Rindu Tanpa Batas Waktu.

Rindu Tanpa Batas Waktu.
Restu orang tua Raga.


__ADS_3

🌸


🌸


Raga menunggu Zivanna yang masih berganti baju di dalam kamar. Malam ini dia berniat mengajak calon istrinya ke rumah, unt meminta restu dari kedua orang tua Raga.


Raga memakai celana jeans warna biru tua, dan kemeja warna biru senada, dengan lengan yang digulung sebatas siku.


"Aku sudah siap" suara lembut mendayu, membuat Raga mendongak, dan dia terpana melihat Zivanna yang begitu cantik, dalam balutan gaun warna peach yang lembut. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.


"Wow..cantik sekali kamu sayang" desis Raga penuh kekaguman. Dia berdiri dan mendekati Zivanna.


"Aku grogi"


"Kenapa?"


"Takut kalo orang tuamu nggak suka sama aku" Zivanna tampak grogi dan gugup.


"Jangan takut, orang tuaku pasti menyukai kamu sayang"


"Benarkah?"


"Iya....ayo, kita berangkat. Setelah restu turun, aku akan segera menikahi kamu" Raga mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Zivanna.


🌸


🌸


Satu jam kemudian, mobil Raga sudah memasuki halaman rumah Orang tua Raga.


Setelah memarkir kendaraannya, Raga turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk wanitanya.


"Silahkan sayang"

__ADS_1


"Makasih , mas" malu-malu Zivanna menyebut mas, untuk memanggil Raga, membuat Raga tersenyum senang.


"Hemm, manis sekali "


"Jangan meledekku, aku malu" Zivanna menyampirkan tas slempangnya di bahu kanannya.


"Sudah siap"


"Ya" Zivanna menghela nafas pelan, kemudian berjalan mengikuti langkah Raga.


"Assalamualaikum" Raga mengucap salam, sambil terus masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam," jawab penghuni rumah kompak, tampak ayah, ibu dan adik perempuan Raga sudah menunggu di sofa ruang tamu. Ketiganya berdiri menyambut kedatangan Raga dan calon istrinya.


"Malam yah, bu" Raga mencium punggung tangan ayah dan ibunya bergantian.


"Malam nak" Ayah Raga menepuk bahu putra sulungnya dengan lembut.


"Wah..siapa ini, cantik sekali" kata ibu Raga, sambil tersenyum menatap Zivanna yang terlihat gugup.


"Hai calon kakak ipar ku yang cantik, pantesan mas Raga rela nungguin sepuluh tahun lebih, memang istimewa banget kok" sambut Dina, adik semata wayang Raga, memeluk Zivanna erat, setelah lebih dulu cipika-cipiki.


"Ayo kita siapkan makan malam saja mbak" Dina menarik tangan Zivanna, mengajaknya ke ruang makan, diikuti oleh ibu Raga. Sedang Raga berbincang dengan sang Ayah di ruang tamu tadi.


"Nak Zie, kerja ya di kantor Raga?" tanya Ibu Raga dengan lembut.


"Iya Tante, tapi sama Raga sudah nggak boleh kerja lagi" jawab Zivanna jujur, ketiga wanita cantik beda usia itu menata menu makan malam mereka.


"Ya sebaiknya gitu, fokus saja dengan rencana pernikahan kalian" kata Ibu Raga.


Zivanna, menatap wajah lembut wanita yang sudah melahirkan calon suaminya itu. Wajah yang sederhana, dan begitu keibuan, semoga aku nanti juga bisa seperti beliau. Batin Zivanna.


"Tante... merestui kami?" tanya Zivanna polos.

__ADS_1


"Panggil ibu, dong, kamu sudah menjadi putri kami mulai sekarang"


"Terima kasih ya bu, sudah mau menerima saya yang sudah banyak berbuat salah kepada mas Raga, maafkan saya" sudut mata Zivanna berembun.


"Sudah, jangan mengingat masa lalu lagi, yang penting putra ibu bahagia bersama denganmu. Din, panggil mas sama ayahmu buat makan malam,, setelah makan, baru ngobrol"


"Baik bu" kata Dina dengan patuh.


Dan mereka makan malam dengan akrab, Zivanna mulai bisa membawa diri, dia tak lagi terlihat gugup atau takut. Karena ibu Raga juga sudah mau merestui mereka.


Begitu makan malam selesai, kelimanya menuju ruang bersantai, untuk membahas rencana pernikahan Raga dan juga Zivanna.


"Jadi yah, bu. Raga berniat menikahi Zivanna secepatnya, kalau kalian merestui kami" kata Raga, sambil memandang kedua orang tuanya yang saling tersenyum.


"kami hanya bisa merestui dan juga mendoakan, semoga kalian bahagia, pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah" kata Ayah Raga.


"Alhamdulillah, gimana kalo dua hari lagi " kata Raga.


"Hah... apa nggak terlalu cepat mas?" Zivanna melotot kaget.


"Semakin cepat, bukannya lebih baik?"


"Ya sudah, terserah saja. Tapi, kalo bisa, acaranya jangan terlalu mewah ya, yang penting kita sudah sah di mata hukum dan Agama" pinta Zivanna.


"Iya sayang, apapun yang kamu mau, asal kamu senang" Raga tersenyum bahagia.


Dan pembicaraan mereka berakhir sudah, dengan kesepakatan, dua hari lagi akan diadakan ijab kabul Raga dan juga Zivanna. Sesuai keinginan calon istrinya, yang hanya ingin menikah secara sederhana saja, tanpa ada kemewahan, karena dia sadar, dia hanya gadis yatim-piatu yang beruntung mendapatkan cinta dari Raga.


Karena hari sudah larut malam, dan juga kesepakatan sudah diambil, Raga mengajak Zivanna untuk kembali ke apartemen, dan tentu saja kedua orang tuanya Raga memberi nasehat, untuk bisa menjaga diri, sebelum ada kata sah di Antara mereka.


Raga hanya mengiyakan saja, toh, dua hari Zivanna akan menjadi miliknya seutuhnya. Dan dia sudah tak sabar menanti datangnya hari itu.


*bersambung..

__ADS_1


🌸


🌸*


__ADS_2