Robot The Humans

Robot The Humans
Tanggal Merah


__ADS_3

" K'VIN! Sekolah sekolah sekolah ". Seperti biasa Dey membangunkan sang kakak dengan beranjlut-anjlutan di kasurnya.


" HOOAAHH ". Vin mengulet dan langsung terbangun.


" Terimakasih, Dey ". Omong Vin sambil mengacak-acakkan rambut Dey.


" Sama-sama... Oh, iya. K'Vin, ayo kita mandi habis itu ketemu teman-teman, rasanya gak sabar bangeett nih ". Senang Dey yang mengikuti Vin, yang sedang mondar-mandir mengambil perlengkapan mandinya.


" Iya. Aku gak sabar melihat untuk kedepannya, ketika aku nanti menciptakan robot dari manusia sendiri. Aku cinta robot ". Jawab Vin tak nyambung.


" Ha? K'Vin suka robot? ". Bingung Dey, sambil mengikuti sang kakak ke kamar mandi.


Sambil membuka baju Vin bertanya.


" Kamu pilih mana Dey, Robot atau Boneka? ". Pertanyaan yang sangat aneh bahkan membingungkan.


" Eee... ayah gak suka kedua, K'Vin ". Jawab Dey dengan polos.


" KAMU!! BUKAN AYAH!! KAMU PILIHNYA YANG MANA!! PILIHLAH JAWABANMU SENDIRI!!! ". Bentak Vin melototi Dey. Dey ikut melotot karena kaget.


" B-baiklah. Aku pilih... Eee keduanya ". Cengir Dey di dalam bak mandi yang masih kosong.


" Kenapa pilih keduanya? ". Tanya Vin lagi sambil menunjuk dengan dagunya.


" Karena boneka itu menggemaskan, imut, dan lucu. Sedangkan robot aku juga suka! karena... aku bisa berbicara bersama dengannya ". Senyum Dey.


" Berbicara dengan robot? ". Bingung Vin sekaligus kaget.


" Iya, kemarin temanku diam-diam membawa mainan robot yang diberi batrai, lalu gak tau kenapa robot itu terdeteksi di penglihatanku. Robot itu jadi mengingatkanku dengan Jessie ". Curhat Dey.


" Oohh ". Jawab Vin singkat. Akhirnya mereka segera mandi, memakai seragam, dan makan.


---


Setelah sudah siap, waktunya makan.


" K'Vin. Ayah mana? ". Tanya Dey celingak-celinguk kiri kanan.


" Hm ". Vin mengangkat bahu dan memayunkan bibirnya. Seperti biasa gerakan itu untuk jawaban 'tidak tahu'.


Ketika mereka sedang makan dari makanan kulkas, dan sudah di hangatkan pada diri masing-masing. Sang ayah pun muncul dari ruangannya.


" Itu ayah! ". Tunjuk Dey langsung berlari dan memeluk sang ayah yang baru keluar dari ruangannya.


Tunggu sebentar! Kaget Vin menatap ruangan sang ayah yang masih terbuka sedikit.


Ruangan itu!! Bukankah dulu??... aku pernah memasuki ruangan itu, ya? Tanyanya sendiri.


Tapi kapan? dengan siapa? sepertinya sih sama ayah... tapi entahlah. Batin Vin sambil berpikir keras, dan menatap laboratorium milik sang ayah.


" Dey, Vin. Ngapain kalian rajin banget sih? ". Omong sang ayah tiba-tiba.


" Memang ayah, gak bilangin ke kalian ya? ". Tanya sang ayah.


" Apa ayah? aku gak tau tuh ". Jawab Dey sambil memikir ke atas.


" Iya. Apaan emang yah? ". Jawab Vin juga, yang sudah tersadar dari lamunannya.


" Hari ini tanggal merah tauu, nak. HahaπŸ˜† kalian ini, lucu. Lho! ". Tawa sang ayah dengan geli.


" Tanggal merah artinya kalian libur, ayah saja libur. Ya... walaupun sebenarnya gak libur, tapi ayah ingin tunjukkan sesuatu ke kalian berdua ". Sambung sang ayah sambil tersenyum kecil alias tahan tawa.


" Lalu kapan kita masuk lagi? ". Tanya Vin.


" Besok. Tanggal merahnya, hari ini doang kok ". Senyum sang ayah lagi.


" Ikut ayah yuk. Dey, Vin kita lihat teras ada apaan ". Ajak sang ayah menarik kedua tangan manusia robotnya ke teras rumah.


" Emang ada apa, ayah? ". Penasaran Dey.


