Robot The Humans

Robot The Humans
Egoku


__ADS_3

Dey di Masa Depan


' Aku Dey. Ayah yang telah menciptakan aku seperti ini, sifatku akan terus seperti kanak-kanak, tingkah lakuku juga tak akan berubah walau nanti aku akan menjadi dewasa nanti. Tapi, ayah mempercanggihku bukan untuk menjadikan aku seorang dewasa. Tapi, seorang yang memiliki positif thinking. Ini aku. Diriku tetap diriku, ragaku tetaplah ragaku, aku bukan K'Vin, juga bukan ayah. Jadi... I continue to fight with all my strength even though I know, I can not think mature but I can think positive '. - said Dey in the future.


Masa sekarang...


" Ayyyahhh...". Teriak Dey menghampiri sang ayah.


" Ya? ". Jawab sang ayah sambil memilah barang Dey dan Vin untuk ke sekolah barunya.


" Ada apa Dey? ". Sang ayah menoleh ke Dey.


" Aku mau yang itu ayaahhh ". Omong Dey sambil menarik ujung lengan kemeja sang ayah.


" Yang mana? ". Bingung sang ayah sambil diikuti Dey menuju ke arah yang ia ingin.


" Yang itu ". Tunjuk Dey ke arah tas unnicron berwarna merah muda.


" Hah!! yang ini?? ". Kaget sang ayah.


" Iya, ayah aku mau yang ituuu ". Kata Dey memaksa.


" Tapi... itu untuk anak perempuan, Dey ".


" Hhaaa... ". Dey mulai ngambek.


" Itu emang untuk temenku yang perempuan, wanita, cewek ". Ungkap Dey yang ada di memori ingatannya.


Astaga! kenapa aku bisa lupa soal itu? Bagaimana untuk hari pertama sekolahnya, kalau aku saja belum membuat manusia robot perempuan itu? Batin sang profesor sedikit panik tapi tetap memberi senyumannya.


" Iya. Baiklah, ini boleh untuk temanmu. Asalkan kamu pilih yang lain ya ". Sang profesor mengambil tas unnicron berwarna merah muda itu.


" Yeyyy terimakasih ayahh ". Senang Dey menjingkrak-jingkrakkan kakinya.


---


' Bruk '.


" HAI!! ". Sewot Vin ke seorang gadis yang terlihat lebih muda darinya.


" Ma-maaf... ". Kata gadis itu yang habis menjatuhkan barang-barang dari rak, lalu membereskan semua barang-barangnya dengan sangat tergesa-gesa. Ketika gadis itu langsung berdiri dan hendak pergi.


" WOOYY!! ". Menarik rambut panjang teriyap gadis itu.


" Auuww ". Gadis itu langsung terjatuh karena tak seimbang dengan badannya yang lebih kurus dan kecil dibanding Vin.


" Ya ampun. Gitu doang jatoh ". Langsung menyodorkan tangan kanannya.


" Iisshh hiks hiks hiks ".


" Lho! Hai, kenapa? aku gak bermaksud menjatuhkanmu ". Vin langsung jongkok dan memegang pundaknya.


Ya ampunn sesakit apa sih ditarik rambutnya! Lebay deh! Batin Vin melihat gadis itu yang berada dihadapannya.


" Gue... gak mau... gue gak mau... ". Tangisnya tanpa Vin tahu sebabnya.


" Apanya yang gak mau? ". Bingung Vin langsung the to point dan melepaskan sentuhan tangannya dari pundak gadis itu.

__ADS_1


" Gak mau... gak mau sekolahh ". Teriak isakan gadis itu.


" Ha? S-sekolah? memang kenapa?! ". Kaget Vin langsung duduk di depan gadis itu yang masih meringkuk.


" Gue... benci sekolahh... gue BENCIii... sekolah!!! ". Teriak gadis itu ke wajah Vin.


" MEMANG KENAPA!! ". Kesal Vin lagi dan langsung mendorong gadis itu sampai terjungkal.


" Huaaaa 😭😭 hiks hiks ". Gadis itu langsung menangis makin kejer.


" Eehhh... sorry sorry... ". Reflek Vin langsung cepat menolongnya lagi.


" Lagian... kamu... Eh! lo... ngapain sih pake teriak ke muka gue ". Omong Vin sambil membantu gadis itu untuk berdiri.


" Maaf... karena gue lagi kesel sama orang tua gue... jadi gue cepet marah, apalagi elo yang tiba-tiba narik rambut gue, dan terus lo malah dorong gue lagi... ". Gadis itu berhenti menangis dan malah bercuhat kepada Vin.


" Ooohhh. Ewwmmm... tapi kalo boleh tau, emang lo kenapa gak mau sekolah? kenapa lo benci sekolahh? ". Penasaran Vin.


" Itu... karenaa gue selalu dibully disana... ". Gadis itu langsung menundukkan kepalanya dan wajahnya langsung tertutup dengan rambut panjangnya.


" Hiii ". Nyiyir Vin.


" Kenapa lo jijik sama anak yang suka di bully? ". Gadis itu sedikit mendongak dan wajahnya tak terlihat, karena masih tertutup dengan rambut panjang hitamnya hanya terlihat mata kanan dan hidungnya.


