Robot The Humans

Robot The Humans
HORROR


__ADS_3

Apa maksudmu (Dey) melarikan diri dariku? Apa kau mulai memberontak? bukankah aku telah menciptakanmu layaknya anak kecil... walaupum dirimu akan menjadi dewasa. Apa yang ada di memorimu itu? Apa kamu yang harus kuhancurkan terlebih dahulu... daripada kakakmu (Vin). Menatap foto keluarga terpampang lebar di ruangannya.


Semalaman itu sang profesor tetap membuka matanya karena memikirkan kedua manusia robotnya.


_______________________________________


" Kakak... pulang... ". Sang dokter memasuki apartemennya dengan perlahan.


" Hai, kak! ". Sapa Vin yang sedang mengunyah roti.


" Lho! kalian sudah makan? ". Kaget sang dokter sambil menaruh barang belanjaannya di atas meja makan.


" Bukankah kakak yang menyuruh kami makan terlebih dahulu sebelum kakak pulang ". Ucap Vin dengan berwajah datar.


" Ha? Haha... iya ya. Kakak, lupa... tapi seharusnya kalian tunggu kakak dulu, kakak kan juga mau makan bareng kalian. Oh, iya ini baju baru kalian ". Ucap sang dokter menyodorkan dua kantong plastik putih yang berisikan baju mereka (Vin and Dey).


" Wo..w,,, ". Kagum Dey tak jadi.


" Sebenarnya aku hanya bercanda. Aku gak ingin baju baru... aku lebih suka baju kotor aku ini. Karena ayah yang membelikannya, ayah yang menghidupkan aku kembali. Ayah ingin aku yang terbaik ". Ucap Vin menatap sinis ke sang dokter.


" Ha... haha... kamu jangan salah paham denganku. Aku ini tidak bermaksud apa pun dengan kalian. Aku ini hanya dokter biasa ". Merasa bersalah sang dokter langsung menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf pada Vin dan Dey.


" Aku juga gak bermaksud menuduhmu... tapi aku hanya sedikit merasa aneh, sejak kamu memeriksa badanku ini ". Kata Vin memegang dadanya.


" Ha? ".


Soal itu rupanya... ia menyadari kejadian itu rupanya. Aku memang curiga dengannya, sejak aku melakukan pemeriksaan pada tubuh itu. Detak jantungnya saja seperti... mesin yang berputar... Apa mungkin jantungnya di bantu mesin bernapas? Apa ia pernah kecelakaan parah sebelumnya? Aishh aku tak berani mengungkapkannya karena ada si kecil (Dey) susah untuk menanyakan dengan singkat pastinya, huft. Lamun sang dokter.


" EHEM! Apa khalayannya bisa di lanjut nanti, sesudah kami pulang? ". Tanya Vin langsung mengambil kantong belanjaan yang di atas meja tadi.


" K... itu kenapa?,,, ". Pertanyaan Dey terputus.


" Ini karena aku tetap menghargai pemberian orang lain pada kita. Lebih baik menolak jika ia tidak terlihat kecewa, tapi jika ia terlihat kecewa lebih baik kita terima pemberiannya ". Kata Vin mengedipkan mata sebelahnya ke sang dokter.


Oh my god... anak ini genit sekali rupanya. Heran sang dokter langsung mengambil kunci mobilnya.


---


Di perjalanan


Vin meminta Dey agar tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Apalagi sang dokter, walau ia dokter... Ia tetap manusia biasa yang bisa saja berbuat jahat dengan sesamanya.


" Dey duduk lah di depan. Disamping kakak ". Rayunya sambil menepuk kursi empuk dibagian sampingnya.


" K... ". Menatap Vin yang sedang menatap ke arah jendela.


Vin hanya melirik sedikit ke arah Dey, setelah itu menghadap lagi ke arah jendela sambil melihat kendaraan beroda yang melewati mobil yang di kendarai sang dokter.

__ADS_1


" Dey... ". Panggil sang dokter lembut.


Dey pun langsung berpindah dari belakang dan langsung duduk di depan.


" Aish... ". Keluh Vin sambil memutarkan bola matanya.


Sebelum kecanggungan makin bertambah sang dokter mulai berbicara.


" Hai, Dey. Kamu sekolah dimana? umurmu berapa? ". Tanya sang dokter agar mencair kecanggungan.


" Eee, ses...ko..lah ? ". Cadel Dey karena ia merasa asing mendengar kata itu.


" Ya sekolah. Kamu sekolah dimana? umurmu berapa? kalo kakak tebak umurmu pasti sudah sembilan atau sepuluh tahun, kan? ". Cengir sang dokter.


Dey bingung dan menengok ke belakang, Vin juga tak mengerti apa yang dimaksud sang dokter ia hanya mengangkat pundaknya karena bingung.


" Eeemm... Itu... biar kakak saja tanyakan ke ayahku. Ayahku yang tahu apa itu sekollah ". Jawab Dey dengan polosnya.


" Hah! Ayah... ayahmu yang tahu? Lho?! kamu dan kakakmu? ngerti apa itu sekolah? ". Kaget Sang dokter tak menyangka.


Yaampun... seriusan mereka gak tau tentang sekolah? Kaget sang dokter dalam hati, lalu ia melanjutkan pembicaraannya.


" Baik. Kakak akan jelaskan. Apa itu sekolah? Ya ". Katanya sambil melirik dan menengok ke arah Vin and Dey.


