
🌸
🌸
Raga menggendong tubuh mungil wanita yang baru satu hari resmi menjadi istrinya itu, membawanya ke dalam kamar mandi mereka. Dengan tubuh yang sama-sama polos.
Sesampai di kamar mandi, Raga menurunkan tubuh istrinya, kemudian dia mengisi bathtub untuk mereka mandi. Tak lupa juga dia memberikan aroma terapi pada air didalam bathtub.
Setelah penuh, Raga menggendong kembali Zivanna, dan menurunkan di dalam bathtub yang sudah terisi air hangat. Pria itu juga ikut masuk ke dalam, menekan kedua bahu istrinya, agar segera berendam.
"Mas, kenapa ikut masuk ke sini?" tanya Zivanna, dia menoleh kepada suaminya yang duduk di belakangnya.
"Aku juga mau mandi, Sayang?" jawab Raga santai, dia menyandarkan punggungnya ke belakang, dan memejamkan matanya.
"Hanya mandi ya mas, jangan macam-macam," kata Zivanna setengah mengancam.
Raga tergelak, dia membuka mata dengan
seringai liciknya, menyentuh punggung polos istrinya yang putih, dan menggugah hasratnya lagi.
"Gimana kalo satu macam saja?" bisik Raga dengan sensual, tepat di belakang telinga istrinya. Membuat wanita itu seketika meremang.
"Mas ... ", desah Zivanna, saat bibir Raga mengecup basah bahunya yang polos. Kedua tangannya terulur ke depan, melewati sisi pinggang Zivanna, kanan dan kiri, kemudian berhenti pada dada Zivanna yang membusung dengan indah.
Raga merematnya dengan lembut, sambil sesekali memilin puncaknya dengan penuh hasrat.
Zivanna kembali mendes*h, dia mendongakkan kepalanya, saat rasa nikmat yang muncul karena sentuhan dari suaminya.
"Mas, jangan lagi. Aku...aku masih sakit mas .." Zivanna berkata dengan terbata-bata, antara ingin menolak dan juga ingin melanjutkannya hingga pada intinya.
"Hanya pada awalnya saja, Sayang. Lama-lama juga tidak akan sakit lagi," bisik Raga, dia menggigit daun telinga istrinya sensual.
"Ah, Mas. kamu nggak kerjakah?" Zivanna kembali melontarkan pertanyaan.
"Sstt, Sayang. kita ini pengantin baru, jangan bahas kerjaan dulu, ok. ada hal yang lebih penting dari sekedar pekerjaan," Raga mengecup tengkuk Zivanna, membuat wanita itu menggeliat penuh hasrat.
__ADS_1
"Mas ..." Zivanna kembali mendes*h saat bibir suaminya menyusuri dari tengkuk, hingga ke leher jenjangnya.
Mandi bersama pagi itu akhirnya kembali di penuhi oleh kecipak hasrat ingin kembali mengulang penyatuan yang begitu indah, dan membuat candu.
Bathtub yang menjadi saksi pergulatan kedua manusia yang sudah di mabuk cinta, ingin terus mengulangi hasrat yang sudah Raga pendam sejak sepuluh tahun yang lalu.
Raga yang masih lugu dan juga miskin saat itu, hanya bisa berkhayal, bagaimana bila suatu saat bisa memiliki wanita yang begitu dia puja, seutuhnya. Dan akhirnya, hari ini, dia bisa memiliki Zivanna seutuhnya, dengan penuh cinta.
Berharap akan ada benih yang dia tebar, bisa tumbuh menjadi Raga junior, atau Zivanna junior.
Keduanya kembali sampai pada pelepasan yang begitu indah dan membuat candu bagi keduanya. Setelah menetralisir nafas yang terengah-engah, kedua manusia itu mandi bersama yang sesungguhnya.
Raga ingin mengulang lagi penyatuan mereka, tapi Zivanna merengek capek dan juga lapar.akhirnya dia mengalah, toh dia sudah memiliki Zivanna selamanya, kapan pun dia mau, masih bisa bermesraan dengan sang istri.
🌸
🌸
Setelah mandi bersama selesai, Zivanna bermaksud memasak untuk sarapan yang sekaligus makan siang mungkin. Karena saat ini sudah hampir jam dua belas tengah hari.
