
🌸
🌸
"Mau apa!" Zivanna melotot galak kepada suaminya yang berkali-kali terlihat menelan salivanya, wanita itu memang sengaja menggodanya, karena dia cukup kesal dengan tuduhan yang di lontarkan Gaharu.
"Sa ... Sayang, marahnya di tunda dulu ya?" kata Raga dengan gugup, matanya tak bisa lepas dari tubuh polos sang istri yang terpampang menggoda imannya yang tidak cukup tebal.
"Tidak bisa, aku mau marah selama satu minggu ..." ketus Zivanna, dia terlihat sedang memakai bra dan cela*a da*am nya, sengaja berlama-lama, untuk membuat pria yang berstatus suaminya itu bertambah gelisah.
"Bisa nggak ditunda dulu beberapa jam, setelah itu di lanjutkan marahnya nggak apa-apa." pantang menyerah, Raga terus merayu, ingin sekali menerjang tubuh seksi itu langsung, tapi dia takut Zivanna bertambah marah.
"Mas ngeselin, seenaknya saja menuduh aku yang bukan-bukan." Zivanna bertolak pinggang, masih dengan tubuh setengah polos.
"Aku minta maaf, Sayang. jangan marah lagi ya?" Raga bergerak maju, dan secepat kilat menyambar pinggang ramping sang istri, mendekapnya erat hingga dada mereka saling menempel.
"Kamu mau apa?" tanya Zivanna polos, kedua matanya berkedip menggemaskan.
Raga menyerang bibir tipis yang merah alami tanpa lipstik itu, menciumnya dengan penuh hasrat, menyesapnya dengan lembut, dan Zivanna hanya bisa pasrah, dan mulai membalas cumbuan Raga yang selalu memabukkan.
Tanpa terasa Zivanna mengalungkan kedua tangannya di leher Raga, membuat suaminya semakin bersemangat untuk saling berbelit lidah dan bertukar saliva.
Raga mendorong tubuh Zivanna pelan-pelan menuju ranjang, sambil terus berciuman, hingga tanpa terasa tubuh Zivanna sudah ambruk di ranjang dan terlentang dengan pasrah.
Raga menatap tubuh istrinya dengan pandangan yang sudah berkabut, dia melepaskan ikat pinggang dan juga celana nya, yang terakhir melepas boxer dan juga celan* dal*mnya, dan Zivanna dapat melihat alat tempur Gaharu yang sudah menegang dan siap memangsa dirinya.
__ADS_1
Zivanna menelan salivanya kasar, matanya tak berkedip mengamati benda yang bisa memberinya kenikmatan duniawi, hingga Raga tahu-tahu sudah mengungkung dirinya, keduanya kembali melanjutkan cumbuan.
Tangan kanan Raga mulai bergerilya, merayap di kulit mulus Zivanna, hingga sampai di dua gundukan kenyal milik istrinya, yang membuatnya candu, Raga meremasnya lembut, setelah itu menyelinap ke belakang tubuh Zivanna, mencari pengait bra dan melepaskan nya dengan tak sabaran.
Kedua manusia yang sudah di gulung oleh gairah itu sudah sama-sama polos, dan Raga memulai penyatuan mereka, membiarkan Sejenak saat alat tempurnya sudah terbenam dengan sempurna di tubuh inti Zivanna.
Kemudian Raga mulai memacu tubuhnya di atas tubuh Zivanna, membuat wanita yang ada di bawah Kungkungannya tak kuasa menahan des*ahnya, Raga terus memacu tubuhnya, dan kedua manusia itu terus mengejar puncak kenikmatan yang belum mereka rasakan.
Raga dan Zivanna melenguh secara bersamaan saat pelepasan sudah menggulung mereka, dan Raga menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri.
"Terima kasih, Sayang. aku mencintaimu." bisik Raga seraya mengecup kening Zivanna lembut, dan Zivanna hanya tersenyum, dengan napas yang masih terengah-engah, karena sisa-sisa pergumulan mereka tadi.
"Semoga benih yang aku tanam, salah satunya bisa tumbuh menjadi janin, yang akan meneruskan generasi kita." Do'a Raga tulus, tangan kanannya mengelus perut rata istrinya yang hanya terlapisi selimut.
"Aamiin ..."
Raga menyelipkan anak rambut Zivanna ke belakang telinganya.
"Jangan marah lagi ya, aku minta maaf."
Zivanna tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya, mana bisa dia marah kepada pria yang begitu manis dan lembut ini, berasa tidak tahu diri sendiri kalau harus merajuk kepada suami nya.
"Mas juga jangan seenaknya menuduh aku seperti tadi."
"Iya, maaf ya. aku terlalu cemburu, jadi mendengar kamu membahas Danu, emosiku langsung muncul." Raga tertawa malu, merasa konyol, sudah setua ini masih saja cemburu tanpa alasan.
__ADS_1
"Hemm, sekarang aku boleh cerita lagi nggak?" tanya Zivanna, dia sekarang berbaring terlentang, tangan kanannya di genggam erat oleh Raga.
"Tentang Danu?"
"Iya, boleh nggak?"
Raga tampak diam dan berpikir, tapi akhirnya dia mengangguk, memberi izin istrinya untuk membahas tentang Danu.
"Katakan ..."
"Pak Danu, sudah punya kekasih belum?"
"Setahu aku sih , belum. Tapi nggak tahu juga Sayang, kami tidak pernah membahas tentang kekasihnya ."
"Begitu ya."
"Ada apa sih?"
"Aku berniat menjodohkan Pak Danu dengan Rani."
"Apa!"
*bersambung ...
🌸
__ADS_1
🌸*