" Itu ". Tunjuk sang ayah. Dengan lirikan matanya ke box besar.

__ADS_1


" Wooowww!!!! ". Teriak kedua manusia robot itu.


" Ini. Untuk kalian... saling berbagi ya ".


Vin and Dey tak mendengarkan kata Sang ayah, mereka langsung merobek sampul kardus besar itu dengan semangat.


Pasti 100 mobilan keren😍. Batin Dey menebak isi kardus tersebut.


Aku yakin ini mainan mobil untuk kami 😎. Batin Vin percaya diri, ia juga beranggapan sama dengan Dey.


'SREEGGG'


Robekan terakhir pun terbuka. Ternyata tebakan mereka salah.


" Fiiuuhh ". Lelah Dey mengusap air keringatnya. Sedangkan Vin terdiam, terpandang dengan hadiah itu.


" Satu ". Kata yang di keluarkan dari mulut Vin.


" Kan ayah sudah bilang saling berbagi, nak ". Omong sang ayah pelan.


" Ha? berbagi? ". Bingung Dey juga sambil menatap hadiah itu.


" Caranya? ". Bingung Vin sambil berpikir.


" Berpikirlah sendiri, Vin ". Omong sang ayah sedikit menepuk pundak Vin, lalu pergi menyerahkan itu semua kepada Vin.


Ini gak masuk akal, ini bukan kue! Bagaimana caranya membagi?? Barangnya pun hanya satu, apa yang harus di bagi? Bingung Vin masih tak menyangka dan sedikit kesal.


" Ini punyaku! ". Dey memeluk joke pada bagian hadiah itu.


" Yasudah silakan. Aku juga tak bisa memainkannya ". Ucap Vin santai, perlahan ia berbalik badan. Seketika hatinya berkata.


Memang benda apa itu? Sambil melirik ke hadiah tersebut.


Memang benda apa itu? . Seketika penglihatan Vin, berubah lagi. Seperti biasa keluar layar internet Mbah Google.


' Sepeda. Sepeda adalah kendaraan beroda dua atau tiga yang mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang di gerakkan kaki untuk menjalankannya '. Jelas mbah Google.


" Tapi, kata K'Vin? tadi bilangnya silakan aja, K'Vin juga gak bisa maininnya kan ". Ledek Dey.


" Gak! Kata siapa?! Tadi aku gak bilang gitu!! ". Marah Vin tak mengaku.


" Isshh ini aku duluan. Aku bisa cara maininnya!! ". Teriak Dey sambil memayunkan bibir.


" Memang bagaimana caranya?!! ". Teriak Vin juga sambil mengerutkan dahi.


" Ini namanya sepeda. Sepeda adalah kendaraan beroda dua atau tiga yang mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya. Sepeda ini tanpa mesin, jadi mengayuhnya secara manual ". Jelas Dey sedikit berbeda dengan pemikirkan Vin sendiri.


Apa!? Ke-kenapa ia lebih bagus pemikirannya di bandingku? Kaget Vin dalam hati.


" Yaa... E-emang sepeda ini tanpa mesin ". Gugup Vin merasa payah.


" Lalu cara membaginya, apa K'Vin tau? ". Tanya Dey penasaran.


Aku gak boleh kalah dengannya. Enak aja Dey lebih hebat dariku! Dia kan harusnya berumur 5 tahun. Masa aku kalah dengan anak kecil! Batin Vin kesal.


" Tau ". Jawab Vin pede.


" Apa? kalau aku gak tau, K'Vin ". Tanya Dey sambil penasaran disertai dengan mata yang berbinar-binar.


APA??!! TERNYATA DEY GAK TAU?!! GHIIAAA... HARUSNYA AKU JUGA BILANG KAYAK GITU!!! Batin Vin meluap-luap.


" Cih! Gitu doang gatau? ". Sombong Vin.


" Sini Dey, lihat ". Rangkul Vin.


" Lihat sepeda itu, Dey. Sepeda itu punya pengayuh dua kan? ". Atur Vin menyuruh Dey melihat sepeda itu.


Aku gak boleh memalukan di depannya. Bagaimana pun aku sudah bilang 'tau' cara membaginya. Enak saja aku kalah lagi dengannya! Batin Vin tidak mau malu.


" Kenapa K'Vin? Emang ada dua pengayuh ". Jawab Dey cerdik.

__ADS_1


" Aiishh. Maksudnya dengan dua pengayuh itu, berguna untuk kita berdua. Jadi sepeda ini tinggal di belah menjadi dua, sarang satu dapat sepeda, seperti layaknya kue... kalau dibagi harus dengan di belah. Lalu,,, ". Penjelasan Vin terputus.