Untuk berbelanja ke bawah, juga masih malas, karena dia masih begitu capek dan lapar
Bahkan untuk berjalan saja, Zivanna masih merasa tidak nyaman, saat tubuh intinya terasa perih.
Dua mangkok mie instan siap juga untuk disantap, Zivanna segera membawanya ke meja ruang makan, yang menyatu dengan dapur.
"Mas, makan dulu," teriak Zivanna, dia menarik kursi, dan segera menghempaskan bokongnya diatasnya.
"Iya, sebentar lagi Sayang," teriak Raga, dari dalam ruang kerjanya. Sejak selesai mandi, pria itu memang masuk ke dalam ruang kerjanya. Mungkin untuk memeriksa laporan, yang di kirim oleh asisten pribadinya, siapa lagi kalau bukan Danu.
Kasihan sekali dia, sudahlah patah hati, sekarang malah di beri pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, karena sang bos menikmati Cuti pengantin barunya.
"Ayo, Mas.." Zivanna berteriak lagi dengan tidak sabar. Perutnya sudah protes sejak tadi, dan suaminya malah lebih mementingkan pekerjaan yang tidak akan ada habisnya.
"Iya, Sayang," ucap Raga seraya keluar dari ruang kerjanya. Dia mengambil tempat di sebelah sang istri.
__ADS_1
"Maaf, Mas. hanya ada mie instan saja, mau belanja ke bawah, aku terlalu malas dan capek," kata Zivanna, sambil menatap sang suami yang sedang mengaduk mie nya.
"Nggak pa-pa, Sayang. yang penting makanan, maaf ya, nikah sama aku malah makan mie kayak gini." Raga tergelak, dia mulai menyantap makanannya, yang terasa enak, mungkin karena perutnya sudah terlalu lapar.
Lagi pula, Raga adalah tipe orang yang simpel, dia tidak terlalu memilih makanan. Selama bisa di makan, sehat dan bersih, tidak masalah.
"Nanti sore temani aku belanja ke bawah ya, Mas?" Zivanna menatap suaminya penuh harap, dia juga sudah mulai menyantap mie kuah yang masih lumayan panas itu.
"Siap Tuan Putri, kemanapun Tuan Putri mau pergi, hamba siap untuk mengantarkan," kata Raga seraya tergelak kembali.
Zivanna mencubit lengan suaminya dengan gemas, dia merasa heran, orang yang dia kira kaku dan datar seperti Raga, ternyata bisa juga konyol dan humoris.
"Mas, lebay," desis Zivanna, tak urung ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya.
"Hanya sama kamu Sayang, aku bisa lebay seperti ini," ucap Raga sambil meneguk air putih yang sudah di tuang oleh Zivanna sejak tadi.
"Iya, aku pikir kamu orang yang kaku dan dingin," ejek Zivanna, dia menutup mulutnya dengan ke sepuluh jarinya.
"Begitu ya?" Raga menatap istrinya dengan mata memicing, memindai sang istri dari atas hingga bawah. Istrinya yang begitu cantik, biarpun hanya memakai tank top dan hotpants seperti ini saja, aura kecantikan dan ke seksiannya, begitu terpancar.
Apalagi rambut panjangnya yang setengah basah, menambah nilai sensual dalam dirinya.
Zivanna menarik senyumnya saat melihat, tatapan suaminya lebih seperti seekor singa yang sedang mengintai mangsa.
"Ng ... itu dulu Mas, waktu kita masih sekolah", Zivanna mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang, hanya karena tatapan suaminya yang terasa menelanjangi dirinya.
Raga tergelak, dia menyandarkan punggungnya ke belakang," Kamu tahu Sayang, apa yang selalu ada dalam benakku dulu saat melihat dirimu?" tanya Raga.
"Aku nggak tahu, Mas" jawab Zivanna.
"Aku selalu berpikir dan berkhayal, bagaimana rasanya mencium bibir yang selalu sinis itu, dan juga bagaimana rasanya memeluk tubuh seksi wanita pujaan hatiku,". kata Raga dengan sungguh-sungguh.
Zivanna tersenyum manis, dia menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya, teringat segala tingkah lakunya di masa dahulu, saat jiwa muda masih begitu mendominasi.
bersambung...
__ADS_1