
🌸
🌸
Masa cuti Raga selama satu minggu sudah habis, sekarang waktunya untuk kembali bekerja. Saat libur yang dia lakukan hanyalah bermesraan dengan istrinya.
Menikmati kemesraan yang sudah lama dia impikan. menjadi suami dari Zivanna Arneta, wanita cantik yang menjadi pujaan hatinya sejak di bangku sekolah menengah atas.
Hari senin yang cukup cerah, Zivanna Masih sibuk membersihkan dapur saat ponselnya yang ada di atas meja makan berbunyi.
Dahi Zivanna berkerut, dia merasa heran, siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini, bahkan suaminya baru saja berangkat, mungkin masih di tengah perjalanan.
Setelah mengelap tangannya dengan lap kering dan bersih, Zivanna bergegas menghampiri ponsel yang terus meraung sedari tadi. Dia semakin heran saat melihat nama suaminya yang muncul di layar.
"Hallo mas, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,Sayang. hemm, apa aku bisa minta tolong sama kamu?" tanya Raga dengan agak ragu
"Minta tolong apa,Mas?" Zivanna balik bertanya, dia menyandarkan bokongnya pada meja makan.
"Aku sudah sampai di kantor, dan lupa membawa berkas untuk meeting pagi ini, bisakah kamu mengantarnya ke kantor?"
"Sekarang?"
"Iya, tapi, kalau kamu nggak bisa, biar nanti sopir kantor saja yang ambil."
"Nggak pa-pa, Mas. biar aku antar, tapi aku mandi dulu ya sebentar," kata Zivanna akhirnya, nggak pa-pa juga antar ke kantor, sekalian jalan-jalan.
"Baiklah, Sayang. berkasnya ada ruang kerja, kalau nggak salah ada di atas meja."
"Iya, aku mandi dulu,Mas."
"Hati-hati ya, Sayang."
"Iya, Mas."
🌸
🌸
__ADS_1
Zivanna turun ke bawah setengah jam kemudian, tak bisa lama-lama membersihkan diri, hanya butuh sepuluh menit untuk mandi, dia takut kalau berkas nya di butuhkan dengan cepat.
Memakai celana jeans warna biru laut, dan juga atasan Sabrina dengan warna senada dengan celana yang dia pakai. Rambut panjangnya sengaja dia urai.
Taksi online yang dia pesan sudah menunggu ketika dia sudah sampai di depan, tak banyak bicara, Zivanna segera masuk ke dalam taksi.
"Sesuai, aplikasi ya mbak?" tanya sopir taksi, sambil menoleh sekejap kepada penumpangnya.
"Iya pak," kata Zivanna seraya tersenyum, tak lama kemudian taksi meluncur ke jalan raya,menuju ke kantor suaminya.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Zivanna tiba di depan kantor, dengan jantung berdebar dia segera turun, Zivanna melangkah sedikit ragu masuk ke lobi.
Beberapa pasang mata yang ada di lobi tampak menatapnya sinis, Zivanna merasa tak nyaman, dia menghampiri dua orang resepsionis yang sejak dia masuk ke lobi sudah meliriknya sinis.
"Maaf mbak, apa Pak Raga, sudah datang?" tanya Zivanna, dia memandang dua resepsionis yang cantik dan seksi itu.
"Ada keperluan apa mencari Pak Raga, beliau sedang sibuk. kalau mau, tunggu saja di sana," resepsionis itu mengedikkan dagunya, ke arah sofa yang ada di lobi ini, Zivanna tahu kalau dia bernama Tina.
"Bisakah minta tolong, menghubunginya, ini penting soalnya," kata Zivanna lagi, dia memang lupa membawa ponsel tadi, saking buru-buru nya.
"Aku sedang sibuk, kalo mau tunggu saja, kalo tidak mau, silahkan pulang," kata Resepsionis itu ketus, bahkan dia seperti tidak begitu peduli dengan kedatangan Zivanna.
Zivanna yang sudah akan meninggalkan dua orang itu segera menoleh, dan memandang kedua gadis yang tersenyum sinis itu.
