Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Ending


__ADS_3

🌸


🌸


Hari demi hari berlalu tanpa terasa, dua bulan sudah berlalu dari waktu Danu dan Rani jadian, dan pria yang menjadi asisten Raga itu menepati janjinya untuk melamar Rani kepada orang tuanya.


Sekarang keduanya sudah sah menjadi suami istri, dan Danu membeli apartemen yang terletak di satu lantai dengan apartemen milik Raga. Bisa di pastikan kedua wanita yang memang bersahabat baik itu setiap hari pasti bertemu dan mengobrol.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Rani sudah bertandang di apartemen Zivanna, mereka akan saling bergantian untuk saling berkunjung.


"Zie, apa kamu sakit? kelihatannya pucat banget?" tanya Rani, saat melihat wajah sahabatnya sedikit pucat, mereka sekarang duduk di sofa ruang tamu.


"Iya Ran, kayaknya masuk angin deh, perut nggak enak banget," kata Zivanna, wanita yang memakai dress rumahan warna maroon itu merebahkan kepala di sandaran sofa.


"Mau periksa ke dokter, ayo aku antar." Rani menatap sang sahabat panik, dia dan Zivanna sudah seperti saudara sendiri.


"Nggak udah Ran, mungkin masuk angin biasa, ini kepalaku juga nyut-nyutan." Zivanna memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Jangan-jangan kamu hamil Zie," tebak Rani, biarpun dia belum hamil, tapi dia bisa menebak ciri-ciri yang di rasakan sahabatnya itu menjurus kepada hal tersebut, mungkin Zivanna sedang hamil.


"Hah, hamil?" Zivanna tertegun, lalu mengingat kapan terakhir dia mendapatkan haid, sepertinya sejak menikah, dia hanya mendapatkan jadwal menstruasi satu kali.


"Kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya Rani dengan serius, menatap wajah sahabatnya tak berkedip.


"Sudah lama sih, sejak menikah aku hanya datang bulan satu kali Ran, masa iya aku hamil?" guman Zivanna, dengan hati berdebar, kalau saja benar hamil, Raga pasti sangat bahagia, karena memang sudah ingin mempunyai seorang anak.


"Bisa jadi kamu hamil Zie, mau aku belikan tespek?"


"Apa nggak merepotkan kamu?"


"Hiss, seperti dengan siapa saja, aku belikan di bawah ya?"


"Memang ada di bawah?" tanya Zivanna seperti orang linglung.


"Kalau nggak ada ya beli di apotik Zie, kan dekat sini ada," kata Rani lagi, memang dia juga berniat membeli juga, karena sudah dua minggu ini dia tidak datang bulan. Pasti sangat lucu kalau mereka bisa hamil bersamaan, pasti menyenangkan bisa saling bertukar pendapat.


"Nggak apa-apa, nanti aku di omeli Danu lagi," Zivanna terkekeh.


"Aku juga mau beli Zie, sudah dua minggu aku telat," bisik Rani, dan Zivanna sontak melotot tak percaya.


"Wow ... pasti seru ya Ran, kalau kita bisa hamil bareng."

__ADS_1


"Iya, ya udah aku turun dulu ya, nanti kita tes sama-sama."


"Uangnya Ran," kata Zivanna seraya berdiri, berniat mengambil dompet di dalam kamarnya.


"Pakai uang aku saja, berapa sih, paling nggak habis seratus ribu." Rani sudah melesat keluar dari apartemen.


Setengah jam kemudian Rani baru kembali, dengan membawa sebuah kantung kresek, lalu menumpahkan di atas meja.


"Banyak banget Ran?" tanya Zivanna heran, melihat tespek begitu banyak dengan berbagai merek.


"Biar kita Puas tes nya, kan kalau beda-beda merek bisa di pastikan keakuratannya. Ayo kita periksa Zie." Rani meraup beberapa tespek buat dia sendiri, dan sisanya di ambil oleh Zivanna.


Kedua wanita itu masuk ke dalam kamar mandi yang berbeda. Zivanna ke kamar mandi yang ada di kamarnya, sedangkan Rani ke kamar mandi yang ada diruang kerja Raga.


Beberapa menit kemudian terdengar teriakan yang bernada bahagia. Keduanya muncul di waktu yang bersamaan, dengan wajah yang berseri-seri.


"Bagaimana Zie ... ?"


"Bagaimana Ran ...?"


Tanya mereka bersamaan, dan tergelak karena merasa konyol, saling mengulirkan tespek masing-masing dan melihat dua garis merah yang begitu jelas di tespek keduanya.