" Bukan... gue... serem ngeliat lo, habis gue kayak pernah lihat lo di televisiπŸ“Ί tapi... yang di televisiπŸ“Ί banyak darahnya, kalo lo gak ". Lagi-lagi dengan sangat jujur Vin tak segan mengatakan hal yang sebenarnya.


" Hooo... ". Gadis itu mengangguk-anggukan kepala dan


" Hi hi hiiiiiii.... ". Ia malah sengaja menakuti Vin dengan rambut panjangnya itu.


" Kassaarr ". Marahnya.


" Salah sendiri nakutin ". Ketus Vin.


" Hooo oohhh.... Lo takut yaaa?? ". Ledek gadis itu langsung mendekat lagi ke Vin, Vin pun kabur dari gadis itu agar ia tidak melakukan hal kasar padanya.


" Hihihiiii.... mau kemana kauuu ". Ledek gadis itu yang tetap tak menyerah agar membuat Vin takut.


Tapi tak lama gadis berambut hitam panjang itu menyerah juga.


" Haii, gondrong. Sudahlah gue cape nihh ". Gadis itu langsung menguncir rambutnya.


" Gak... gak mauu!! ". Teriak Vin.


" Aiisshh, kenapa teriakkannya malah ngikutin gue sih? ". Gadis itu berlari menghampiri gema suara Vin. Dan ternyata Vin memang benar-benar mengikuti, teriakkan gadis itu.


---


" K' Vinnn... tapi bukankah K'Vin yang mau sekolah? ". Bingung Dey.


" Gak... mauu!! Gak mau sekolah!! ".


" Memang kenapa? jelaskan sama ayah, kenapa kamu berubah pikiran? ". Memegang pundak Vin untuk menyakinkannya.


" Itu karena,,, ". Pembicaraan Vin terputus.


" Karena gue ingin satu sekolah sama lo gondrong ". Tiba-tiba gadis itu muncul dan menunjukan wajah sebenarnya.

__ADS_1


" Hah? ". Vin mengangkat kedua alisnya karena bingung serta kaget.


" Memang kamu siapa? ". Tanya sang ayah.


" K' Vin... hebat. K..k... sudah punya teman perempuan, Dey saja belum ". Cengir Dey dan lagi-lagi matanya berbinar-binar bahagia.


" Hehe, iya. Aku teman barunya gondrong, namaku Falleysia. Eemm... panggil saja Eysi(dibaca ei-si). Oke ". Eysi mengedipkan mata sebelahnya ke Vin.


" Baiklah. Terserah kamu saja Vin, kamu mau sekolah apa tidak. Ayah hanya mendaftarkan Dey dan teman barumu ini ". Kata sang ayah berpura-pura marah dengan Vin. Tapi Vin tetap menghiraukannya, mereka terdiam dengan cukup lama... lama... alias sangatlah lama.


Mereka saling diam, tidak ada satupun yang mau ambil bicara terlebih dahulu. Waktu semakin berjalan.


πŸ•


πŸ•‘


πŸ•’


πŸ•“


πŸ•”


Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Mereka terdiam di tempat duduk di samping toko yang berada di dalam pasar tradisional itu.


Sudah berjam-jam hanya Vin yang tetap berdiri di dalam toko, tanpa bergerak sekalipun.


" Ayollaaah K'Vin... jangan lama... aku mau sekolah bareng k..k... ". Rengek Dey sambil menghampiri sang kakak, dan memegang tangan kiri Vin sambil menggoyang-goyangkan.


" Oohh jadi nama lo Vin. Tapi... kayaknya gue lebih seneng manggil lo gondrong deh, hehe😁. Boleh ya?? ". Ledek Eysi yang juga menghampiri sang manusia robot gondrong, Vin.


Tapi alhasil Vin hanya tetap terdiam garang dengan menyatukan kedua alisnya, dan ekspresi datarnya itu. Membuat banyak orang takut dengan ekspresi datarnya itu, karena akan membuat wajahnya semakin garang.


" Ya sudah... kalau kamu tidak mau sekolah. Lebih baik yuk Dey, Eysi belanja perlengkapan kalian duluan ". Hela nafas sang ayah telah menyerah, ia juga sedikit melirik ke sang anak yang memiliki ego yang tinggi. Terlihat wajah Vin masih terlihat gengsi kepada mereka.


" Eysi boleh juga om? Yeeyy asiikkk ". Teriak Eysi yang umurnya tak jauh dari Dey(adik Vin).


" Iya. Tentu ". Senyum sang ayah.


" Yeeyy ayo kamu. Kamu Dey kan? ayo ikut aku, kita belanjaa ". Senang Eysi, ia langsung menarik tangan Dey. Dey pun berlari mengikuti jejak teman kakaknya itu.


Sedangkan sang kakak hanya memberengutkan dahinya. Tetap memilih dirinya untuk terdiam dan cemberut.


Ternyata kamu terlalu gigih, nak. Kamu lebih memilih sifat yang egois dan keras kepala. Batin sang profesor yang masih melirik ke arah robot manusianya itu.


**Continued


_______________________________________


Like 🌟


Comen πŸ’¬


Share πŸ“€


and be a


Royal Readers πŸ‘€**

__ADS_1


__ADS_2