.


"Rasakan, makanya jangan nyebelin." Zivanna tertawa, dia sudah turun dari ranjang, berniat membersihakan diri sebelum tidur, karena hari ini juga sudah cukup malam.


"Mandi bersama ya?" Raga melompat turun, dan bergegas menyusul Zivanna yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.


"Nggak mau Mas." terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.


Sudah bisa dipastikan, mereka tidak hanya mandi bersama saja, pasti akan ada ritual yang membuat tubuh mereka berkeringat lagi, karena seperti itu yang sering terjadi.


Entah mengapa, Raga selalu saja ingin lagi dan lagi, tak puas hanya satu kali saja. minimal dua ronde, baru dia bisa tidur dengan nyenyak. baginya,tubuh Zivanna serasa candu, yang membuatnya terus merasa ketagihan ingin terus menikmatinya.


🌸


🌸


Pagi yang cerah, Raga baru saja sampai di kantor DIRGANTARA GRUP,' setelah memarkir mobil di basement, dia bergegas masuk ke dalam lobi, dan berjalan menuju lift khusus untuk CEO.


Sebenarnya dia baik, cuma memang seperti itu sifatnya selama ini, mau berubah menjadi selenge'an seperti Danu, itu tidak mungkin.


Danu bergegas masuk ke dalam lift, begitu kotak besi kecil berukuran dua meter itu terbuka, dia menekan tombol angka lima, untuk sampai di lantai tempat ruangannya berada.


Tak butuh waktu lama, Raga sampai juga di lantai paling atas, yaitu lantai lima, baru saja dia keluar dari dalam lift, netranya menangkap sosok Rani yang sudah mulai menjalankan aktivitasnya sebagai office girl.


Rani mengangguk hormat" pagi Pak Raga."


"Pagi ,Ran. kerja yang rajin ya?" kata Raga, setelah itu melangkah menuju ke ruangannya.


"Ran ..." teriak Raga lagi, dia memutar tubuh menghadap Rani yang sedang mengepel lantai.

__ADS_1


"Iya Pak."


"Danu sudah terlihat datang belum?" tanya Raga.


Uhuk ... uhuk ...


Rani tersedak salivanya sendiri begitu mendengar nama Danu di sebutkan, membuat dahi Raga berkerut.


"Sepertinya sudah Pak, ada di ruangannya." kata Rani canggung.


"Oh ya, bisa minta tolong Ran."


"Iya Pak."


"Tolong panggilkan Danu, suruh ke ruangan saya ya?" titah Raga tanpa bisa di tolak, lalu melesat masuk ke ruangannya yang berada tepat di sebelah ruangan Danu


Rani melongo, dia tak habis pikir, apa maunya si Bos, kenapa juga tidak mau memanggilnya sendiri, bukannya ruangan mereka bersebelahan.


Gadis yang menjadi sahabat dekat Zivanna itu menarik nafas, lalu segera melangkah menuju ke ruangannya Danu, mematung sejenak di depan pintu, untuk menetralisir degup jantungnya yang menggila.


Baru saja dia ingin mengayunkan tangan kanan untuk mengetuk pintu, mendadak terbuka dari dalam, dan sosok tampan Danu muncul. sejenak keduanya saling berpandangan, dan Rani yang merasa kalah duluan, dia segera menundukkan kepalanya.


"Ada apa, Ran?" tanya Danu ramah, dia masih berdiri di depan pintu.


"Pak Danu di ... di suruh ke ruangan Pak Raga sekarang." Rani terbata-bata.


"Ya ... " dalam hati Danu merasa heran, biasanya juga Raga memanggilnya sendiri, sekarang kenapa menyuruh ajudan nya.


"Permisi, Pak." Rani bergegas pergi, sebelum dia jatuh pingsan di depan Danu.


*bersambung ...

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2