" Tunggu tunggu. Tadi kata pemikiran aku (mbah Google) itu, sepeda ini dapat berjalan apabila pengayuhnya sepasang K'Vin, sepasang itu berarti dua ". Jelas Dey lagi.


" Iihhh, memangnya Dey tau darimana? πŸ˜„ sepasang itu artinya dua? ". Tanya Vin tak percaya.


" Iya tau dong. Emang sepasang itu, sama arti dengan berpasangan, berdua, yang dalam dalam intinya adalah dua, K'Vin ". Jelas Dey yang ketiga kalinya.


" Iya tau... maksud K'Vin, kamu tau darimana??! ". Gereget Vin.


" Pemikiran aku ". Jawab Dey polos.


" SOK TAHU!! Hhuu ". Sinis Vin kesal dan sedikit menyoroki Dey.


Dari pemikiran? Cih!! Dasar... gak masuk akal, masa harus sepasang pengayuh! Satu saja kan udah cukup. Bilang aja kamu yang pengen kan. Batin Vin menatap Dey dengan wajah garangnya.


" Benar. Kamu benar Dey ". Sambar sang ayah yang mendengarkan percakapan kedua manusia robotnya.


" Aku benar yah!!?? ". Kagum Dey sendiri seperti biasa matanya langsung berbinar-binar, menandakan kebahagiaan dan penasarannya.


" AYAH! ITU GAK MASUK AKAL... Vin lah yang benar ". Marah Vin merasa tak adil ini semua.


" Tentu masuk akal Vin. Pengayuh ini dikendalikan dengan kakimu yang juga mempunyai dua pasang kaki, kaki kiri dan kaki kanan. Kalau satu bagaimana cara menjalankannya? ". Nasehat sang ayah sekaligus bertanya ke Vin.


Vin berpikir sejenak. Ia lamunankan dalam beberapa menit, dan akhirnya ia tahu memang harus begitu. Sepeda memang membutuhkan sepasang pengayuh, pengayuh itu di gerakkan dengan sepasang kakinya.


" Sudah tau kan sekarang? pengayuh itu memang memiliki sepasang atau dua ". Omong sang ayah mengecilkan volume suaranya.


" Tau ayah! ". Jawab mereka serempak.


" Terus, yah. Cara baginya bagaimana? ". Tanya Vin masih belum menemukan jawabannya.


" Lihat ya Dey, Vin... lihat sepeda ini. Sepeda itu punya joke berapa? ". Tanya sang ayah merangkul kedua manusia robotnya di kiri dan kanan lengannya.


" Joke? apa itu joke? ". Tanya Dey sedikit memiringkan kepala ke kanan.


" HAH!! AYAH AYAH!! AKU TAHU! ". Teriak Vin langsung loncat-loncat sambil menunjuk tangan.


Inilah kesempatanku!! giliran aku yang menjawab. Senyum Vin tipis.


" Iya iya tenang... yaudah sekarang ada berapa joke, Vin? ". Jawab sang professor menenangkan kehebohan Vin.


Kali ini pasti aku yang paling hebat. Sombong Vin melirik ke ekspresi polosnya Dey.


" Ayo berapa? ". Tanya sang ayah menyadarkan Vin yang sedang melamun.


" Dua! ". Jawab Vin... dan Dey.


Apa!! Kenapa?? Dey... GHIIAAA... . Sebal Vin menatap kaget ke arah Dey. Dey juga menatap Vin, tapi dengan tatapan bingung.


" Benar... ". Kata sang ayah menepuk tangan.


" Karena ini dua. Artinya... kalian bisa berbagi kan? ". Senyum sang ayah senang.


Vin akhirnya mengerti apa yang dimaksud sang ayah, yang meminta berbagi walau tak dibagi / dibelah.


Sebaliknya dengan Dey yang juga langsung memahami, hari itu... Hari yang mana mereka baru mengetahui sepeda, dan tahu bagaimana cara memainkannya alias mengendarainya. Di pagi menjelang siang Vin dan Dey belajar mengendarai sepeda dengan bergantian.


Senang bisa melihat mereka akur. Senyum sang ayah menatap kedua manusia robotnya mempelajari sepeda dengan sangat cepatnya.


**Continued


_______________________________________


Like 🌟,


Comen πŸ’¬,


Share πŸ“€,


and be a

__ADS_1


Royal Readers πŸ‘€**


__ADS_2