" Jadi... anak seusia kalian harusnya sudah wajib untuk sekolah apalagi dalam proses menuju menjadi pria remaja dan dewasa, kalian ini sudah besar umur kalian pasti sudah belasan tahun. Apa jadinya kalian tidak sekolah... masa depan kalian bisa hancur, dan kemampuan dalam bersosialisasi pun pasti akan menurun bahkan tak ada satupun teman dekat pada kalian. Jangan pernah yang namanya menengkram di dalam rumah terus. Lebih baik kalian bergaul, cari pergaulan yang baik. Cari teman yang baik, sekolahlah! Jangan jadi anak yang bodoh tanpa ilmu. Ilmu itu penting apalagi di agama Islam. Jangan sampai di tipu, di bully dengan orang yang mempunyai otak yang lebih cerdas dari kalian nanti kalian akan menyesal. Kakak bilangin ke kalian ya... kalian butuh bergaul, bergaul yang baik bukan yang buruk, dan ilmu, pendidikan... hingga bakat. Kalian butuh itu agar kalian bisa sukses nantinya. Paham kalian?! ". Jelas sang dokter menegaskan mereka.


" Dalam simakkanku... Apa itu agama? dan ilmu itu apa? ". Tanya Vin melirik ke arah spion depan sang dokter.


" Salah sendiri jelasinnya panjang. Aku gak butuh itu! ". Kata Vin dengan wajah tanpa ekspresi apa pun.


" Ya ampun! Apa maksudmu berbicara seperti itu, gak ada sopan santunnya! Itu tuh! akibatnya gara-gara kalian gak pernah sekolah! ". Kesal sang dokter.


" He... hehe... bagiku. Yang K'Vin katakan itu benar...😅 kami tidak meminta kakak menjelaskannya. Karena ujung-ujungnya juga kita tanyakan hal ini pada ayah. Ayah lebih mudah di pahami kalau kakak hanya membuat kami bingung, hehe ". Tawa Dey sejujur-jujurnya.


Sang dokter hanya terdiam, menyabarkan dirinya sendiri. Sang dokter melirik ke Vin dari Spion dalam mobilnya. Terlihat Vin memiliki wajah yang sangat garang, dan membuat sang dokter merinding melihatnya.


" Apa kalian gak mau punya teman? ". Penasaran sang dokter tak segan-segan menanyakan hal itu lagi.


" Gak mau. Aku gak mau ". Cemberut Dey sambil memayunkan bibirnya.


" Sudah punya ". Singkat Vin.


" Lho! kok kamu gak mau? kakakmu saja sudah punya. Tapi harusnya kalau kamu sudah punya kenapa kamu gak sekolah sih... ". Sang dokter masih geregetan.


" Sekolah itu tempat ayah bekerja ". Omong Dey lagi dengan polosnya.


" Hah! ayahmu? berarti ayahmu guru? ". Kaget sang dokter sampai melotot.

__ADS_1


" Hm ". Jawab singkat Dey dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


" Ayahmu guru? ". Tanyanya lagi masih tak percaya.


" Hm ". Jawab Dey lagi dengan singkat dan tak lupa anggukannya yang sedikit.


" Tapi... kenapa... kalian gak sekolah? ". Keluh sang dokter lagi dan lagi.


" Ya... karena kami sudah pintar. Kami gak butuh yang namanya sekolah ". Sombong Vin yang langsung menyilangkan tangannya.


" Heh! Jadi itu gayamu, Vin? ". Omong sang dokter semakin sebal rasanya.


" Apa?! ". Jawab Vin sedikit mengangkat alis sebelahnya.


" Kamu merasa dirimu paling hebat. Memangnya kamu ini robot? yang bisa langsung mengerti segala-galanya! ". Sang dokter makin kesal melihat kelakuan Vin.


" Kata ayah kami bukan robot. Dan aku tahu... ayah itu benci dengan manusia yang memanggil kami robot atau pun boneka ". Jawab Dey bernada pelan dan menundukkan kepalanya.


" Hai... bukan itu maksudnya. Aku hanya bilang kalian itu jangan merasa diri kalian itu hebat. Sama saja kalian menyombongkan diri ". Lembut sang dokter sambil mengelus rambut Dey.


" Bohong! Tadi kamu tidak berbicara seperti itu! Lagi pula... aku ini memang hebat dan pintar dari yang lain, karena ayah yang bilang ke kami seperti itu. Ia selalu mengatakan, bahwa kami ini manusia hebat, manusia pintar, kami manusia luar biasa. Jadi kurasa kamu jangan memaksa kami untuk sekolah! ". Ketus Vin menatap sang dokter dari spion dalamnya.


' Glek '. Sang dokter menelan ludah.


Anak ini... menyeramkan sekali... semakin aku pertanyakan... dia semakin melawan. Bisa-bisa dia memberontak. Omongannya saja sangat ketus, lebih baik aku ambil diam saja. Dalam hati sang dokter tak mau ambil masalah panjang.


" Kenapa? ". Tanya Vin sambil mengubah posisi duduk menjadi di tengah dan langsung menengok ke arah sang dokter, kedua siku tangan ditaruh di bahu kursi mobil depan.


" HAH! ". Kaget sang dokter, mobilnya langsung oleng.


' Tep '. Dey menahan setirannya.


" Apa yang kakak lakukan?? kakak ingin kami mati??? Tapi aku yakin kami tak akan mati... tapi yang ada kakak yang mati ". Omong Dey yang juga menatap sang dokter.


" BUKAN ITU! ". Teriak sang dokter yang merasakan aura yang mencekram di dalam mobilnya.


Ya tuhan... padahal mereka hanyalah anak-anak... Tapi kenapa auranya seperti orang dewasa... . Dalam hati sang dokter yang sangat merasa tak nyaman dengan kedua manusia robot itu (Vin and Dey).


Continued


_______________________________________


Like 🌟


Comen 💬


Share 📤

__ADS_1


and be a


Royal Readers 👀


__ADS_2