
🌸
🌸
"Letak kan saja di hatiku, Ran." jawab Danu asal, sontak membuat Rani nyaris spot jantung, wajahnya merona tanpa dia sadari, dengan agak gemetar dia mendekati tempat Danu duduk, dan meletakkan cangkir berisi kopi itu di meja kerjanya.
"Ini kopinya, Pak ..."
"Makasih, Ran," kata Danu seraya menatap wajah manis yang tampak salah tingkah itu, mengamatinya dengan penuh perasaan.
Wajahnya yang mungil, dengan mata yang agak sipit, hidung kecil dan bibirnya tipis, pasti manis rasanya bila di kecup. Danu menepuk keningnya yang bisa-bisanya berpikir mesum.
"Saya permisi, Pak." Rani bermaksud ingin pergi dari ruangan Dan.
"Tunggu, Ran." Danu berdiri, dan menyandarkan bokongnya pada tepian meja, mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung, yang tiba-tiba muncul.
"Ada apa, Pak?" tanya Rani, gadis itu juga merasakan kecanggungan yang sama, dia mendekap nampan kosong di dadanya untuk mengurangi rasa malu dan canggung.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Danu tiba-tiba, membuat mata sipit Rani sedikit membelalak.
"Ng ... saya belum punya Pak, nggak ada yang mau sama saya." Rani tersenyum malu, dan sejenak Danu terpana okeh senyum Rani yang begitu manis.
"Nanti malam mau nggak makan malam sama aku?"
"Ya ..."
"Makan malam Ran, nggak usah melotot gitu ah." Danu tertawa renyah.
"Maaf Pak, saya kaget." Rani ikut tertawa, dan tidak tau kapan awalnya, tiba-tiba saja Danu sudah mendekat, dan mengecup bibir yang masih melengkungkan senyum itu, sekilas.
Rani membeku, tentu saja ini adalah pengalaman pertama dia begitu intim dengan laki-laki, dan Pria di depannya ini sudah mencuri ciuman pertamanya.
Danu masih menempel kan bibirnya pada bibir Rani, merasa kalau tidak ada penolakan dari Rani,Danu semakin memperdalam ciumannya, di pegangnya tengkuk Rani, dan dia menyesap bibir tipis yang begitu manis rasanya.
Memang bagi Danu ini bukan ciuman pertamanya, dia pernah dekat dengan beberapa wanita di masa lalu. Danu menggigit kecil bibir bawah Rani, dan sontak gadis itu memekik kecil, alhasil bibirnya terbuka, membuat Danu tambah semangat untuk menerobos ke dalam mulut mungil Rani.
__ADS_1
Ceklek ...
"Oh My God ..." terdengar suara yang bernada terkejut begitu dia masuk dan memergoki pasangan yang sedang melakukan adegan dewasa itu.
Danu kaget dan melepas ciumannya, begitu pula Rani, gadis itu tampak merona wajahnya, dan segera berlalu pergi, saat di depan pintu di lihat nya Raga tengah bertolak pinggang dengan gusar.
"Ran, jangan mau di kadali Danu, suruh dia menikahi kamu sekarang juga." titah Raga, dan Rani hanya terdiam.
"Permisi, Pak." pamitnya kemudian melesat keluar dari ruangan Danu.
"Wah ... wah ..." Raga menggelengkan kepala sambil berjalan mendekati Danu yang hanya meringis.
"Gerak cepat juga kamu, Dan ." Raga menghempaskan bokongnya di kursi kerja Danu, sedang asistennya itu masih betah berdiri.
"Spontan Bos."
"Jangan kurang ajar, Dan. kalau ingin main-main jangan sama Rani, aku tidak mau istriku menangis karena sahabatnya di buat mainan sama kamu." ancam Raga.
"Ini lagi mau pendekatan Bos," kata Danu, dia meraih cangkir kopi yang tadi dia pesan kepada Rani, menyesapnya sedikit, hemm ... rasanya begitu pas di lidah Danu, dan ini menambah nilai plus dari Rani.
"Sejak kapan suka kopi?" tanya Raga curiga, dahinya mengernyit.
"Tentu saja, apalagi bibirnya, begitu manis juga kan?"sindir Raga.
Uhuk ... uhuk ...
Danu sontak tersedak kopi yang di sesap nya, dia terbatuk-batuk, membuat Raga terkekeh geli.
"Apa-apaan sih Bos."
"Kenapa, memang manis kan?"
Danu tak menjawab, dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya."memang manis sih?"
"Jangan main-main Dan, Rani gadis yang polos dan lugu, kalau ingin serius cepat lamar saja dia."
__ADS_1
"Iya Bos, santai saja dulu."
"Santai sih santai, tapi jangan di icip-icip dulu, bukan dagangan dia."
"Iya Bos, aku bukan laki-laki bejat yang suka mempermainkan wanita, yang ada aku yang selalu di permainkan." keluh Danu, dia menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Curhat." goda Raga, dia tahu jelas sepak terjang Danu, dia memang beberapa kali gagal dalam menjalin hubungan dengan wanita, dan masalah nya juga selalu sama, si wanita berselingkuh, tentu saja Danu tidak bisa kompromi dengan pengkhianat.
"Kamu memang bod *h, makanya sering di tikung," kata Raga sambil tertawa mengejek.
"Jangan meledek, Bos. seperti kisah cintamu mulus saja," ucap Danu sambil mencebik. dia saja butuh waktu sepuluh tahun untuk bisa bersama orang yang dia cintai.
Untung saja Zivanna meu menerima dia, coba kalau menolak, apa dia masih bisa meledek aku, dasar Bos nggak ada Akhlaq.
"Jangan menggerutu dalam hati Dan, kamu kira aku tidak tahu.".
"Hah .. " Danu kaget, apa mungkin Raga punya indar ke tujuh, seperti tahu saja kalau sekarang Danu memang sedang mengumpat dalam hati.
"Ajak Rani makan malam romantis, lalu tembak dia." Raga mengusulkan satu ide.
"Mati dong dia di tembak." Danu terkekeh.
"Jangan bercanda, aku serius." mata Raga melotot tajam, membuat Danu seketika mengkerut.
"Iya ... iya Bos, jangan marah-marah terus, nanti cepat keriput dan Zie pasti akan menendang kamu dari hidupnya." Danu tergelak, dan dia mendapatkan satu lemparan kertas yang di gulung hingga membentuk bulatan.
"Tidak akan, Zie mencintai aku apa adanya." tolak Raga. dia berdiri bersiap untuk pergi dari ruangan Danu," kerja sana, jangan melamun saja, kamu di gaji untuk bekerja, bukan untuk cengar-cengir nggak jelas." omel Raga.
Danu tak menjawab, dia hanya diam saja, karena pasti percuma menjawab Raga, karena sudah pasti dia tidak akan mau di kalahkan.
"Jangan lupa, ajak Rani makan malam," kata Raga setelah dia sampai di tengah pintu.
"Siap, Bos."
*bersambung ...
__ADS_1
🌸
🌸*