Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Akhirnya sah.


__ADS_3

🌸


🌸


Hari demi hari berlalu tanpa terasa, yang di tunggu oleh Raga tiba juga, hari di mana dia dan juga wanita pujaan hatinya akan di satukan dalam ikatan suci pernikahan.


Sepanjang pagi ini Raga merasa gugup bukan main, dia sudah rapi dan tampan, dalam balutan celana hitam dan juga jas warna senada, sedang di dalamnya kemeja warna putih.


Sedangkan Zivanna, begitu cantik, anggun dan elegan, dengan kebaya warna putih, dengan bawahan batik. Pukul sepuluh tepat, akhirnya Raga mengucap ijab kabul, dengan begitu lantang dan percaya diri.


Tak kala semua saksi mengucap kata SAH, rasa bahagia dalam hati Raga dan juga Zivanna begitu membuncah, mereka sudah sah menjadi suami istri, di mata hukum juga agama.


Setelah acara ijab kabul selesai, selanjutnya adalah acara makan-makan, Raga hanya mengundang saudara dan juga beberapa teman akrabnya saja, seperti Danu, pria itu datang juga, meskipun dengan hati yang hancur berkeping-keping, menyaksikan wanita yang dia sukai jadi istri sahabat sekaligus bos nya.


Apalagi Zivanna terlihat begitu cantik, dalam balutan kebaya pengantin. Seandainya saja Zivanna bukan wanita yang di cintai bos nya, tentu akan bahagia sekali hidupnya, bisa menyunting wanita cantik seperti Zivanna.


"Selamat Bos," Danu mendekati sang Bos, untuk bersalaman.


"Iya Dan, makasih. Semoga kamu cepat menyusul." Raga menepuk punggung Danu, saat mereka berpelukan.


"Makasih Bos."


Danu berganti mengulurkan tangan kepada Zivanna, tapi segera di tepis dengan kasar oleh Raga." Bos, kejam banget sih" omel Danu.


Zivanna hanya tertawa kecil, dia tak heran melihat sang Suami yang begitu posesif.


"Selamat ya Zie," ucap Danu dengan tulus. Dalam hati mendoakan kebahagiaan wanita itu dan Raga.

__ADS_1


"Makasih, Pak. Semoga cepat menyusul juga," ucap Zivanna tulus


"Aamiin, kalo kamu punya teman yang cantik dan jomblo, boleh deh kamu kenalin sama aku," gurau Danu.


"Siap, Pak".


"Hei, jangan panggil dia Pak. Dia bawahan kita , Sayang," kata Raga, sesekali dia menyalami saudara yang sudah berpamitan mau pulang,.


"Nggak apa-apa, mas".


Raga hanya mendengus kesal, dalam hati berkata, semoga hari cepat berganti dengan malam, dia sudah tidak sabar untuk segera memiliki Zivanna seutuhnya. Dan semoga pernikahan mereka langgeng sampai selama-lamanya.


🌸


🌸


Zivanna baru saja mandi, dan berganti baju tidur, dengan bahu model tali spageti, rambut panjangnya masih setengah basah, karena dia mengguyur dengan air shower tadi.


Jantung Zivanna berdebar-debar dengan begitu kencang, dia merasa gugup, apa yang harus di lakukan di malam pengantin ini.


"Hai, Sayang," sapa Raga, saat dia baru masuk ke dalam kamar, dalam balutan baju santai, celana pendek dan juga kaos polo hitam. Raga menutup pintu kamar mereka, dan berjalan mendekati Zivanna, yang membeku di depan kaca rias.


"Mas.." Zivanna menatap suaminya yang berjalan mendekati dirinya, lewat pantulan kaca rias.


"Sudah lapar belum?" tanya Raga, seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mengecup pipi putih itu dengan mesra.


"Lapar sih mas, mau masak, di kulkas hanya ada telur," kata Zivanna manja, walaupun hatinya begitu berdebar dengan sangat kencang.

__ADS_1


"Kita pesan aja ya?"


"Boleh, Mas."


"Mau makan apa?" Raga berjalan mengambil ponsel yang ada di nakas, sebelah ranjang besar mereka.


"Aku pengen nasi goreng mas," ucap Zivanna, dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar, dan Raga mengekori langkahnya.


"Ok, nasi goreng ya, kita tunggu sambil ngobrol aja ya?" Raga menarik tangan istrinya, mengajak duduk di sofa ruang bersantai. Keduanya duduk bersisian, dengan Raga yang terus menggenggam tangannya erat.


"Aku bahagia sekali, Sayang. Akhirnya kita sudah menjadi suami istri," kata Raga, sambil mengecup punggung tangan Zivanna.


"Iya, aku juga. Semoga pernikahan kita bisa langgeng ya, hingga kita menua nantinya, dan punya banyak anak juga cucu.." Zivanna menutup wajahnya malu, saat mengucap kata anak dan juga cucu.


"Aamiin, iya Sayang."


Terdengar suara bel berbunyi, mungkin pesanan makanan mereka yang datang. Raga berdiri dan membuka pintu, kemudian keduanya memulai makan malam mereka dengan suasana yang sunyi.


Tak ada obrolan yang terdengar, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, mendominasi suasana makan malam mereka. Sesekali saling melirik satu sama lain.


Dan mereka saling menertawakan, saat pandangan mereka beradu tanpa sengaja. Tingkah mereka sudah seperti remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


Makan malam keduanya selesai sudah, Zivanna segera membereskan piring dan juga gelas kotor, bekas makan malam mereka, dan segera membawa ke wastafel, untuk di cuci.


Raga audah lebih dulu masuk ke dalam kamar, entah mengapa, dia juga jauh lebih pendiam dari biasa nya, atau mungkin dia juga sedang merasa canggung dan juga bingung, seperti dirinya?


*bersambung..

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2