"Apa maksudmu, mbak. siapa yang kamu katakan pelakor?" tanya Zivanna dengan sedikit gemetar, bahkan kedua matanya sudah terasa memanas, mungkin sebentar lagi tangisnya akan pecah.
"Siapa lagi yang namanya pelakor, kalau bukan wanita yang suka merebut calon suami orang, kasihan sekali ya Ibu Sandra, di tikung sama wanita yang kelasnya jauh di bawahnya." Mira terkekeh geli.
"Iya, cantik juga enggak, mungkin Pak Raga kena pelet dia." Tambah Tina, dan kedua gadis itu tertawa mengejek.
"Aku bukan pelakor," kata Zivanna sedikit menekan, air matanya turun tanpa permisi.
"Hey, sudahlah. jangan sok suci, semua orang sudah tahu, kamu adalah perebut tunangan Bu Sandra, tidak usah mengelak lagi," kata Mira.
"Kamu akan menyesal mbak, sudah menghinaku seperti ini," kata Zivanna lagi, dan pada saat itu dia melihat Danu melintas dari pintu masuk.
"Pak Danu!" teriak Zivanna, dan pria tampan asisten suaminya itu tersenyum, menghampiri Zivanna.
"Hallo cantik, mencari Raga?" tanya Danu dengan lembut, dan dua gadis yang tadi berkata sinis hanya bisa menundukkan kepala, tak urung dia merasa takut kalau Zivanna mengadukan dirinya kepada asisten Bos itu.
__ADS_1
"Iya, ada berkas yang ketinggalan tadi, katanya buat meeting," kata Zivanna, dia melirik dua gadis yang sudah menutup mulutnya rapat-rapat itu.
"Suamimu memang ceroboh."Danu tergelak, dan dua gadis itu sama-sama melotot, mendengar kata suami, keduanya saling berpandangan dengan wajah takut.
"Iya pak, tadi bangun kesiangan, makanya buru-buru berangkatnya." Zivanna terkikik geli, membayangkan suaminya yang begitu panik saat bangun kesiangan tadi, untung saja Bos, jadi kesiangan bukan menjadi masalah kan?
"Ayo, ikut naik." Danu melangkah lebih dulu, menuju lift, dan Zivanna mengikuti dari belakang, dengan mendekap map yang di butuhkan oleh suaminya.
"Mir, gimana ini. Zivanna sudah menikah dengan pak Raga ternyata, kita bisa di pecat," bisik Tina, dia terlihat pucat dan ketakutan.
"Iya Tin, aku juga takut di pecat Pak Raga, semoga saja Zivanna tidak mengadu kepada Bos," ucap Mira.
🌸
🌸
Begitu sampai di ruangan Raga, Danu mengajak Zivanna langsung masuk, melihat Raga yang begitu fokus dengan laptop di depannya, membuat tangis Zivanna yang tadi sudah tertahan pecah begitu saja.
Zivanna segera berlari mendekati suaminya, dan memeluk laki-laki itu.sontak Raga kaget, dia segera menoleh ke belakang, karena Zivanna memang memeluknya dari belakang.
"Hey ...Sayang, kenapa? datang-datang kok nangis?" tanya Raga, dia beranjak bangun, menangkup wajah istrinya dengan lembut.
Sementara Danu hanya melongo, dia duduk di sofa dan menatap dua manusia yang sedang menunjukkan kemesraan nya.dalam hati pria itu mengumpat, karena si Boa yang begitu kejam kepada pria jomblo seperti dirinya.
"Dan, kamu apakan istriku?" tanya Raga, dia menatap asistennya tajam.
"Lho, kok malah nyalahin aku, nyubit aja enggak," kata Danu, dia malah mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, mending main game saja, dari pada harus melihat pemandangan dua manusia lebay itu. begitu batin Danu kira-kira.
Raga kembali memandang wajah istrinya, mengusap air mata yang turun tanpa permisi tadi," ada apa, Sayang?" tanya Raga lembut.
Zivanna menggelengkan kepalanya, dia memeluk tubuh suaminya erat. menyurukkan kepalanya di dada bidang Raga, yang begitu hangat dan membuatnya nyaman.
"Aku bukan pelakor."
*bersambung...
🌸
🌸*
__ADS_1