Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Misi cari jodoh untuk Rani


__ADS_3

🌸


🌸


"Carikan jodoh buat aku, Zie," kata Rani, dengan nada serius, wanita cantik sahabat Zivanna itu memandang sahabatnya tanpa senyum.


"Hah, jodoh? memang nggak bisa cari sendiri?" tanya Zivanna heran, keduanya masih menikmati masa-masa santai berdua, bukankah kata Raga, Rani mendapatkan tugas untuk menemani tuan putri.


"Mana ada yang mau sama aku Zie?" keluh Rani, dia terlihat menundukkan kepala sambil mengaduk es teh yang masih setengah, menggunakan sedotan warna putih.


"Hey, jangan minder begitu, kamu cantik Ran, pasti akan datang jodoh yang baik dan tepat untuk kamu." Zivanna memberikan semangat kepada sahabatnya.


"Huh, semoga saja ya?"


"Kamu lihat, aku yang miskin dan dan berwajah biasa-biasa, dapat suami tampan dan tajir melintir." Zivanna menutup mulutnya yang tertawa dengan kelima jarinya.


Rani mencibir," tentu saja, Pak Raga sudah dari orok naksir sama kamu, iya kan?"


"Nggak juga, mungkin dia lagi khilaf saja." Zivanna tergelak lagi, "sudah belum, kita lanjut ngobrol di kantor saja yuk?" ajak Zivanna, dia sudah berdiri dan menyampirkan tas slempangnya di bahu kanan.


"Ayo ..."


"Kamu tunggu di sini, aku bayar dulu."


"Jadi aku di traktir, nih?"


"Iya lah, masa tega aku suruh bayar sendiri," kata Zivanna.


"Oh iya, aku lupa. kamu 'kan sudah jadi istri Bos ..." Rani terkekeh, dan Zivanna menuju kasir, untuk membayar makanan mereka tadi, setelah selesai segera bergegas ke kantor milik Raga lagi, melanjutkan obrolan absurd dia wanita yang bersahabat baik itu.


🌸

__ADS_1


🌸


Zivanna dan Rani sudah sampai di ruangan milik Raga, dan Zivanna bermaksud menghubungi suaminya, mau menanyakan apakah Rani sudah di mintakan izin atau belum kepada Bu Cindy.


"Hallo, Mas Assalamualaikum." Zivanna melakukan panggilan telepon kepada Raga, hanya butuh dua kali deringan, panggilan langsung di jawab oleh sang suami.


"Waalaikumsalam, Sayang? ada apa?" tanya Raga dengan suara lembut seperti biasa.


"Mas nggak lupa telpon Bu Cindy, 'kan?" tanya Zivanna, dia saat ini duduk di sofa single yang ada di ruangan suaminya, sedangkan Rani, memilih duduk di sampingnya. menikmati masa-masa kebebasan, atas permintaan istri Bos.


"Tidak, aku sudah menghubungi Bu Cindy, istirahat saja di kamar pribadi aku, apa kamu sudah makan?"


"Sudah, baru saja makan siang bersama Rani, di restoran depan kantor, Mas sendiri sudah makan belum?"


"Ini kami lagi makan Sayang, sambil meeting."


"Hah, Mas sedang meeting sekarang, aku mengganggu dong?" kata Zivanna cemas.


"Ya sudah, aku tutup dulu ya Mas, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ..."


Zivanna mengakhiri panggilan, dan tersenyum menatap Rani, dia menyandarkan kepalanya ke belakang, dengan wajah mendongak ke atas.


"Suamiku sudah menelpon Bu Cindy, jadi nikmati saja saat-saat free seperti ini ..."


"Iya, ingin merasakan jadi sultan dalam satu kedipan mata." Rani tergelak.


"Hey, bagaimana kalau kamu aku jodohkan sama pak Danu?" bisik Zivanna, dia sudah mengubah posisi duduk ya, hingga berhadapan dengan Rani.


"Apa? jangan konyol kamu Zia."

__ADS_1


"Kenapa? kamu nggak mau sama Pak Danu?"


"Kalaupun aku mau, belum tentu orang sekelas Pak Danu mau melihat gadis miskin dan biasa seperti aku, kecuali dia sedang ada masalah dengan penglihatan,"


"Kamu menyindir aku!" Zivanna melotot, dia merasa ucapan Rani begitu mengena pada dirinya, bukankah dia dan Rani satu level, sama-sama miskin dan juga berwajah biasa-biasa saja, hanya keberuntungan saja yang mengantarkan dia kepada Raga.


"Eh, bukan seperti itu Zie, aku hanya membicarakan diriku sendiri, kisah hidupku tidak sama seperti dirimu Zie."


"Apa bedanya, aku dan kamu sama-sama dari keluarga miskin, aku saja yatim piatu, dan aku juga tidak cantik."


"Tapi Pak Raga sudah bucin sama kamu sejak dulu Zie, sedangkan aku ..., Pak Danu tidak mungkin mau di jodohkan sama aku."


" Belum kita coba kan?"


"Memalukan kalau sampai Pak Danu menolak, nanti dia kira aku yang keganjenan."


"Sudah, serahkan saja sama aku, nanti aku minta bantuin suami aku, dia nggak bakal nolak permintaan aku ini."


"Jangan Zie ..."


"Sudahlah, tenang saja, nanti aku kabari lagi, ok."


Zivanna menaik turunkan alisnya, menggoda Rani yang terlihat cemberut, walaupun dalam hati berbunga-bunga, siapa juga yang bisa menolak pesona seorang Danu, tampan, ramah, dan juga tidak sombong.


Asisten dari Raga itu memang sebelas dua belas dengan Bos, soal ketampanan, tapi kalau soal sifat, tentu sangat bertolak belakang. Raga sosok pria yang dingin, datar, dan cuek, walau sebenarnya dia baik, sedangkan Danu, dia lebih supel dan ramah.


"Terserah kamu, deh."


*bersambung ...


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2