"Kita hamil Zie," kata Rani dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk tubuh sahabatnya erat." aku bahagia Zie, mas Danu pasti senang mendengar nya." Rani terisak.


Rani tersenyum kecil," ide yang bagus, ok. nanti aku akan bilang sama Mas Danu."


🌸


🌸


Malam harinya, di apartemen Danu dan Rani, pria itu baru saja menyelesaikan mandinya, setelah pulang bekerja, di ruang makan Rani tampak sibuk menata makanan, ada bermacam-macam menua yang dia buat malam ini, dan semuanya menu favorit Danu.


"Banyak sekali kamu masaknya Sayang, apa ada perayaan khusus?" tanya Danu sambil mengecup pipi Rani, lalu duduk di kursi yang sudah dia tarik sebelumnya.


"Ada tamu khusus malam ini Mas, kami mau merayakan sesuatu bareng-bareng," kata Rani.


"Oh ya, siapa?"


Belum sempat Rani menjawab, terdengar suara bel pintu berbunyi. Rani bergegas membukanya. terdengar suara berisik di depan, membuat dahi Danu mengerti, dan keheranannya terjawab dengan kemunculan Rani beserta Raga dan Zivanna.


"Halah, rupanya ini tamu yang kata kamu istimewa." Danu mencibir, dan tetap duduk manis di kursinya.

__ADS_1


"Mas," Rani memicingkan mata melirik pada Danu.


Raga dan Zivanna hanya tertawa, keduanya segera duduk untuk memulai makan malam mereka.


"Masakan kamu enak banget Ran," puji Zivanna, dia mengambil menu oseng kangkung dan ayam goreng, sedang Raga memilih menu kesukaannya yaitu udang pedas manis.


"Iya dong, aku aja sebulan nikah sama dia berat badan nambah Tiga kilo," kata Danu seraya tersenyum bangga, melempar senyum paling manis kepada wanita yang tak pernah dia sangka akan menjadi pendamping hidupnya itu.


"Halah, istriku juga jago masak, jangan sombong dulu kamu." Raga mencibir, ketiga orang itu tertawa keras.


Begitu acara makan malam selesai, keempat orang itu berpindah tempat ke ruang bersantai.


Rani dan Zivanna saling berpandangan dan melempar senyum. membuat Raga dan Danu menatap curiga.


"Ada apa, kok senyam-senyum?" tanya Raga.


Zivanna duduk di sebelah suaminya, lalu meraih telapak tangannya, meletakkan sebuah kotak kecil panjang di atas telapak tangan pria tampan itu.


Begitu juga Rani, dia juga meletakkan kotak kecil yang sama dengan milik Zivanna, membuat dua pria itu saking berpandangan.


"Apa ini?" tanya Raga, membolak-balik kotak kecil di tangannya." nggak ada yang lagi ulang tahun lho yang."


"Buka saja, sama-sama ya bukanya," kata Zivanna.


Raga segera membuka kotak itu dengan hati berdebar-debar, begitupula Danu, dia juga mulai membukanya. Raga merasa tenggorokannya tercekat, setelah benda yang ada di kotak itu terlihat, beberapa benda pipih yang dia tahu adalah alat tes kehamilan dan dua garis merah terpampang nyata di matanya.


Kedua matanya berkaca-kaca, menoleh kepada istrinya yang duduk di sampingnya."Sayang."


Zivanna mengangguk dan tersenyum manis, tanpa banyak bicara Raga langsung memeluk tubuh mungil istrinya, tangisnya tiba-tiba saja pecah.


Danu juga melakukan hal yang sama, dia memeluk erat tubuh Rani, hatinya tak kalah terharunya, berita yang dia terima begitu luar biasa."makasih, Sayang." Danu berbisik, mengecup pucuk kepala istrinya.


"Aku mencintai Sayang, makasih sudah mau mengandung anakku, aku janji akan terus bekerja keras untuk membahagiakan kalian nantinya," janji Raga.


Kedua pasangan itu masih larut dalam keharuan dan kebahagiaan mereka, semoga kehamilan Zivanna dan Rani bisa sehat sampai saat melahirkan nanti.persahabatan keduanya juga semakin erat.


*The-end.


Makasih ya sudah mau membaca karyaku yang masih jauh dari kata sempurna ini, maaf jika tidak sesuai dengan keinginan readers. semoga masih mau mengikuti novel aku berikutnya.


😘😘😘

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2