Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Kedatangan Rani.


__ADS_3

🌸


🌸


Hari minggu yang cukup cerah.


Sudah sejak pukul lima pagi Zivanna bangun. Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, dia langsung berkutat di dapur.


Ingin memasak untuk sarapan mereka, apalagi nanti juga ada Rani yang akan datang.


Raga belum terlihat keluar dari ruang kerjanya, semalam dia memang tidur di ruang kerjanya,


Setelah satu jam bertempur di dapur milik Raga, akhirnya beberapa melu siap di santap.


Ayam goreng, udang goreng tepung, tumis kangkung di tambah sambal.


Begitu dia selesai menata di meja makan, Zivanna masuk ke kamar lagi, untuk membersihkan diri. Karena tadi memang dia belum sempat mandi.


Ritual mandi selesai sudah, dia keluar lagi dari kamar, memakai celana pendek dan kaos putih polos.


Zivanna mendekati ruang kerja Raga, dan mengetuk pintunya pelan.


"Raga....ayo sarapan dulu.."


"Ya..." terdengar sahutan dari dalam, mungkin dia sudah terbangun sejak tadi, Zivanna juga tidak tahu.


"Kenapa sayang?" tanya Raga, setelah membuka pintu.


"Aku kira kamu belum bangun, sarapan dulu yuk, aku sudah masak" kata Zivanna sambil tersenyum.


"Iya sayang, ah.....aku merasa seperti seorang suami yang di masakin oleh istrinya" goda Raga, dia mengikuti langkah Zivanna ke ruang makan.


Zivanna tersenyum malu, dan pada saat itu bel berbunyi, mungkin Rani yang datang.


"Aku buka dulu ya?" pamit Zivanna, meninggalkan Raga yang tampak mengagumi hasil masakan calon istrinya itu.


"Pagi pak Raga"

__ADS_1


Raga mendongak, dan tersenyum melihat sahabat kekasihnya itu sudah datang.


"Hai, pagi Ran. Ayo silahkan duduk, kita sarapan dulu ya"


" Makasih pak" Rani duduk di samping Zivanna, dan ketiganya mulai sarapan dan sesekali berbincang ringan.


"Ayo Ran, jangan malu-malu, aku sengaja masak banyak buat kamu.." kata Zivanna.


"Eh, iya Zie... kamu pinter masak ya, masakan kamu enak, nggak kalah sama menu restoran" puji Rani tulus, dia mengambil lauk ayam goreng, dan juga sambal.


"Aku setuju Ran, calon istriku memang pintar masak" Raga mengacungkan jempolnya.


"Ih...kalian jangan meledek ah, " wajah Zivanna bersemu merah, mendengar pujian dari sahabatnya dan juga kekasihnya.


"Bener Zie...enak kok masakan kamu.." kata Rani lagi.


"Sudahlah Raga, cepat makan, jangan bicara lagi" Zivanna langsung saja bicara, begitu melihat mulut Raga sudah komat kamit seperti mau bicara.


"Hah...iya sayang.." Bahu Raga melemas, dan dia segera menyelesaikan sarapannya, setelah itu berpamitan kepada kedua sahabat itu, untuk masuk ke ruang kerja.


Zivanna mengajak Rani untuk ke ruang santai, sambil mengobrol.


Zivanna sudah menyediakan beberapa toples camilan dan minuman kaleng dingin.


"Begitu ya?" Zivanna tergelak.


"Iya....ayo cerita, gimana kamu bisa kenal dan di bucinin sama pak bos" bisik Rani.


"Ceritanya panjang banget Ran, aku cerita intinya saja ya.."


"Serah deh..."


"Jadi, aku sama Raga dulu teman sekelas waktu SMA, dan dia sudah bucin parah sama aku, sejak dulu, cuma karena dulu aku masih labil, songong dan juga arogan, aku menolak Raga,bahkan aku juga menghina dia, karena dia dulu masih miskin.." Rani mendengar penuh perhatian.


"Lalu.."


"Keluargaku dulu cukup kaya raya Ran, karena itu aku tumbuh jadi gadis yang Arogan, tapi begitu aku lulus sekolah, satu persatu masalah datang menghantam keluargaku, mulai dari papaku yang di tuduh korupsi, hingga akhirnya di penjara, dan tak lama meninggal karena serangan jantung..." mata Zivanna berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tak cukup disitu penderitaan yang aku pikul, mamaku ikut sakit hingga akhirnya meningal juga, sedang harta peninggalan papa sudah di sita bank, dan aku terpuruk sendirian Ran.."


Rani memeluk tubuh sahabatnya dengan penuh rasa haru, ternyata di balik ketegaran Zivanna, menyimpan beban yang begitu berat.


"Ternyata sampai saat ini Raga masih mencinta i aku, padahal dia sudah bertunangan dengan Sandra..."


"Cinta memang rumit Zie, kita nggak pernah tau, pada siapa hati kita mau berlabuh" kata Rani bijak. Dia tidak menyalahkan Zivanna, karena memang cinta tidak bisa dipaksakan.


"Aku kasihan sebenarnya dengan Sandra, tapi mau gimana lagi, Raga menolak kembali kepada Sandra, katakan Ran, aku harus bagaimana?" Zivanna menatap sahabatnya.


Rani menghela nafas, dia juga bingung sebenarnya," ya kamu ikuti kata hati kamu aja Zie, kamu suka nggak sama pak Raga?"


"Aku cinta sama dia Ran, tapi aku juga takut bila dituduh hanya ingin harta Raga saja..."


"Nggak usah musingin kata-kata orang Zie, kita tak akan pernah lepas dari penilaian orang, kita baik atau buruk tetap saja di komentari" kata Rani lagi. Dia membuka minuman kaleng yang sudah disediakan oleh Zivanna, meneguknya setelah berhasil membuka tutupnya.


"Iya sih....Raga berniat ngenalin aku sama orang Tuanya, setelah itu akan menikahi aku" kata Zivanna lirih.


"Wah .bagus dong, lebih baik kalo kalian cepat-cepat bersatu Zie....biar terhindar dari Fitnah,"


"Iya Ran, tapi aku takut..." Zivanna menggigit bibirnya sedikit cemas.


"Takut kenapa sih Zie..."


"Bagaimana kalo orang tua Raga nggak setuju putranya menikahi gadis miskin yatim-piatu seperti aku ini"


"His.....yang penting pak Raga cinta mati sama kamu, yang lain .. urusan belakangan.." Rani mencoba menghibur Zivanna.


"Seperti itu ya, tapi aku nggak mau kalo menikah tanpa restu Ran"


"Ya itu bisa di bahas dengan pak Raga kan?"


"Iya..."


"Ok, semangat ya Zie...aku ikut senang bila kamu bahagia Zie..." Rani memeluk sahabatnya penuh rasa haru.


*bersambung..

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2