
🌸
🌸
Raga berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan gelisah, dia merasa bingung, takut dan juga cemas. Bagaimana bila Zivanna berniat meninggalkan dirinya karena kecerobohannya tadi sore.
Mengapa dia begitu terpancing nafsu, melihat Zivanna seolah dibutakan oleh hasrat dan gairah, mungkin karena begitu lama dia memuja gadis itu. Waktu sepuluh tahun, bukan lah sebentar, dan pada saat dia hampir memiliki dia seutuhnya, timbul hasrat untuk segera menjadikan Zivanna miliknya seutuhnya.
Beberapa kali Raga meremas rambutnya dengan frustasi, ingin rasanya menghampiri gadisnya itu ke kamar, tapi dia masih merasa takut.
Tak kuat memendam rasa bersalah dan juga rasa takut, Raga keluar dari ruang kerjanya. Berdiri mematung di depan pintu kamar Zivanna, yang berada tepat disebelah ruang kerjanya.
Raga menempelkan telinganya pada daun pintu, mencoba mendengarkan ada aktivitas apa di dalam kamar. Dan Raga bahkan tidak mendengar suara apapun.
Rasa cemas begitu mendominasi, Jangan-jangan dia pergi dari sini, tidak, itu tidak boleh terjadi. Dengan agak gemetar Raga mengetuk pintu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Sayang....tolong buka pintunya.." teriak Raga cukup keras.
Tidak ada sahutan sama sekali, membuat Raga bertambah cemas."Sayang..." mengetuk pintu lagi. Tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.
"Aku buka ya pintunya?" Raga bertanya dengan lembut.
Klek...
Belum sampai dia membuka pintu, sudah terbuka lebih dulu dari dalam, dan Zivanna berdiri dengan wajah datar dan dingin.
"Ada apa!"
__ADS_1
"Eeh....tidak....aku cuma merasa cemas saja, takut kalo...." Raga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah karena ekspresi Zivanna yang begitu dingin. Tidak seperti biasa yang lemah lembut dan murah senyum.
"Maafkan aku.." bisik Raga lirih, menatap Zivanna penuh penyesalan, ingin meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, tapi dia juga masih takut, sedang sekarang saja dia belum mau memaafkannya.
Zivanna keluar dari kamar, menuju ke ruang bersantai, dan menghempaskan bokongnya di sofa dengan kasar.
Raga menyusulnya dan ikut duduk di sudut sofa yang lain, tak mau terlalu berdekatan, takut Zivanna salah paham lagi kepadanya.
"Aku juga yang salah, aku juga ikut menikmatinya tadi...." Zivanna tertawa getir, dan sudut matanya berembun.
Raga hanya diam, memandang gadisnya dengan sejuta perasaan.
"Maafkan aku sayang, aku memang bodoh, harusnya aku bisa menahan nafsuku, sepuluh tahun saja aku mampu menahan diri dari semua wanita yang mendekatiku, tapi kenapa aku begitu lemah bila di hadapan kamu.." lirih Raga.
"Maafkan aku..." bisik Zivanna, tak tahan dia mulai menangis lagi.
"Tidak...tidak sayang, kamu tidak salah, aku yang bodoh." Raga beringsut mendekati Zivanna yang menunduk dan menangis.
"Sebaiknya aku pergi saja dari sini, aku cari tempat lain saja Raga.."
"Aku merusak semuanya Raga, karena kehadiranku Sandra tersingkir....aku yang jahat...Sandra benar, harusnya kamu bisa melihat, siapa yang selalu ada di samping kamu di saat kamu susah ataupun senang.."Zivanna terus saja terisak.
"Sudah sayang....jangan menyalahkan diri sendiri, kamu tidak ada hubungannya dengan perpisahan aku dan Sandra, kalaupun mau menyalahkan, aku yang sepatutnya di persalahkan.." Raga mengelus punggung Zivanna dengan lembut.
Kali ini dia tidak akan berbuat ceroboh lagi, dia berjanji akan bersabar hingga waktunya tiba nanti, pada saat mereka sah menjadi pasangan suami istri.
"Aku jahat..."
"Tidak.... bagiku, kamu adalah malaikat sayang.." Raga mengurai pelukannya, mengusap pipi yang sembab oleh air mata itu, dengan lembut.
"Maafkan aku ya....setelah menemui orang tuaku, aku akan segera menikahi kamu.." ucap Raga.
"Apa Sandra.."
__ADS_1
"Sstt...tidak usah bicara tentang Sandra lagi, dia pasti akan bisa menerimanya suatu saat nanti, semoga saja dia bisa mendapatkan pengganti ku yang lebih baik lagi.."Raga tersenyum lembut, menangkup kedua pipi Zivanna.
Zivanna mau tak mau akhirnya tersenyum, dan mengangguk."iya.."
Kruk...kruk...
Suara perut Zivanna begitu keras berbunyi, tentu saja, sore tadi dia sudah ingin makan mi kuah, tapi malah ada insiden yang mengesalkan hatinya, hingga dia urung untuk makan.
Raga tergelak, melihat wajah Zivanna yang merona karena malu, dalam hati mengutuk perut yang tak tahu malu itu, kenapa berbunyi di saat yang tidak tepat.
Zivanna menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kamu lapar ya....kita keluar cari makan ya?" tanya Raga sambil tertawa.
"Ah, jangan tertawa, aku malu.." rengek Zivanna.
"Kenapa harus malu, lagi pula karena aku kan, kamu jadi kelaparan?" Raga membuka paksa wajah yang tertutup oleh tangan itu.
"Iya....padahal tadi sudah tinggal makan.." Zivanna merengut.
"Maaf, sebagai permintaan maaf, gimana kalo kita makan di luar?" Raga menatap Zivanna penuh harap.
"Apa nggak terlalu malam?"
Raga melirik jam tangan yang di pakainya," masih jam delapan, belum terlalu malam, ganti baju gih.." titah Raga.
"Baiklah..." Zivanna beranjak bangun, dan menuju kamarnya.
Raga menghela nafas lega, akhirnya dia bisa menaklukkan hati Zivanna lagi, tadinya dia sudah merasa begitu takut, kalau-kalau Zivanna berniat meninggalkan dirinya, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
*bersambung..
🌸
__ADS_1
🌸*